26 April 2025

Bencana Bulanan: Ujian atau Teguran?

 Bencana Bulanan: Ujian atau Teguran?

    

    Bencana alam menjadi topik yang tak habis dibicarakan oleh masyarakat Sumatera Barat sejak awal Maret hingga saat ini. Kabar duka karena bencana datang silih berganti, seolah tak ada habisnya. Kita mendapatkannya dari media sosial, surat kabar, hingga surat edaran pemerintah tentang masa tanggap darurat bencana.


    Hal ini bukan semata-mata menjadi perhatian karena banjir yang merendam beberapa daerah di Sumbar awal Maret lalu, tetapi juga seolah menarik perhatian masyarakat, bahwa bencana ini bukan pertama kali terjadi. Di awal tahun ini saja, sudah ada tiga bencana yang terjadi berturut-turut sejak Januari hingga saat ini. Mulai dari longsor di Agam yang terjadi di bulan Januari, banjir bandang yang menyapu Tanah Datar yang terjadi di bulan Februari, hingga meletusnya gunung Marapi dan banjir yang merendam beberapa daerah di Sumbar pada awal hingga akhir Maret lalu.

    Tentu saja hal ini menjadi perhatian masyarakat luas, bukan hanya masyarakat Sumatera Barat saja, tetapi juga sudah menjadi berita dan headline di tingkat nasional. Jika kita mencari berita kebencanaan yang terjadi di awal tahun 2024, salah satu sumber berita kebencanaan yang paling banyak, datangnya dari Sumbar. Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), dalam rentang waktu 4-10 Maret saja, sudah lebih dari 30 kejadian bencana terjadi di Sumbar.

    Sejak awal tahun, cuaca ekstrem memang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Beberapa di antaranya yaitu di daerah Jawa Tengah, NTB, hingga Sumatera Barat, yang berdampak pada terjadinya banyak bencana alam seperti longsor dan banjir. Tak heran, mengingat Indonesia merupakan negara ‘langganan’ bencana, karena berada pada ring of fire, atau kawasan api pasifik yang membuat negara kita sering diguncang gempa dan disapa tsunami.

Bencana Yang Tak Kunjung Sirna
    Bencana datang silih berganti, seakan tak memberi ruang untuk bernapas. Lantas, apakah ini ujian, atau justru teguran? Mungkin hal ini yang harus direnungi oleh semua unsur masyakarakat, mulai dari ‘akar rumput’, hingga pemangku kepentingan yang duduk di kantor-kantor pemerintah pemilik mobil berplat merah.

    Memang, kita tidak bisa serta-merta mengaitkan semua bencana yang terjadi dengan urusan agama. Tetapi, tak ada salahnya juga bencana yang menimpa dijadikan pelajaran, atau dalam bahasa Arab disebut dengan Ibrah. Terlebih lagi, melihat fakta bahwa masyarakat Sumatera Barat cukup konservatif dalam beragama, dan nuansa keagamaannya sangat kental dibanding masyarakat di daerah lain. Dengan slogan “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”-nya, menjadikan masyarakat Sumbar tak dapat dipisahkan dengan agama.

    Jika dilihat sebagai ujian, maka sudah selayaknya kita sebagai hamba berhusnuzan kepada Sang Pencipta. Sesuai janji dalam kitab suci-Nya, bahwa Ia tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan mereka. Akan tetapi, tidak ada salahnya juga jika kita mencoba melihat dari sudut pandang yang lain, memandang bahwa ini merupakan teguran dari-Nya. Mungkin saja, kita terlena, lupa, dan terlalu fokus dengan dunia, sehingga kita melupakan-Nya.

    Pendidikan keagamaan dan kealaman sudah diajarkan sejak dini oleh para Ninik-mamak dan Bundo kanduang di masyarakat Minang. Salah satu ajaran pentingnya yaitu menjaga keseimbangan alam dengan senantiasa menjaga tindak-tanduk dan perilaku, baik itu menjaga ucapan, pikiran, maupun perbuatan. Ajaran inilah yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Karena pada dasarnya, masyarakat Minang tidak memberi perhatian khusus atau mengangungkan suatu kenampakan alam tersentu seperti gunung, danau, hutan dsb. untuk ‘dikeramatkan’, malah justru kenampakan alam yang kaya di Sumatera Barat ini dipandang sebagai bukti nyata dari keagungan Tuhan, dan harus dijaga sebagai bukti penghambaan kita kepada-Nya. Yang salah adalah orang-orang yang mengkultuskan suatu tempat, dan mengaitkan segala bencana dengan hal-hal mistis yang tidak berdasar kepada bukti-bukti ilmiah dan agama.

Dimana Pemerintah?
    Setiap kali terjadi bencana, seolah memang sudah menjadi template-nya, masyarakat terbelah menjadi banyak kelompok. Ada yang dengan sigap menggalang dana dan menyingsingkan lengan, membantu turun ke lapangan menjadi relawan, hingga masyarakat yang sibuk mengaitkan berbagai bencana dengan ramalan dan ajian-ajian mistis, seakan-akan bencana itu sudah tertulis puluhan ribu tahun sebelumnya. Kelompok yang paling parah, yaitu orang-orang yang mengaitkan bencana alam yang terjadi dengan politik. Mereka mengatakan bahwa bencana ini terjadi karena kecurangan pemilu, ketidakadilan, hingga hilangnya dukungan masyarakat terhadap paslon tertentu. Miris sekali melihatnya.

    Seolah bukan merupakan kerja bersama, perihal bencana diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Terlepas dari tugas dan tanggungjawab pemerintah dalam menyediakan bantuan kepada masyarakat ketika bencana, banyak orang seringkali lupa, bahwa ada keterlibatan dan tanggung jawab mereka juga di sana. Pertanyaan yang selalu terlontar ketika bencana adalah: “Di mana peran pemerintah?”.

    Menjawab hal itu, pemerintah daerah –dalam hal ini Pemprov Sumbar dan Pemkab/Pemkot terkait- menerjunkan banyak tim dan relawan untuk mengevakuasi korban, dan menampung korban terdampak bencana. Pemerintah setempat tentunya selalu bekerja sama dengan berbagai stakeholder dan organisasi kemanusiaan, seperti BNPB, BPBD, PMI, hingga organisasi-organisasi kemanusiaan lainnya. Hal ini jelas membuktikan bahwa pemerintah tidak diam saja menghadapi bencana yang tak diharapkan datangnya ini. Bahkan, bantuan tak hanya datang dari pemerintah daerah saja.

    Tercatat ada tiga orang menteri yang datang mengunjungi Pesisir Selatan kemarin. Mereka adalah Menteri Sosial Tri Rismaharini, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, hingga Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Turut hadir kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Letjen TNI Suharyanto. Melansir dari infopublik.id, total bantuan yang disalurkan mencapai 250 juta rupiah untuk Pemprov Sumbar, 350 juta rupiah untuk Pemkab Pesisir Selatan, 250 juta untuk Pemkab Padang Pariaman, dan 150 juta masing-masing untuk Pemkab Pasaman Barat dan Kepulauan Mentawai serta Pemkot Padang.

    Meskipun begitu, masih banyak masyarakat yang seolah tak puas dengan bantuan yang diberikan. Mereka menuntut lebih, menuntut hunian tempat tinggal, kebun-kebun, ternak, serta parak karambia milik mereka segera diperbaiki. Padahal, fokus utama bantuan bencana yang diberikan pemerintah daerah dan pusat adalah untuk pemulihan pasca-bencana, seperti pemulihan ekonomi, infrastruktur publik, dan banyak fasilitas kesehatan hingga pendidikan yang terdampak.

Penanggulangan Bencana Kerja Bersama
    Seharusnya, masyarakat tidak hanya diam dan berpangku tangan, duduk termenung menunggu huluran tangan dan bantuan saja. Masyarakat juga harus proaktif dan melakukan langkah-langkah preventif untuk meminimalisir dampak yang diakibatkan oleh bencana alam. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, pulau Sumatra memang kerap digoyang bencana. Hal ini seharusnya membuat masyarakat sadar akan bahaya yang akan ditimbulkan jika tidak ada langkah-langkah konkret untuk menanggulanginya.

    Masyarakat harus bekerja bersama pemerintah dalam mewujudkan masyarakat tangguh dan sadar bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai dan daerah rawan bencana seperti bantaran sungai. Pemerintah juga perlu lebih gencar merealisasikan program-program penanggulangan bencana; di antaranya yaitu perekrutan dan pelatihan kader relawan, membangun lebih banyak kampung tangguh bencana, dan menyediakan hotline dan fasilitas-fasilitas yang memadai. Perlu diingat, bahwa tidak ada yang mengharapkan terjadinya bencana alam, dan penanggulangan serta pemulihan pasca bencana merupakan kerja kita bersama.

22 April 2025

Jadilah Mesin Tik, Bukan Mesin Fotokopi!

 




“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama Ia tak menulis,
Ia akan hilang dalam masyarakat”

-Pramoedya Ananta Toer-

Kita pernah mendengar sebuah pepatah yang berbunyi “Buku merupakan jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya”. Pepatah ini terpampang di banyak tempat, di sudut ruang-ruang kelas, perpustakaan, gerbang sekolah, hingga bertebaran di ruang-ruang publik.

Tetapi, benarkah demikian? apakah benar setumpukan lembaran-lembaran berjilid, tersampul, dan terpampang rapi di rak-rak toko nan bermerek itu merupakan jendela dunia? Benarkah benda yang disebut “buku” itu mampu mengguncang dunia? Apa benar membaca merupakan kuncinya?  

Dahulu, sebelum benda bernama “buku” itu ada, manusia menulis pada benda-benda yang disediakan Tuhan di alam. Mereka memahat batu dan dinding gua, menggores kayu-kayu dan pelepah tanaman, hingga menyamak kulit hewan. Hingga akhirnya manusia mengenal kertas –yang di kemudian hari berkembang menjadi buku- dan budaya tulis-menulis; dari Cuneiform (huruf paku) di Persia, Hiroglif di Mesir, hingga Hanacaraka dan Kaganga di Nusantara; tradisi menulis tetap hidup, tak hanya menorehkan goresan, tetapi juga membawa gagasan bagi masa depan manusia.

Nampaknya memang sahih jika dikatakan buku merupakan jendela dunia. Benda berjilid berisi ratusan –bahkan ada yang mencapai ribuan- kertas itu bukan hanya digunakan manusia untuk sekadar menjadi teman duduk saja. Bagi para pujangga, ia menjadi ladang inspirasi. Bagi para akademisi, ia menjadi tambang referensi.

Memang betul, orang-orang besar menulis, dan mereka menghasilkan banyak buku. Lihatlah Pramoedya Ananta Toer dengan Tetralogi Pulau Buru-nya, Anne Frank dengan buku catatan hariannya, Buya Hamka dengan Di Bawah Lindungan Ka’bah-nya, hingga Soe Hok Gie dengan Catatan Harian Seorang Demonstran-nya.

“Verba Volant, Scripta Manent” (Kata-kata lisan terbang, sementara tulisan menetap). Senada dengan potongan lirik lagu “Ace Base – Happy Nation” yang berseliweran di Instagram dan Tiktok, “A man will die, but not his ideas.” (Seseorang akan mati, tetapi tidak dengan idenya).

Cukup sudah hanya duduk manis, diam termangu dan mengangguk-angguk saja. Sekarang waktunya bergerak, berpikir, menulis, dan meninggalkan jejak. Tugas kita bukan hanya sekadar menjadi pembaca pasif saja, tetapi juga penulis aktif. Jangan menjadi mesin fotokopi yang hanya membaca dan menyalin saja, tetapi jadilah mesin tik yang menghasilkan sebuah tulisan dan karya. Dunia tak hanya butuh pembaca, dunia butuh penulis.

Tak heran, wahyu pertama yang turun yaitu iqra’ (bacalah), yang merupakan fi’il amr (kata kerja perintah) dari kata qara’a (membaca). Kalau dalam salah satu hadis Nabi disebutkan “Ummuka, Ummuka, Ummuka, tsumma Abuka”, maka dalam konteks ini, mari kita ubah menjadi Iqra’, Iqra’, Iqra’, tsumma Uktub (bacalah, bacalah, bacalah, kemudian tulislah). Bukankah sia-sia ilmu yang hanya disimpan di dalam kepala dan tak dituliskan? Bukankah Ia sendiri yang mengancam kita melalui sabda Nabi-Nya?

J.S. Khairen mengatakan, “Seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang rakus”, sedangkan Najwa Shihab mengatakan, “Hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta”; karena sejatinya, semua buku bernilai sama. Semua buku memberikan sedikitnya satu hal baru bagi pembaca. Entah itu buku fiksi maupun non-fiksi. Buku non-fiksi membentuk gagasan dan nalar, sementara buku fiksi untuk membentuk imajinasi dan menyentuh hati.

Terbukti, buku bukan hanya merupakan jendela dunia, tetapi juga merupakan jendela menuju dimensi lain, dimensi yang tak hanya terikat batas dan waktu; bukan hanya masa lalu, tetapi juga imajinasi dan masa depan. Melalui buku, kita bisa melihat masa lalu, membaca masa depan, dan menjelajah dunia imajinasi dan ide orang lain.

Maka dari itu, jangan hanya membaca, tapi juga mulailah menulis. Sang Nabi memulai risalahnya dengan Iqra’, tapi tak berhenti di sana, risalah itu dituliskan, dijaga, dan diwariskan. Read Everything, Write Anything. Mari membaca, mari menulis. Mari tinggalkan jejak untuk masa depan. Untuk kemajuan ilmu pengetahuan, untuk kebaikan, dan untuk peradaban.


Tulisan ini merupakan buah pikiran dari sesi menulis bebas selama satu jam pada SLC 2025. Beberapa bagiannya sudah direvisi, sementara bagian lain tetap mempertahankan ide dan narasi yang sama. 

Oiya, "Read Everything, Write Anything" merupakan bio Instagram saya. Kalau tidak percaya, cek saja sendiri di @hafidzarrizki.
Sekian. []


'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...