Bencana
Oleh: Muhamad Hafidz Ar Rizki
Sudah berminggu Sumatra dirundung duka.
Dari Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera
Utara,
Dari Langsa, Agam, hingga Sibolga,
Semua merasa nestapa.
Air bah datang menyapu semua,
Tua, muda; tak pandang usia.
Ia datang tanpa aba-aba,
Atau, kita yang selama ini alpa?
Semua mata tertuju padanya,
Pada air yang meluap di banda,
Pada banjir yang menenggelamkan desa,
Hingga gelondongan kayu yang berlabuh di Samudra.
Warga hingga mahasiswa
Serentak bergerak bersama
Dalam satu aba-aba,
‘Tuk selamatkan korban jiwa
Sungguh, niat yang sangat mulia.
Tapi sayangnya,
Kita tak pernah tahu hati manusia,
Tentang niat yang sebenarnya.
Ada yang bekerja sekuat tenaga,
Ada pula yang hanya berpura-pura;
Semata-semata untuk dijepret kamera,
Bukan lillāhi ta’āla.
Di situasi bencana,
Siapa saja bisa menjadi apa saja.
Yang kaya bisa menjadi biasa,
Yang bahagia bisa menjadi nelangsa.
Kini, kita tertipu sosial media,
Kita tertipu dengan berita,
Yang tak pasti kebenarannya,
Bermodal foto dan kata-kata.
Dari menteri hingga kepala desa,
Berbondong turun menyapa warga
Setelah didesak jutaan massa
Untuk bergerak, lakukan kerja nyata
Kita saling menduga
Dengan banyak prasangka
Menganggap kita lebih mulia
Dari mereka yang berdiam saja
Yang tak pernah terjun saat bencana,
Rupanya berdonasi berjuta-juta.
Yang tak pernah menyumbang dana,
Rupanya berminggu-minggu di posko bencana.
Jika tidak bisa mengulurkan tenaga,
Bantu dengan menyumbang dana.
Jika tidak mampu, bantu dengan doa,
Bantu apa saja, bantu sebisanya.
Karena ini bukan soal agama,
Bukan pula perkara Sumatera-Jawa,
Apalagi sekadar angka,
Ini perihal nyawa manusia.
|
|
|
Maka,
Jadilah bijaksana
Dengan tidak memperkeruh suasana
Di dunia nyata, maupun di dunia maya.
Duka Sumatra, duka Indonesia
Bukan hanya ‘mereka’, tetapi juga ‘kita’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar