25 Juni 2025

Air yang Keruh

        Sumber yang keruh, menghasilkan air yang keruh pula. Apalagi jika pipanya berkarat, wah, lengkap sudah. Di kampus, tidak semua dosen mampu mentransfer ilmu dengan baik, begitupun dengan sumber-sumber yang mereka miliki.

        Tak sedikit mengutip sumber yang keliru, dengan berbagai saltik (salah ketik) sana-sini, dan bumbu begitu-begini. Hasilnya? Mahasiswa nurut saja. Intinya, sami’nā wa aṭa’nā (kami dengar dan kami taat). Nilai nomor satu, benar-salahnya wallāhua’lam. Seakan-akan memvalidasi “kebenaran hanya milik Allah saja”.

        Dosen tak crosscheck, mahasiwa malas recheck, cocok. Pola seperti ini yang membuat pendidikan kita begitu-begitu aja. Stagnan, tiada perubahan. Yang berubah hanya gaya mengajar dan outfit belajar, sisanya sama. Membosankan.

        Tak heran, jika banyak mahasiswa yang lebih memilih mendengkur dibanding beranjak dari kasur. Betul apa dikata dosen saya, “mahasiswa banyak yang masuk kelas hanya untuk keluar”. Ironi, memang, tapi itulah kenyataannya.

        Dosen lainmelalui tulisannyacurhat bahwa mahasiswa sekarang seperti patung lilin, hanya duduk dan tersenyum. Ketika ditanya, diam seribu bahasa. Padahal dosennya sudah semangat mengajar. Sayangnya, tak semua dosen punya niat mengajar dan semangat belajar.

As simple as search the materials on Google, copy, and then paste it on power point with tons of writing filling the power point slide.

A kojo mahasiswa? Mandanga, manyalin, mamoto materi (nan salah-salah) se. Siap tu? Lalok se lai, ndak ka dibaco gai doh. Intinyo, “kojo den siap.”

        Walhasil, ketika didebat, diajak diskusi, jawabannya “tapi di makalah begini, di power point Bapak begitu, kata Bapak begono.” Kemudian, ilmu itu ditransfer, diturun-temurunkan ke adik-adik yang baru.

        Harus ada yang berani bicara, mengoreksi yang keliru, menjadi filter, sebelum air itu dimanfaatkan banyak orang.

Bak kecek urang minang,

“Rajo alim, Rajo disambah; Rajo zalim, Rajo disanggah”

“Malawan mamak jo pituah, malawan guru jo kaji”.

Say if u’re right.

 

***

Tulisan di atas merupakan kumpulan utas di akun X pribadi saya (@hafidzarrizki). Sebuah refleksi proses pembelajaran dan perkuliahan saya selama empat semester di kampus atas awan ini []

 

09 Juni 2025

Wanita dari Tulang Rusuk?

    Hadis Nabi yang menyatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, seharusnya dipahami dengan bahasa sastra (puisi) sebagaimana latar belakang masyarakat Arab saat itu yang gemar bersastra. Bahasa puisi atau simbol yang dimaksud penyebutan Nabi dengan tulang rusuk, dan bukan tulang kepala atau kaki mengindikasikan bahwa tulang rusuk tentu terletak dekat dengan hati. 

    Dekat dengan lengan maksudnya untuk dilindungi, sedangkan dekat dengan hati maksudnya untuk dicintai. Jadi, wanita itu makhluk yang harus dilindungi dan dicintai. Tidak dekat dengan kepala, karena wanita itu bukan untuk didewa-dewakan dan disembah. Juga tidak dekat dengan kaki, karena wanita tidak layak untuk diinjak-injak dan direndahkan. 


Dicipta Engkau dari rusuk lelaki 
Bukan dari kaki untuk dialasi 
Bukan dari kepala untuk dijunjung 
Tapi dekat di bahu untuk dilindung 
Dekat jua di hati untuk dikasihi 
Engkaulah wanita hiasan duniawi... 

InTeam - Wanita 


Tulisan ini ditulis ulang dari catatan pribadi milik Ayah, yang disarikan dari majalah Ummi No:10/XI Februari-Maret 2000 (Hal. 15)

Hikmah Berkuliah Jauh dari Rumah

(Kampus III UIN Imam Bonjol Padang yang menghadap Samudera Hindia. Dok. Pribadi)

        Tak pernah terlintas di benak saya untuk menjadi mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, lebih-lebih di prodi Bahasa dan Sastra Arab (BSA). Lulusan SMA negeri macam saya ini, malah berani-beraninya banting setir ke ranahnya anak pondok, anak-anak MAN yang sehari-hari berbicara dengan bahasa Arab. Muhaddatsah sudah jadi sarapan mereka, begitupun bahtsul matsail. Sedangkan saya? Hanya tahu sekelumit tentang dhomir, itupun berbekal halaqah rutin malam selasa mengkaji buku Durus al-Lughah al-‘Arabiyyah karya Dr. V. Abdurrahim 9 tahun lalu. Tapi saya bukan satu-satunya, saya hanya salah satunya. Ternyata, ada banyak lulusan SMA/SMK yang juga nyasar di BSA.

        Bisa dibilang, saya mendaftar ke sini karena ketidaksengajaan. Saya termasuk siswa eligible, yang dengan kata lain, memiliki ‘tiket VIP’ untuk bertarung bersama ribuan siswa lainnya di SNBP tanpa mengikuti tes tulis. Sembari menunggu pengumuman, guru BK menyarankan saya untuk mencoba jalur SPAN-PTKIN. Di antara ratusan siswa di angkatan saya, kira-kira hanya 5 orang saja yang berminat mendaftar jalur undangannya anak MAN dan pondok ini, dan saya salah satunya. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya saya memilih 4 prodi di 2 PTKIN, pilihan pertama dan kedua di BSA & HTN (Hukum Tata Negara) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sementara pilihan  ketiga dan keempat di BSA & PAI UIN Imam Bonjol Padang (UIN IB).

Katanya lulusan SMA, kok malah milih BSA dua-duanya?

        Jadi sebenarnya, karena saya bercita-cita menjadi diplomat/duta besar, pilihan prodi SNBP saya yaitu Hubungan Internasional (HI) di salah satu PTN di Padang. Saya memilih salah satu jurusan sastra asing sebagai ‘langkah cadangan’ kalau-kalau tertolak di prodi impian banyak siswa itu. Meski demikian, saya menyadari bahwa saya tidak sepenuhnya berhak mengklaim salah jurusan, toh saya sendiri yang memilih BSA sebagai pilihan pertama di masing-masing UIN; tapi tak juga bisa dikatakan aman, karena pada dasarnya, yang dipelajari di BSA ya memang makanan anak-anak pondok dan MAN. Long short story, saya ditolak kampus impian saja, dan diterima di prodi BSA UIN IB pada April 2023.

        Bicara mengenai kampus impian, dulu saya pernah ‘bersumpah’, kalau saya tidak akan pernah mau berkuliah di Padang kalau bukan di kampus impian saya. Bagaimana tidak? Saya tak bisa membayangkan berada di kota yang sama dengan anak-anak beralmamater pohon beringin itu. Proses move on ini saya jalani cukup lama, dan saya mengalami fase denial juga saat pertama kali memasuki gerbangnya dan menginjakkan kaki di sana. Qadarullah, Allah membawa saya ke sini, di jurusan dan kampus yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Di kampus atas langit, UIN Imam Bonjol Padang.

        Sejujurnya, saya pernah menangis begitu tahu diterima di sini. Selain jauh dari keluarga, hal terparah yang terpikirkan saat itu yaitu saya tidak berkuliah di Jawa. Di saat seluruh siswa dari penjuru negeri berkuliah ke tanah Jawadwipa ini, saya malah merantau ke Swarnadwipa, merantau ke kampung sendiri. Tapi hal yang selalu saya tanamkan dalam benak saya (hingga saat ini) yaitu:

Kalau saya ditakdirkan kuliah di UIN, berarti Allah ingin saya memperdalam ilmu agama, dan saya yakin, pasti ada hikmah yang besar, walaupun saya tak tahu mau ditempa seperti apa saya di sini.

Saya ingat satu ayat yang ditulis di buku catatan kecil saya, dari Qs. Al-Mu’minun/23:29:

Menariknya, ayat ini saya dapatkan dari Quora, pada masa-masa galau akan merantau meninggalkan rumah.

Merantau ke Kampung Sendiri

        Di sini, di kampus ayah yang dulu bernama IAIN IB ini, saya mendapat banyak sekali (malah berkali-kali) hal baru. Bukan saja bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah, tapi juga berbagai latar belakang. Malah ada yang berasal dari Kamboja, yang kini salah satunya menjadi teman sekelas saya. Jika di SMA dulu saya hanya dapat mendengar sepatah dua patah kata berbahasa batak alakadarnya, kini, saya mendengar bahasa itu hampir setiap hari, hampir di setiap sudut UIN.

        Setelah setahun lebih berkuliah di Padang, rasanya nggak buruk-buruk amat. Saya bisa setiap saat berkunjung ke Masjid Raya Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (dulu Masjid Raya Sumbar), melewati Lanud Tabing yang dulu hanya bisa saya lihat di peta, hingga bebas makan nasi Padang yang disebut ampera di sini. Tapi satu hal yang saya sesalkan: saya tak menemukan Jam Gadang di sudut manapun di Kota Padang, just kidding, hahaha. Alhamdulillah saya sudah sempat berfoto di Jam Gadang, menginjakkan kaki di Padang Mangateh di Payakumbuh, dan bertandang ke tanah Istana Pagaruyung di Batusangkar.

        Selain itu, saya juga bisa kapan saja pulang ke kampung Ayah di Tarusan, Pesisir Selatan, melewati 54 KM jalur meliuk membelah perbukitan di selatan Padang, dengan view Teluk Bayur yang selalu menggoda mata untuk memandang dan memotretnya. Tak cukup berfoto, saya bersama teman-teman telah berkemah di kebun teh, dan berendam di dinginnya air Danau Kembar di Alahan Panjang. Semuanya merupakan hikmah berkuliah jauh dari rumah.

     Yang terpenting dari berkuliah jauh dari rumah adalah, saya jadi tau rasanya bersyukur, jadi tau rasanya berjuang, berjibaku melawan ombak kehidupan dan rintangan yang tinggi menjulang. Karena saya tahu, jalan masih panjang membentang, dan perjalanan itu dimulai dari sini, dari tempat yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, yang kini menjelma menjadi rumah kedua


Jalan yang jauh jangan lupa pulang  

Pesan-pesan yang selalu saja terngiang

Ku terbang jauh, kepak tak berbilang

Lewati awan dan angkasa tak berbayang   

Yura Yunita - Jalan Pulang

07 Juni 2025

Mundurnya Calon Dosen Kami

Oleh: Muhamad Hafidz Ar Rizki 

Judul ini terinspirasi dari novel berjudul “Robohnya Surau Kami”, karya A.A. Navis. Bedanya, yang rubuh dan hancur di sini bukanlah surau kami, melainkan harapan kami memperoleh dosen Gen-Z yang catchy dan sefrekuensi. Sayang sekali, mereka mundur sebelum sempat menjejakkan kaki di gerbang kampus.

Mengutip kumparan.com, sebanyak 714 calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengundurkan diri. Dari jumlah tersebut, 61 di antaranya dianggap mengundurkan diri lantaran tidak mengisi daftar riwayat hidup (DRH) sampai batas waktu yang ditentukan, sementara 653 lainnya mundur dengan berbagai alasan. Pengumuman Kemendiktisaintek nomor 5590/A.A3/KP.01.01/2025 menyebutkan, dari 714 CPNS yang mengundurkan diri, sebanyak 628 CPNS berasal dari formasi dosen.

        Bertahun-tahun mencoba masuk formasi, setelah lulus, malah mengundurkan diri. Kira-kira begitulah realitas yang terjadi saat ini. Di saat ribuan orang berjuang mendapatkan 18 digit NIP untuk dicantumkan di bawah namanya, banyak di antaranya malah memilih mundur, turun dari pentas. Mengherankan, bukan? Bukankah ini yang dicari-cari Gen-Z saat ini? Bukankah ini yang didamba-damba para pegawai baru hingga lama? Lantas, mengapa kejadiannya seperti ini?

Rasanya, dulu menjadi seorang pegawai negeri sipil adalah satu hal yang diidamkan banyak orang. Yang muda, yang tua, orang desa, orang kota, semua bermimpi sama: jadi abdi negara. Walau dengan segudang aturan, regulasi begitu begini dan larangan foto berpose dua jari, seragam coklat dan lambang Korpri itu tetap menjadi idaman. Setidaknya untuk beberapa waktu lalu. Tapi kini, tren sepertinya sudah berubah. Bukan hanya velocity, tapi juga mengundurkan diri.

Saya pernah bertanya kepada kawan-kawan saya yang pernah mendaftar menjadi calon abdi negara ini. Saya menanyakan alasan mereka ikut tes, berhitam-putih bersama jutaan pesaing lainnya untuk menyandang status tiga huruf itu. Alasannya mulai dari disuruh orang tua, coba-coba, gabut, hingga benar-benar niat menjadi PNS. Meski demikian, tak sedikit juga yang skeptis, menolak mentah-mentah tawaran ini. Alasannya, “Nanti kalau punya anak, UKT-nya mahal, enggak bisa dapat beasiswa pula.” Ucap salah seorang teman.

Alasan Mengundurkan Diri

Beragam alasan para calon mantu idaman mama papa ini mengundurkan diri. Kalau kata Pak Sekjen Kemendiktisaintek, alasan utamanya karena penempatan yang tak sesuai dengan keinginan mereka. Padahal, di awal pendaftaran mereka mengisi persetujuan untuk bersedia ditempatkan di mana saja, di seluruh penjuru nusantara. Saat sudah diterima? *tringg, *menghilang*. Sepertinya, para CPNS ini harus belajar dari guru Matematika; walau panas terik, hujan badai, angin ribut, mau di manapun dan kapan pun, tetap datang juga. Pantang menyerah walau satu langkah.

Perihal penempatan, memangnya apa salahnya ditempatkan jauh dari rumah? Toh bukannya bekerja juga untuk menghidupi anak dan orang rumah? Bukankah status PNS itu yang menjanjikan hidup layak dan sejahtera? Para CPNS ini, seharusnya bersyukur. Kan sudah diterima, hanya tinggal menunggu pengangkatan saja, to? Di luar sana, masih sangat banyak pegawai yang belum berkesempatan mengecap status pegawai tetap pemerintah ini. Masih banyak dari mereka yang berstatus sebagai pegawai honorer, dibayar perjam, dengan tambahan potongan ini itu.

Apalagi yang mendaftar pada formasi dosen di Kemendiktisaintek. Wah, hilang sudah harapan para mahasiswa mendapat dosen-dosen tetap Gen-Z yang satu frekuensi. Bagaimana tidak, selama ini, dosen-dosen senior masih mendominasi kampus, mengisi ruang-ruang kelas dengan “harus pakai teori ini, dengan metode ini, dari buku ini”. Sementara, mahasiswa saat ini lebih membutuhkan dosen yang catchy, sefrekuensi, dan menghidupkan ruang-ruang kelas dengan diskusi, bukan hanya sekadar berkutat dengan teori.

Hal ini menuai beragam tanggapan dari para warganet yang budiman di X. Ramai yang menghujat, tak sedikit juga yang mendukung. Seperti yang dikatakan oleh akun @achmadnaxxx, “jika tidak niat jadi pegawai, mestinya dari awal saja agar kuota bisa dipakai oleh yang membutuhkan. Jika begini, kan mubadzir”. Begitu juga dengan komentar dari @anovaxxx “…nama lu aje “abdi negara”, kalo gakmau ngabdi lu kerja swasta, jd entrepreneur! Susah emang mental bobrok!”.

Meski demikian, banyak juga yang justru mendukung langkah para CPNS ini untuk mengundurkan diri. Seperti cuitan dari @jonixxx, “udah bener, nggak cocok mundur ketimbang main suap-nepotisme”, yang menyoroti maraknya kasus orang dalam pada proses seleksi abdi negara ini. Lalu cuitan dari @arlandixxx, “sebelum salahkan yang mengundurkan diri, coba cek gaji dan tunjangan mereka untuk hidup ‘di mana saja’ itu bagaimana”. Ternyata, penempatan bukan satu-satunya alasan. Kecilnya tunjangan juga menjadi alasan lain di balik fenomena mundur berjamaah ini.

Netizen tak hanya ribut perkara CPNS yang mundur, ada juga yang mengembalikan hal ini kepada pemerintah. “gaji 2.3 sok-sokan evaluasi, kementerian para b**ingan” ucap @pandamxxx. Ungkapan senada juga diucapkan oleh @luqmanxxx, “tinggal nunggu presiden dan wakilnya kapan mundur, alasannya juga sama. Gk siap ditempatkan di ibukota baru. IKN”. Kalau dipikir-pikir, memang ada benarnya juga. Toh, apakah pemerintah sendiri siap jika ditempatkan di posisi mereka? Seharusnya, memang pemerintah dan sistemnya dahulu yang dibenahi, baru para CPNS yang melamar di berbagai formasi.

Sebuah renungan, mau sampai kapan kita menuruti ego dan keinginan diri sendiri? Segalanya harus kehendak pribadi, sesuai dengan kemauan diri, bukan kemampuan diri. Tuhan sudah memilih kita di antara jutaan pesaing lainnya yang memperebutkan formasi yang sama, tapi malah kita lepas begitu saja.

Kepada Bapak/Ibu CPNS yang terhormat, kesempatan tak datang dua kali. Kemenangan dan keberhasilan itu milik mereka yang mau mengambil kesempatan dan mencari jalan. Ada jutaan orang yang berjuang dengan tujuan yang sama. Membawa asa dan cinta dari keluarga, agar kompor mereka tetap bisa menyala. Tapi ternyata, tak sedikit yang mengkhianati keberhasilan dan kesempatan itu. Berjalan di antara tangisan kekecewaan dan keputusasaan mereka yang gugur.

Semoga di hari esok, kampus punya dosen-dosen yang profesional dan benar-benar mau mengajar. Siap dengan segala serba-serbi dan hiruk-pikuknya, juga dengan segala halangan dan rintangan yang ada. Mahasiswa butuh dosen-dosen yang bertekad membangun institusi pendidikan yang hampir roboh, dari maraknya oknum yang menggerogoti institusi pendidikan itu sendiri. 


Tulisan ini telah tayang di Langgam.id pada 26 April 2025 | 23.41 WIB. 

UTBK: Ujian Tulis Berbasis Kecurangan

Oleh: Muhamad Hafidz Ar Rizki 

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.”
— Mohammad Hatta

        Dilansir dari Tempo.co, pada tahun ini terdapat sebanyak 860.976 peserta ujian tulis berbasis komputer (UTBK) yang tersebar di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Jumlah ini mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang menyentuh angka 785.058 peserta dari berbagai SMA/SMK/MA sederajat.

        Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, peserta UTBK ini berasal dari berbagai kalangan. Bukan hanya siswa-siswi SMA yang tidak terdaftar sebagai siswa eligible dan belum lolos SNBP 2025 saja, tetapi juga mereka yang masih belum mendapat ‘biru’ pada SNBP/SNBT dua tahun ke belakang.   

        Dari tahun ke tahun, UTBK-SNBT seakan menjadi momok bagi para siswa lulusan SMA/SMK/MA se-Indonesia. Bagaimana tidak, perpisahan/kelulusan ternyata bukanlah garis akhir dari perjuangan mereka. Setelah berkutat dengan ujian sekolah, ujian praktik, dan berbagai macam projek, mereka masih harus berjuang untuk sebuah ujian masuk perguruan tinggi negeri, bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang diploma maupun sarjana (D-3/S-1).

        Melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi memang merupakan salah satu pilihan yang tersedia bagi para lulusan SMA. Kelebihannya dibanding bekerja, para siswa dapat mendalami bidang yang mereka minati dari mata pelajaran yang mereka pelajari di sekolah.

        Contohnya, bagi siswa lulusan IPA, mereka dapat memilih jurusan rumpun Saintek seperti Biologi, Kimia, hingga Kedokteran. Bagi siswa lulusan IPS, mereka dapat memilih jurusan rumpun Soshum seperti Ilmu Politik, Hubungan Internasional, hingga Sosiologi.

        Tak hanya itu, bagi lulusan peminatan lainnya seperti Agama, Bahasa, dan juga SMK, tersedia pilihan jurusan yang lebih variatif seperti Sastra, Pendidikan, Teknik, hingga Sekolah Vokasi. Walaupun pada kenyataannya, sangat banyak siswa yang memilih jurusan tidak berdasarkan peminatan mereka di sekolah, sehingga melahirkan “mahasiswa salah jurusan”.

        Perjuangan untuk sampai ke sana tidaklah mudah. Ratusan ribu siswa bersaing untuk menduduki bangku perkuliahan dan menyandang gelar sebagai seorang mahasiswa. Tentu saja, untuk dapat duduk di bangku kuliah, tak didapatkan dengan harga yang murah dan cara yang mudah. Salah satu tahapan yang harus mereka lalui adalah ujian ini.

        UTBK merupakan puncak dari segala bimbel (bimbingan belajar) hingga jutaan rupiah perbulan, kelompok belajar setiap istirahat di sekolah, juga latihan mandiri hingga larut malam. Sayangnya, banyak yang gugur sebelum sampai di gerbang. Ada yang terlambat datang, salah lokasi, hingga tidak mematuhi aturan main.

        Hal lain yang menjadi sorotan setiap tahun adalah kecurangan yang kerap kali terjadi di dalamnya. Berbagai cara dilakukan oleh banyak oknum dan calon mahasiswa dengan berbagai motif dan cara. Tahun ke tahun, metode yang dilakukan pun semakin inovatif. Bukan hanya para peserta, para oknum ini juga ikut belajar. Belajar mencari cara yang paling baik dan efektif untuk mendapatkan soal, kemudian membocorkannya ke kelompok dan grup-grup pembahasan soal UTBK.

        Di antara metode-metode kecurangan yang sudah terbongkar dari tahun-tahun sebelumnya yaitu dengan membawa hp cadangan di sepatu, membuat kertas contekan, hingga memasang kamera di kancing baju.

        Bahkan, jenis kecurangan yang dilakukan di tahun ini semakin menjadi-jadi, bukan hanya sekadar menaruh kamera di pakaian saja, tetapi juga memasangnya di behel gigi. Bahkan parahnya lagi, ada yang sempat melakukan live (siaran langsung) di Instagram.

        Setelah ditelusuri memang benar, tidak semua peserta yang masuk ke dalam ruang ujian tersebut memiliki tujuan yang sama. Meski sebagian besarnya bertujuan untuk lolos ke perguruan tinggi impian, sebagian kecil di antaranya bertujuan untuk membocorkan soal dan jawaban. Hal ini jelas-jelas merusak sistem.

        Para peserta yang seharusnya bersaing secara sehat, fokus dengan ratusan soal di depan layar mereka, kini harus bertambah panjang pula pikiranya memikirkan berbagai kecurangan yang terjadi. Setelah bersaing dengan anak-anak bimbel, kini mereka juga harus bersaing dengan orang-orang curang. Oknum seperti ini yang membuat bimbel dan buku-buku Wangsit seakan tak ada harganya sama sekali.

  Melalui akun X-nya, lembaga Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), @utbk_snpmb mengecam berbagai tindakan kecurangan yang dilakukan, dan menjelaskan bahwa soal pada setiap sesi dan hari berbeda. Bukannya meredakan ketegangan, hal ini justru memancing keributan. Utas ini telah dilihat lebih dari 450 ribu kali, dan dikomentari oleh lebih dari 159 pengguna X.

        Selain mengecam para pelaku tindak kecurangan, warganet juga turut mempertanyakan kinerja lembaga pengawas ujian masuk kampus ini. Pasalnya, dengan uang yang mereka dapatkan dari biaya pendaftaran peserta ujian (satu anak sekitar Rp200.000), kecurangan semacam ini masih saja berlaku.

        Kita takkan pernah tahu siapa yang benar-benar jujur dan bersih, karena di hari pengumuman nanti, yang ada hanyalah hasil tes potensi skolastik, tes literasi bahasa, dan tes penalaran matematika. Sedangkan, tak ada hasil tes kejujuran maupun persentase kecurangan. Pada akhirnya, biarlah Tuhan yang menentukan dan memberi balasan. Kalau kata Roy Suryo, “Gusti Allah mboten sare” (Allah tidak pernah tidur).

        Mari berharap, semoga di masa depan, generasi bangsa bisa dengan lancar dan berhasil mengikuti UTBK. Ujian tulis berbasis kejujuran, kebenaran, dan keilmuan; yang berujung pada kebanggaan karena berhasil mendapat “biru” tanpa kecurangan. Sekian. []


Tulisan ini telah tayang di FokusSumbar.com dan FokusRiau.com pada 22 April 2025 | 17.20 WIB.

Bahasa Indonesia: Bahasa Belanja

Oleh: Muhamad Hafidz Ar Rizki 

“…COKELAT diskon, madu diskon, tas banyak. Jokowi boleh, Anies boleh, Prabowo boleh, Ganjar boleh. Promo, promo, promo!”

        Kalimat di atas sempat viral di jagat maya (khususnya di musim-musim haji), lantaran bukan diucapkan oleh seorang pedagang pasar pagi maupun politisi, tetapi oleh penjual souvenir haji di Tanah Suci, Arab Saudi.

        Banyak yang mengira, bahwa para calon jemaah haji (CJH) akan merasa kesulitan ketika menunaikan ibadah haji dan umrah, karena keterbatasan kemampuan berbicara dalam bahasa Arab. Tetapi, tampaknya anggapan ini salah besar. Hal yang terjadi justru sebaliknya, para tamu-tamu Allah ini tak perlu merasa khawatir, karena bahasa Indonesia menjamur di sana. Ya, sudah jadi bahasa pasar, bahasa untuk berbelanja.

        Hal ini tidak terjadi begitu saja. Bagaimana mungkin, bahasa suatu negeri nan jauh di ujung tenggara Asia ini dikuasai oleh masyakarat –terlebih para pedagang pasar- di Arab Saudi? Mengingat rumpun bahasa yang berbeda, dan juga letak kedua negara yang terpaut 7.889 km jauhnya. Ini membuat banyak orang bertanya-tanya, dari mana kemampuan para pedagang dan pengembala domba ini berbahasa Indonesia. Apakah ini suatu mukjizat? Atau jangan-jangan, memang benar ada Nabi yang berasal dari Indonesia?

        Jawabannya sederhana. Bahasa Indonesia dibawa oleh jemaah asal Indonesia itu sendiri. Selayaknya orang-orang Minang yang membawa Rendang dan budaya Minang ke perantauan (yang di kemudian hari menjadi bahan keributan), orang-orang Indonesia lah yang mengenalkan orang-orang Arab ini dengan bahasa ibu kita. Mereka sudah akrab dengan berbagai sapaan dan istilah, mulai dari frasa sederhana seperti “selamat pagi”, “terima kasih”, sampai “aku cinta Indonesia”.

        Indonesia merupakan negara dengan jemaah haji terbanyak di Tanah Suci, mengingat fakta bahwa Negeri Khatulistiwa ini juga negara dengan populasi Muslim terbesar di Dunia. Menurut data dari Kementerian Agama (Kemenag), calon jemaah haji (CJH) yang akan diberangkatkan ke tanah suci tahun ini sebanyak 221.000 orang, terdiri dari 203.202 jemaah reguler, dan 17.680 jemaah khusus. Bahkan, di 2024 lalu, totalnya tembus di angka 241.000 jemaah. Kita masih menempati posisi teratas mengalahkan Pakistan dan India.

        Jumlah jemaah inilah yang membuat bahasa kita digunakan dan dikenal secara luas di sana. Di Masjidil Haram, bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang digunakan di papan-papan informasi dan penunjuk jalan, bahkan tersedia juga headphone yang dilengkapi realtime translator berbahasa Indonesia untuk memudahkan jemaah kita memahami isi khutbah Jumat.

        Bahkan, jika kita melipir ke pusat perbelanjaan di sekitar Masjidil Haram, terdapat banyak pedagang yang fasih berbahasa Indonesia. Mereka menjual beraneka ragam barang, mulai dari perlengkapan haji dan umrah seperti kopiah, tasbih, gamis, dan sajadah; hingga barang-barang harian seperti baju, tas, dan souvenir menarik lainnya.

        Makanan khas Indonesia juga tak kalah ramainya dengan kedai-kedai lokal di sana. Walaupun tidak semuanya dikelola dan dimiliki oleh orang Indonesia asli, tetapi banyak pekerjanya yang merupakan orang asli maupun keturunan Indonesia. Hal ini bukan semata-mata karena banyaknya pengunjung kita di sana, tetapi justru juga merupakan strategi untuk menggaet jemaah Indonesia untuk berbelanja.

        Hal ini sejalan dengan konsep Linguistic Market (Pasar Linguistik) yang dipopolerkan oleh Pierre Bourdieu, yang menyatakan bahwa suatu bahasa memiliki nilai jual/nilai tukar ekonomi yang tinggi. Dalam konteks ini, mereka masuk ke pasar linguistik Jemaah Indonesia yang memang gemar berbelanja. Ketika target pasarnya merupakan Jemaah kita, maka ‘nilai’ bahasa Indonesia menjadi naik dibandingkan bahasa Arab maupun bahasa lainnya.

        Dalam Linguistik sendiri, hal ini disebut juga dengan “tindak tutur ilokusi” yang dikaji dalam Pragmatik. Artinya, suatu tuturan yang disampaikan tidak hanya sekadar untuk menyampaikan kebenaran atau sekadar kata-kata saja, tetapi ada makna khusus yang ingin coba disampaikan untuk memengaruhi lawan bicara (yaitu untuk berbelanja).

        Contohnya, mereka berbahasa Indonesia untuk menarik banyak pelanggan dengan kata-kata seperti Jokowi, Anies, Prabowo, Ganjar, Promo, Diskon, hingga Murah. Kata-kata tersebut juga mereka pakai untuk menunjukkan kedekatan dan keramahan, bukti bahwa sudah banyak jemaah kita yang berbelanja di tempat tersebut.

        Tentu saja hal ini menjadi daya tarik tersendiri, bukan hanya bagi pedagang Arab dan pembeli dari Indonesia, tetapi juga bagi Jemaah mancanegara lainnya. Semakin banyak dikenal, semakin banyak pula orang yang menggunakannya.

        Terlebih lagi cara-cara mereka menggait pelanggan Indonesia dengan senyuman, sapaan haji atau hajjah, hingga kalimat-kalimat persuasif seperti yang telah dipaparkan di atas. Terlebih kalau sudah musim pilpres. Wah, semakin menjadi-jadi tawaran berbelanjanya. Bukan hanya dengan “halal, halal, halal, diskon, murah” saja, tetapi mereka juga menjual nama-nama tokoh yang bersaing dalam kontestasi pilpres negeri ini.

        Bagi saya, pesan yang disampaikan sederhana. Siapa pun pilihan presidennya, apa pun afiliasi politiknya, tetaplah berbelanja, hahaha… []


Tulisan ini telah tayang di FokusSumbar.com pada 2 Mei 2025 | 15.43 WIB.

Dari Polisi Hingga Akademisi, Ramai Ramai Mengebiri Nurani

Oleh: Muhamad Hafidz Ar Rizki

        Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA) mencatat bahwa sepanjang Januari sampai April 2025 ini, terdapat 5.949 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Artinya, dalam waktu satu bulan, ada lebih dari seribu kasus kekerasan yang terjadi terhadap perempuan. Hal ini justru menjadi sebuah ironi, dengan status Indonesia yang menyandang gelar sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

        Akhir-akhir ini, publik kembali dihebohkan dengan berita pelecehan seksual yang seakan tak ada habisnya. Kali ini, berita tak hanya datang dari oknum pejabat saja, tetapi juga berasal dari berbagai profesi, mulai dari oknum berseragam, berkopiah, hingga berjas hitam dan bertoga.

        Sebelum kita jauh melangkah pada debat kusir klasik seperti “salah sendiri pakaiannya mengundang nafsu”, atau ‎”seharusnya perempuan bisa menjaga kehormatannya sendiri”, mari kita lihat kembali daftar hitam kasus pelecehan –bahkan kekerasan- seksual yang terjadi sejak awal tahun hingga awal bulan keempat di 2025.

        Di awal tahun, kabar buruk datang dari salah satu ponpes di Lombok Tengah. Tiga orang santriwati melapor ke polisi bahwa mereka telah mengalami pelecehan seksual. Mirisnya, pelecehan yang mereka alami bukan berasal dari oknum santri atau pengurus pondok, melainkan dari pimpinan pondok pesantren tersebut. Pelecehan ini diduga telah terjadi sejak tahun 2023 lalu.

        Di bulan maret, publik menyaksikan kabar yang tak kalah heboh dan bejat. Eks Kapolres Ngada, ditetapkan sebagai tersangka atas kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Pelaku  melakukan aksi bejatnya kepada tiga orang, yang salah satunya masih berumur enam tahun. Pelaku tak sendiri, ia dibantu oleh seorang mahasiswi yang berperan sebagai calo, bertugas mencari anak untuk diserahkan kepada pelaku dengan imbalan uang tiga juta rupiah. Pelaku dijatuhi sanksi PTDH. Berita juga datang dari Seorang dokter PPDS Unpad melakukan pemerkosaan terhadap seorang anak pasiennya dengan menggunakan obat bius. Terlebih, ada isu yang menyebutkan bahwa petugas keamanan RS tersebut juga terlibat.

        Pada April ini, berita yang baru saja terjadi, kita mendengar kabar seorang guru besar Farmasi UGM yang dilaporkan atas kasus pencabulan kepada 13 mahasiswinya. Modusnya selalu sama, mulai dari bimbingan akademik hingga menyusun proposal perlombaan bersama di rumah pelaku. Pelaku telah dipecat dan diberhentikan sebagai dosen di FF UGM.  Terakhir, kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah dan paman kepada seorang anak berusia lima tahun di Garut, Jawa Barat. Pelaku melakukan aksi bejatnya karena motif nafsu.

Fenomena Gunung Es 

        Jika dicermati, kasus-kasus di atas sudah terjadi sejak 2024, bahkan beberapa tahun sebelumnya. Hal ini juga berlaku pada kasus-kasus serupa, dimana kejadian baru terungkap dari laporan korban kepada pihak berwenang. Angka-angka di atas bisa saja bukanlah jumlah sebenarnya, karena tidak semua korban kekerasan seksual mau dan berani speak up (melapor) kepada pihak berwenang. Hal ini dikenal dengan sebutan fenomena gunung es. Kita hanya melihat puncaknya saja dari permukaan, tapi jauh di kedalaman sana, bongkahan besar menghujam hingga ke dasar lautan.  Yang tersorot media hanya sebagian kecilnya saja, di balik itu, puluhan -bahkan mungkin ratusan- kasus dan korban belum terungkap.

        Mengapa hal ini (kasus yang lama terungkap) terjadi? Bukankah seharusnya mudah, korban tinggal melapor kepada pihak berwenang, lantas tinggal menunggu proses saja? Melaporkan tindak kekerasan tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih bagi korban, di samping mengalami trauma berkepanjangan, ketakutan dan kekhawatiran juga pasti menghantui. Banyak korban yang tidak berani speak up karena relasi kuasa, sejalan dengan teori Foucault yang mengatakan bahwa kekuasaan itu mengalir dan dapat mendominasi serta memanipulasi.

        Contohnya, seorang mahasiswi enggan melapor tindak kekerasan yang Ia alami, karena sadar bahwa pelakunya merupakan seorang dosen yang akan membimbing penyelesaian skripsinya. Ia khawatir laporannya akan berdampak kepada nilai dan masa depan perkuliahannya. Pun sama, para pelaku berani berbuat tindakan asusila yang nista bin najis ini karena mereka merasa punya kuasa dan lebih superior dibandingkan korban.

Apa yang bisa kita lakukan? 

        Jika hal ini terus menerus dibiarkan, kita bisa membayangkan berapa banyak anak-anak perempuan kehilangan masa depan. Betapa pilunya hati seorang anak berusia lima tahun yang telah kehilangan peran Ibunya akibat korban perceraian kedua orang tuanya; dan kini, satu-satunya rumah tempat Ia berlindung (sang ayah), justru mengkhianati perasaan dan masa depannya. Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

        Jika kita ingin mencari penyebab dan solusi dari permasalahan ini, kita tidak bisa berfokus kepada satu aspek saja, kita harus melihat secara keseluruhan gambaran dari fenomena yang terjadi. Kita bisa mulai mengamati dari pola yang umum terjadi. Jika mengambil contoh kasus pelecehan seksual di ranah akademik tadi, biasanya modus yang sering digunakan yaitu mengajak bimbingan di luar kampus, mulai dari café, kediaman pelaku, hingga check-in ke kamar hotel. Berikutnya, yang perlu kita cermati adalah sistem yang telah terbentuk, sehingga pelaku bisa melancarkan aksi bejatnya. Di beberapa kampus misalnya, tidak ada regulasi yang secara khusus mengatur mengenai tempat bimbingan tugas mahasiswa, sehingga hal ini dapat dilakukan dimana saja. Terakhir, kita lihat asumsi yang beredar di masyarakat, seperti “Mahasiswi harus nurut sama Dosen” dsb.

        Kita bisa mulai melakukan perubahan dari bawah, dari hal yang mendasar terlebih dahulu. Kita mulai meluruskan persepsi dan asumsi yang keliru, bahwa sah-sah saja, kok, ‘melawan’ selama kita benar. Kampus itu seharusnya menjadi tempat merancang masa depan, bukan tempat menghancurkan masa depan. Berikutnya, sistem; harus ada regulasi yang mengatur hal-hal semacam ini untuk menghindari terjadinya kasus serupa di masa depan, misalnya bimbingan hanya boleh dilakukan di lingkungan kampus, atau dilakukan secara kolektif. Terakhir, kita sendiri yang harus mengambil peran, memastikan terbentuknya kebiasaan-kebiasaan baru yang sehat, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

        Data di atas bukan sekadar angka, tapi bukti nyata dari lemahnya moral dan etika. Kekerasan seksual tak hanya menyakiti tubuh, tapi juga melukai batin. Para pelaku masih bisa santai berkeliaran, gagah berseragam, berdiri dan tersenyum di depan kamera; sedangkan korban dibungkam, diancam, dan dipaksa lupa. “Try not to abuse your power”, kata Billie Eilish, tapi sepertinya para pelaku terlalu riuh dengan kuasanya, hingga tak dapat mendengar jeritan luka.


Tulisan ini sudah tayang di Prokabar.com pada 27 April 2025 | 17.31 WIB.


Kekerasan Terhadap Anak: Makan Darah Daging Sendiri

Oleh: Muhamad Hafidz Ar Rizki 

        Menurut data realtime  dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA), per tanggal 1 Januari sampai bulan ini, terdapat 2.348 kasus kekerasan, 1.646 kasus di antaranya merupakan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Masih dari data yang sama, di sepanjang tahun 2024 saja, tercatat sebanyak 28.831 kasus kekerasan terhadap anak perempuan. Angka ini bukan sekadar jumlah yang fantastis, tetapi juga data yang bikin hati meringis. Miris.

        Anak-anak yang seharusnya tumbuh dan berkembang di lingkungan dan dunianya sendiri -bermain, belajar, dan mewarnai- justru harus kehilangan warna dalam hidupnya. Masa depannya yang cerah direnggut oleh keserakahan dan nafsu binatang para predator tindak kekerasan seksual. Parahnya lagi, pelakunya bukan berasal dari balik pagar, melainkan dari dalam rumah sendiri! Ini namanya bukan lagi musuh di balik selimut, tapi predator di dalam selimut.

        Hal inilah yang disebut sebagai fenomena gunung es. Seberapa banyak, sih, kasus yang bisa kita lihat di atas puncak? Jawabannya hanya sebagian, atau mungkin tak sampai nol koma sekian persennya. Mungkin, laporan yang masuk sebanyak tiga ribu kasus, tapi kita tak tahu fakta di baliknya, barangkali jumlah kasus yang ada lebih dari itu. Perlu diingat, ini bukanlah kasus pejabat dengan rakyat, bukan pula kasus atasan dan bawahan, tapi tindak kejahatan seorang ayah kepada putrinya sendiri. Seonggok daging yang Ia jaga sepenuh hati dengan tangannya sendiri, yang di kemudian hari justru ia nodai dengan tangan yang sama.

        Jika kita cermati, pola yang digunakan pelaku selalu saja sama. Trennya tak berubah signifikan dari waktu ke waktu. Pola yang umum terjadi yaitu tindak kekerasan yang dilakukan di rumah sendiri, saat suasana sedang sepi, dan tidak ada orang lain di rumah selain mereka. Berikutnya yaitu dengan mengancam korban, juga memberi iming-iming ‘imbalan’ berupa materi seperti uang, mainan, maupun setangkai lollipop. Selain itu, kadang-kadang pelaku juga melakukan aksi bejat bin bahlul-nya ini saat korban sedang tidak sadarkan diri, seperti saat tidur ataupun kelelahan.

        Berikutnya, adat atau nilai-nilai yang berlaku di lingkungan keluarga juga turut menjadi faktor maraknya tindakan ‘kekerasan seksual domestik’. Ini sejalan dengan teori relasi kuasa, di mana sang anak (korban) merasa tak berdaya untuk melawan, karena yang dihadapinya adalah sosok yang memiliki kuasa di rumah. Begitu pun dengan sang ayah (pelaku), tentu saja merasa dirinya superior ketimbang istri dan buah hatinya. Apalagi dengan banyaknya keluarga yang masih menganut sistem patriarki, semakin menambah porsi sang ayah atas kuasa dan kendali atas anak dan istri di rumah.

        Ditambah lagi dengan paradigma yang berkembang di masyarakat, bahwa ayah merupakan sosok kepala keluarga yang pasti menjadi panutan dan pelindung keluarganya. Anak-anak dilihat sebagai sosok yang tak memiliki kuasa apapun, sedangkan ayah memiliki kontrol penuh atas mereka. Di masyarakat kita, pendidikan seks juga menjadi hal yang tabu. Hal itu seakan menjadi sesuatu yang haram untuk dibicarakan. Padahal, ini juga merupakan salah satu cara preventif untuk meminimalisasi terjadinya tindak kekerasan seksual domestik.

        Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa mulai dari mengubah paradigma dan asumsi masyarakat mengenai edukasi seksual di lingkungan keluarga. Hal yang semula dianggap tabu, mesti kita ubah menjadi sebuah keharusan. Anak-anak harus mengenal tubuh mereka secara mendalam, dan mengetahui batasan-batasan apa saja yang tak boleh dilanggar. Mereka harus tahu, bahwa mereka punya kendali atas tubuh mereka, dan tak ada yang berhak menyentuhnya secara sembrono, termasuk ayah, abang, paman, maupun kakeknya sendiri.

        Anak-anak seharusnya bisa hidup sesuai dengan fitrahnya; belajar, bermain, dan mengeksplorasi banyak hal. Masih panjang perjalanan kehidupan yang akan dilaluinya. Masih banyak pelajaran yang akan ia dapat, dan masih besar harapannya untuk tumbuh menjadi anak yang hebat, kuat, dan sehat. Ini tugas kita bersama untuk menjaganya. Menjaga agar api impian itu tetap menyala, dan bintang impian itu tetap berseri warnanya.

        Pemerintah, dalam hal ini Komisi serta Kementerian yang mengurus Perempuan dan Anak (tapi malah jadi ngurusin laki-laki juga), seharusnya mengirim penyuluh untuk ikut nimbrung dengan bapak-bapak di lapau. Mereka yang hanya hobi main kartu sepanjang hari ini seharusnya juga dikasih sosialisasi, supaya mereka tak hanya tahu caranya memproduksi, tapi juga tahu caranya melindungi.


Tulisan ini sudah tayang di Prokabar.com pada 21 April 2025 | 13.33 WIB. 

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...