22 Mei 2025

Pahami, Simpulkan, Kritisi!



“Tahap terendah dari pendidikan yaitu membaca, lalu dipahami, disimpulkan, kemudian dikritisi”

        Kira-kira begitulah kalimat yang saya dapat dari salah seorang dosen di kampus saya. Hari itu, kami berada di satu tim yang sama untuk kegiatan sosialisasi dan promosi kampus ke sekolah-sekolah di daerah. Di malam hari, di saat rekan lain sudah terlelap dan bermain gim, saya tak sengaja melihat beliau sedang duduk sendiri di beranda luar, ditemani laptop dan secangkir kopi cappuccino yang diseduh dari depan meja resepsionis. Karena penasaran dengan apa yang Beliau kerjakan, sengaja saya dekati. Alhamdulillah, respon beliau sangat baik, lantas mengajak saya duduk dan berdiskusi.

        Malam itu, banyak hal menarik yang kami diskusikan. Mulai dari menulis jurnal, pilkada, ekonomi digital, kepemimpinan, hingga pendidikan. Ada banyak pertanyaan yang saya ajukan, dan banyak juga hal yang saya catat dari hasil diskusi bersama Beliau. Salah satunya yaitu mengenai pendidikan. Kami membahas sistem pendidikan di Indonesia, dan membandingkannya dengan sistem pendidikan luar negeri. Rasanya, kita sering kali berpikir dan ngebatin sendiri, bertanya-tanya alasan pendidikan kita kalah dari luar negeri.

        Jawaban singkatnya, ada pada sistem dan mindset. Sebagus apa pun metodenya, secanggih apa pun sistemnya, kalau pola pikir/mindset-nya masih kuno, pendidikan kita tidak akan maju. Pun sama, sehebat apa pun pola pikirnya, kalau kita masih bertarung melawan sistem yang bobrok, jangan harap kita sejajar dengan negara-negara lain.

        Beliau bercerita tentang ketidaksetujuannya terhadap dosen-dosen yang masih mempertahankan ‘cara-cara usang’, sehingga mahasiswa terhambat untuk berkembang. Dalam penulisan ilmiah seperti skripsi pun sama, yang seringkali menjadi objek dan terus menerus ditanyakan yaitu “apa teori awalnya, siapa tokohnya, bla bla bla”. Padahal, seharusnya yang ditanyakan yaitu kebaruan (novelty) dan juga hasil tulisan atau analisis mahasiswa yang merupakan pengembangan dari teori-teori yang sudah ada. Jadi, berorientasi ke depan, fokus pada karya yang dihasilkan mahasiswa, bukan terus menerus kembali ke belakang dan mementahkan temuan yang ada.

        Permasalahan lainnya dari sistem pendidikan kita adalah, guru atau dosen seringkali memberi tugas tanpa mengevaluasi hasil pekerjaan murid atau mahasiswanya. Semata-mata untuk mengisi kekosongan agenda karena bertepatan dengan tanggal merah atau dosen yang bersangkutan tidak dapat hadir; atau sekadar mengejar target pertemuan yang banyak kosong. Kalau siklusnya terus menerus ‘diberi tugas – dikerjakan – dikumpulkan’ saja, maka mahasiswa hanya akan mengerjakannya sebagai penggugur kewajiban saja, tanpa peduli apa yang mereka tulis dan kerjakan. Kalaupun ditanya, hanya segelintir saja yang bisa menjawabnya, itu pun bermodalkan Chat GPT yang setia mendampingi.

        Mahasiswa seharusnya dibekali kemampuan menulis, yang merupakan salah satu basic skill yang harus dimiliki mahasiswa, bukan hanya pandai berorasi saat unjuk rasa saja. Maka, menurut Beliau, tahapan terendah dari pendidikan yaitu membaca. Perihal membaca ini, sebenarnya telat kalau baru dimulai sejak bangku perkuliahan. Membaca ini harus dibiasakan semenjak SD dan berlanjut ke pendidikan menengah, sehingga di pendidikan tinggi, generasi penerus bangsa ini masuk ke jenjang ‘menganalisis’, bukan lagi di tahap pembiasaan membaca. Menurut Laporan Programme for International Student Assessment (PISA)  tahun 2022, Indonesia menempati urutan ke-68 di dunia, dan indeks membaca masih kalah dibandingkan dengan indeks matematika dan sains.

        Setelah membaca, tahapan selanjutnya yaitu memahami. Kebiasaan mahasiswa saat ini –terutama saat presentasi dan diskusi makalah di kelas- yaitu banyak bertanya, tanpa memahami apa yang mereka baca. Ketika ditanya esensi materi, jawabannya adalah “Tanya saja pemakalah”. Padahal, membaca itu tidak pernah terlepas dari memahami. Perihal ‘memahami’ ini bukan urusan sepele. Buktinya, karena salah paham, orang bisa saling ribut, saling berebut.

        Setelah memahami, tahapan selanjutnya yaitu menyimpulkan. Kesimpulan ini bisa membantu orang lain dalam memahami tulisan yang kita baca, karena berisi ringkasan poin-poin penting dari suatu bacaan. Yang terakhir, setelah dibaca dengan saksama, dipahami dengan baik, lalu disimpulkan dengan rapi, langkah selanjutnya yaitu dikritisi. Di sinilah tempat teori-teori baru lahir. Di tahap inilah, ilmu pengetahuan berkembang. Yang pada awalnya hanya berjumlah satu teori, ia akan berkembang menjadi puluhan, bahkan ratusan teori.

        Saya jadi teringat kisah salah satu dosen saya di kelas, Professor di bidang linguistik yang membuat bantahan atau antitesis dari tulisan yang dipublikasikan oleh gurunya –yang juga merupakan professor linguistik- sendiri. Toh, memang begitu, kan, sifat ilmu pengetahuan? Ilmu itu dinamis, akan ada kebaruan di setiap masa yang akan datang. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan tidak akan pernah habis atau selesai untuk dikaji, karena pasti akan selalu ada tanggapan, bantahan, bahkan teori-teori baru dari kajian yang sudah ada.

        Peneliti dan akademisi juga manusia, bisa salah juga. Maka dari itu, menganggap bahwa para peneliti dan akademisi tidak pernah salah, merupakan kesalahan besar. Di akhir pembicaraan kami, Beliau nyeletuk“Ilmuwan boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Kalau politisi, tidak boleh salah, tapi boleh bohong”. Keheningan malam seketika berubah menjadi ramai karena riuh tawa kami, hahaha.


Tulisan ini merupakan refleksi dari rangkaian agenda Sosialisasi dan Promosi (Sospro) UIN Imam Bonjol Padang ke Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat. 

Tulisan ini juga sudah tayang di Kompasiana pada 30 November 2024 | 11.00 WIB. 

04 Mei 2025

Warna Cinta




"Ananda sekalian, apa warna cinta?"

        Ucap Pak Aris memecah keheningan kelas. Ia tahu bagaimana caranya 'menyetrum' kelas agar kembali hidup dari mati suri. Pak Aris merupakan seorang guru honorer yang mengajar PAI. Karena keterbatasan tenaga pengajar, sesekali Ia juga diminta mengajar bahasa Arab dan Tahsin.

Suasana kelas yang tadinya sunyi sepi bak Masjid di waktu subuh, kini riuh bergemuruh. Para siswa tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Lantas, mereka satu persatu berpendapat mengenai warna cinta yang ditanyakan tadi.

"Cinta itu merah, Pak!" jawab salah seorang murid di bangku depan.

"Mengapa demikian, Bunga?" sahut Pak Aris.

"Karena merah artinya berani. Cinta bisa membuat seorang pecundang melompat dari atas jembatan demi mendapatkan cintanya di dasar sungai".

"Ah, tidak juga. Cinta itu biru, Pak." balas salah seorang murid.

"Mengapa begitu, Andi?" tanya Pak Aris kembali.

"Biru itu melambangkan ketenangan. Cinta bisa menenangkan siapa saja yang memilikinya. Seseorang takkan pernah ragu sang pujaan hatinya tak membalas cintanya, karena mereka memiliki warna cinta yang sama. Biru, Pak." jawab Andi.

"Menurut saya, cinta itu tidak ada warnanya, Pak. Dia hitam, pekat, tak dapat dilihat. Cinta membawa kesedihan bagi siapa saja yang mengizinkannya untuk singgah. Cinta membebani perasaan. Hubungan pertemanan bisa saja putus karena Cinta, Pak." balasan pemungkas dari seorang murid di sudut kelas. 

Suasana kelas yang tadinya muram, kini seakan berwarna dengan berbagai pendapat dari seluruh siswa. Kini, saatnya Pak Aris menanggapi pandangan mereka.

"Ananda, mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Cinta itu merah, berani. Dengan penafsiran yang sama, ia bisa menjadi berbahaya; seseorang bisa berani melakukan apa saja atas nama cinta, termasuk menyerahkan hak dan kehormatannya. Cinta itu biru, menenangkan. Dengan penafsiran yang sama, ia bisa saja berubah menjadi sayu, layu, "sad and blue"; berapa banyak senyum dan gairah yang hilang karena putus cinta?" 

Pak Aris berhenti sejenak, menatap wajah siswanya satu persatu yang kini khusyuk mendengarkan.

"Dan cinta itu hitam.." lanjut Pak Aris.

"Kurang tepat rasanya jika kita berkata cinta tidak ada warnanya. Toh, hitam juga warna, kan? Jika dikatakan pekat dan tak dapat dilihat, dengan penafsiran yang sama, kita dapat mengatakan bahwa cinta itu menggambarkan kewibawaan dan ketegasan. Pekatnya memperteguh makna cinta itu sendiri, dan ia tak dapat dilihat, tetapi dirasakan." ucapnya. 

        Lagi-lagi, Pak Aris berhasil membuat seisi kelas tertegun, serentak mendengarkan taujih yang Ia sampaikan.

"Ananda, ternyata selama ini kita masih skeptis. Kita masih memandang cinta dari perspektif kita sendiri, dan tak mau melihat perspektif lain. Justru, keindahan cinta itu terletak dari warna-warna yang menghiasinya. Semua pendapat Ananda tidak ada yang salah, semua bebas menafsirkan warna cintanya masing-masing." 

"Bagaimana dengan yang buta warna, Pak? bukankah mereka tak dapat melihat warna-warna yang ada?" tanya seorang murid. 

Mendengar pertanyaan itu, Pak Aris lantas tersenyum dan menggeleng perlahan. Ia membalas,

"Mereka yang buta warna bukan berarti tak bisa melihat warna sama sekali. Hanya saja, mereka keliru melihat warna yang sebenarnya. Mengira hijau sebagai biru, merah muda sebagai ungu, hingga putih sebagai abu-abu." balasnya. 

"Lalu, bagaimana dengan mereka yang buta, tak bisa melihat sama sekali, Pak?" tanya murid itu kembali. 

"Mungkin mereka memang tak bisa melihatnya sama sekali, tetapi mereka masih tetap bisa merasakannya. Seperti hangatnya jingga kala mentari terbenam, atau syahdunya langit pagi yang membiru". jawab Pak Aris menutup pertanyaan ihwal buta-membuta tadi. 

"Pak, apakah warnanya bisa pudar? Lantas bagaimana jika warnanya pudar? Bagaimana jika warnanya hilang?" tanya seorang siswi di barisan kanan memecah keheningan.

"Betul, warnanya bisa saja pudar. Bisa jadi karena waktu, atau karena kondisinya yang tak terawat. Seandainya warnanya pudar, ia bisa saja kembali seperti baru dengan cara dipoles kembali, diperbarui. Dan sebenarnya, warnanya takkan pernah habis. Ia punya banyak sekali warna, bahkan warna-warna yang tak kita ketahui nama dan wujudnya" balas Pak Aris.

"Ia? Ia siapa, Pak?" tanya siswi tadi keheranan.

"Ia, sang pemilik segala warna, Sang Maha Cinta." Jawab Pak Aris.

"Ia yang memberi warna, juga rasa kepada cinta itu sendiri. Dzat yang memberi ilham kepada kita, sehingga mampu menafsirkan warnanya. Maka dari itu, Ananda, berhenti meminta dan berharap pada manusia yang sama-sama sedang mencari warna. Kita bisa saja salah dalam perjalanan panjang mencari warna cinta ini. Mintalah kepada sang pemilik, dan berharaplah kepada sang empunya, Allah 'azza wa jalla".

Seisi kelas tertegun, khusyuk dan mendengar takjub penjelasan Pak Aris. Di akhir pembicaraan, Ia menambahkan,

"Kejarlah cinta itu dari pemiliknya, Sang Maha Cinta yang takkan pernah kehabisan warna dan kehilangan rasa untuk hamba-hamba-Nya, Ananda."


***

 قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ۝٥٣

 

Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(Qs. Az-Zumar/39:53)

 

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...