15 Desember 2023

Catatan Teologi Islam

 

KONTEKSTUALISASI: SEBUAH IKHTISAR      

Kontekstualisasi artinya memahami atau menafsirkan sesuatu dengan mempertimbangkan konteksnya. Konteks dapat mencakup informasi tentang waktu, tempat, budaya, sejarah, lingkungan sosial, atau faktor-faktor lain yang relevan. Kontekstualisasi membantu melengkapi pemahaman kita tentang suatu hal, karena seringkali makna sebenarnya suatu peristiwa atau teks hanya dapat dipahami jika kita memperhatikan konteksnya.

MAKNA TEOLOGI ISLAM

Teologi merupakan ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungannya dengan alam dan manusia. Teologi sendiri sebenarnya bukan berasal dari khazanah Islam, melainkan istilah dan tradisi gereja Kristiani. Dalam Kristen, teologi berbicara tentang agama secara keseluruhan. Teologi Islam merupakan refleksi filosofis berkenaan dengan pokok pokok keimanan umat islam. Teologi Islam merupakan pembahasan tentang iman yang bercorak filsafat, dipengaruhi pikiran dan metode filsafat. Meski demikian, ada dua catatan mengenai teologi Islam; pertama, teolog Islam berangkat dari dasar-dasar iman dan dibuktikan secara rasional, sementara para filsuf berangkat dari keraguan dan pencarian akan kebenaran iman itu sendiri; kedua, obyek teologi Islam merupakan persolanan keimanan yang terbatas, sedangkan obyek filsafat lebih luas.

TEOLOGI SOSIAL

Teologi sosial merupakan ilmu ketuhanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, atau nilai-nilai ketuhanan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat seperti kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, penindasan, dll.  Teologi sosial mempelajari kaitan antara kehidupan beriman, intelektualitas, dan kenyataan hidup sosial. Teologi sosial berusaha menjawab tantangan bagaimana hidup dan keimanan seseorang mesti terwujud di tengah situasi ketidakadilan yang nyata. Nilai-nilai iman yang manakah yang mendasari seseorang mengambil pilihan dan sikap dalam situasi yang mendatangkan banyak penderitaan bagi masyarakat. Terkait istilah teologi Islam, ianya merupakan teologi sosial yang diberi prediket “Islam”, untuk membedakannya dengan teologi agama lain. Dalam ajaran Kristiani, teologi mencakup keseluruhan agama, sedangkan dalam Islam, pembahasan mengenai tatacara beribadah dan sebagainya terpisah menjadi suatu ilmu tersendiri, yaitu fiqih, tasawuf, aqidah, dan lain-lain.

Lantas, mengapa kajian teologi dikaitkan langsung dengan masalah sosial? Jawabannya adalah bahwa teologi seharusnya tidak hanya berkaitan dengan persoalan teosentris belaka, melainkan antroposentris juga.  Beberapa gagasan teologi sosial Islam di antaranya sebagai berikut.

Teologi Pluralisme

Indonesia merupakan negara yang sangat plural. Hal ini disebabkan karena hampir semua agama diakui dan pemeluknya dilindungi UU. Masyarakat yang sangat plural ini merupakan masyarakat yg sangat rentan dengan potensi konflik. Walau bagaimanapun, pluralisme merupakan sunnatullah, yaitu kenyataan yang menjadi kehendak Tuhan. Ada beberapa opsi untuk menjawab pluralisme keagamaan. Yaitu:

  1. Menerima kehadiran orang lain atas dasar sikap saling menghormati dan tidak saling menganggu.
  2. Mengembangkan kerja sama sosial keagamaan melalui berbagai kegiatan yg memperlihatkan progress kehidupan beragama yang rukun.
  3. Mencari, mengembangkan, dan merumuskan titik temu agama-agama untuk menjawab problem dan tantangan masyarakat yg plural.

Teologi Lingkungan

Dunia saat ini mengalami global warming/pemanasan global yang mengakibatkan banyaknya bencana dan ketidakteraturan cuaca, serta banyak kekacauan di bumi. Bencana alam yang silih berganti merupakan peringatan bagi manusia untuk mereorientasi hidup mereka yang merusak alam. Penebangan pohon, pembalakan liar, itu semua dilakukan dengan dalih bahwa dunia diciptakan untuk manusia sbg khalifah di muka bumi, yg memiliki hak untuk mengeksploitasi alam scr besar besaran.

Dengan demikian, teologi lingkungan merupakan kesadaran agama yg menyatakan bahwa krisis lingkungan yang terjadi bukanlah masalah umum, tp juga merupakan masalah agama yang harus segera ditangani. Teologi lingkungan merupakan respons agama di mana ia dituntut harus mampu memberikan sumbangan dan mengambil peran serta tanggungjawab etis di bidang penyelamatan lingkungan.

Dengan pembumian teologi lingkungan, diharapkan kita sadar bahwa semua ciptaan tuhan memiliki hak bereksistensi. Dengan kata lain, kita bisa menjustifikasi bahwa segala bentuk tindkan eksploitatif merupakan tindakan amoral yg harus dihindari karena unsur ketauhidan kita sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga, teologi tidak hanya berdimensi akhirat saja, tp juga berdimensi duniawi. []

 

 

14 Desember 2023

Bertauhid tapi Ateis

 

Mengapa terdapat sebagian manusia yang bertauhid secara teori, namun tidak secara praktik? Bagaimana pandangan tentang orang yang mengaku bertauhid, tetapi abai terhadap orang lain?

Penyebab sebagian manusia bertauhid secara teori namun tidak bertauhid secara praktek, salah satunya karena agama/kepercayaan yang mereka anut merupakan “turunan” dari orang tua dan nenek moyang mereka. Mereka tidak memeluk suatu agama seutuhnya berdasarkan keyakinan dan pemikiran mereka. Berbicara dalam konteks agama Islam, berapa banyak orang yang dilabeli sebagai penganut “Islam KTP”? mereka mengaku Islam, mereka bersyahadat, mereka mengimani al-Quran, tapi tidak mengamalkannya. Ironisnya, mereka tidak mengetahui esensi dari “iman” itu sendiri. Berbicara dalam konteks yang lebih luas, sebagian manusia menganggap bahwa percaya kepada Tuhan tidaklah merupakan suatu hal yang penting. dalam kata lain, ada/tiada Tuhan-pun, hidup mereka begitu-gitu saja. Tidak ada yang namanya mujizat/keajaiban. Percaya kepada Tuhan hanya sekadar “formalitas beragama” saja. Mereka mengakui adanya Tuhan, tahu sifat-sifat Tuhan, tetapi tidak mengamalkan dan menghayati manifestasi sifat-sifat Tuhan itu sendiri.

Pendapat saya yang kedua, mengapa terjadi kasus di atas –bertauhid secara teori namun tidak secara praktik disebabkan karena sebagian orang beranggapan bahwa segala sesuatu yang mereka dapatkan, berasal dari apa yang telah mereka lakukan dan usahakan. Manusialah yang memiliki kendali penuh atas kegagalan dan keberhasilan mereka. Seakan terlintas narasi, “untuk apa beribadah jika hidup begini-gini saja?” atau “apa hasil dari munajat dan doa-doa kepada Tuhan selama ini?” dsb. Kalangan seperti ini, seakan mereka dijanjikan kenikmatan surgawi, padahal yang mereka jalani ini ialah kehidupan duniawi. Walaupun dunia ini fana, tapi hidup hanya sekali.  

Contoh dari kasus di atas ialah, mereka meyakini keberadaan Tuhan, tapi tidak mengimplementasikan keyakinan mereka pada kehidupan sehari-hari. Mereka tahu Tuhan maha melihat, tapi mereka masih menjalani maksiat. Mereka tahu Tuhan maha mendengar, tapi mereka tak mau berdoa dan mengadu pada-Nya. Mereka tahu tuhan maha segalanya, tapi mereka malah menuhankan segalanya (harta, tahta, wanita, dll). Dapat disimpulkan, bahwa orientasi hidup mereka adalah untuk mencari kesenangan duniawi, hingga menganggap bahwa Tuhan hanya sekadar pencipta manusia, tanpa bisa berbuat banyak terhadap perubahan kehidupan hamba-hamba-Nya.

Kemudian, saya berpandangan bahwa orang yang bertauhid tapi abai terhadap orang lain adalah orang yang “belum sepenuhnya bertauhid”. Jika ia benar-benar bertauhid, maka seharusnya ia juga meyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain. Seharusnya ia paham, bahwa dalam hubungan seorang hamba terhadap selainnya, tidak hanya dimensi vertikal (hablumminallah) saja, tapi juga dimensi horizontal (hablumminannas). Lebih jauh lagi, ia akan mengetahui bahwa ciptaan Tuhan bukan manusia saja, tapi juga hewan dan tumbuhan. Jika ia merasa sudah bertauhid, maka seharusnya ia tidak akan abai terhadap sesamanya, bahkan hewan dan tumbuhan yang ia temui di jalan. []

07 Desember 2023

Tanya Dirimu, Sudahkah Engkau Berakhlak?


Akhlak merupakan suatu konsep yang penting di dalam kehidupan kita, baik sebagai umat muslim/umat beragama, maupun sebagai manusia. Sehingga, akhlak dipelajari dalam suatu ilmu sendiri, yaitu ilmu akhlak, yang beririsan dengan ilmu tasawuf, yang membentuk suatu konsep “Piramida Ilmu Islam”.

Ilmu Akhlak memiliki banyak keterkaitan dengan ilmu-ilmu lainnya, contohnya ilmu tasawuf, kalam, psikologi, bahkan filsafat. Dapat dibayangkan, seberapa pentingnya ilmu akhlak dalam kehidupan kita. Hal ini juga didukung dengan banyaknya kitab-kitab yang membahas ilmu ini secara tersendiri, contohnya Khuluq al-Muslim karya Imam al-Ghazali, Tahzib al-Akhlaq karya Ibn Miskawaih, Falsafah Akhlak karya Sayyid Murtadha Mutahhari, dan lain sebagainya. Dapat kita katakan, ilmu Akhlak sejajar dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti tafsir, fikih, dsb.

Akhlak didefinisikan sebagai tabiat, perilaku, perbuatan, perangai, dan semacamnya. Akhlak sering disamakan dengan etika. Padahal, terdapat perbedaan mendasar pada kedua konsep tersebut. Menurut M. Hasyim Syamhudi dalam bukunya, “Akhlak Tasawuf Dalam Konstruksi Piramida Ilmu Islam”, Keduanya memang sama-sama membahas tentang aktvitas horizontal manusia. Namun, perbedaannya yaitu Akhlak “bermula” dari niat seseorang yang didasarkan kepada Allah SWT, dan “berakhir” pada keridhaan Allah, sedangkan etika merupakan pelaksanaan dari moralitas yang dihasilkan realitas kehidupan sehari-hari.

Selama ini, kita gemar sekali memberi cap dan stempel seseorang berakhlak baik atau buruk, tanpa pernah bercermin, bertanya, dan merefleksikan diri, apakah kita sudah “berakhlak” atau belum. Kita gemar sekali menunjuk, bahkan mengkafir-kafirkan seseorang karena Akhlaknya yang buruk.

Berdasarkan narasi di atas, ada suatu hal yang menjadi ukuran baik buruk-buruknya Akhlak. Hal itu adalah al-Quran dan Sunnah. Mengapa sabar, pemaaf, ramah, gemar menolong sesama termasuk akhlak yang baik? Sedangkan mencela, berkata kasar, berbohong, bahkan gemar menyakiti orang lain termasuk akhlak yang buruk? Jawabannya karena al-Quran dan Sunnah menilai demikian. Jadi, dapat dikatakan bahwa nilai-nilai Akhlak bersumber dari Firman-Nya dan Sabda Nabi-Nya. 

Mengingat pentingnya Ilmu Akhlak dalam kehidupan sehari-hari, penulis merasa bahwa Akhlak seharusnya tak hanya dijadikan sebagai tolok ukur seseorang ‘beradab’ atau tidak, akan tetapi, sudah seharusnya Akhlak menjadi bahan kajian –yang mendalam, bukan sekadar dasar– bagi kalangan terpelajar, yang mengaku sebagai pelajar/mahasiswa muslim –terlebih lagi mahasiswa kampus dengan nama “Islam”– di Indonesia, yang menyandang gelar Negara Muslim terbesar di dunia. 

Berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang hanya pernah bersekolah di lembaga pendidikan Islam saat SD, materi “Akhlak” merupakan materi yang cukup penting, di samping mata pelajaran lainnya. Memang, materi ini tidak diujikan saat ujian mid atau akhir semester, tapi materi inilah yang keseluruhan isinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis mengingat bagaimana dahulu para guru mengajarkan adab sebelum, saat, dan sesudah belajar. Bahkan sampai hal-hal sepele, seperti berterima kasih kepada guru karena telah mengajarkan ilmu, berterima kasih kepada-Nya karena telah memberikan ilmu, bahkan berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu kita dalam menuntut ilmu. 

Akhlak sudah seharusnya dikembangkan secara menyeluruh kepada semua kalangan di zaman sekarang. Mengingat di zaman modern ini, zamannya generasi milenial yang sangat melek teknologi, tantangannya semakin besar dan berat. Mengapa banyak hal yang berkaitan dengan ‘zaman sekarang’ terkesan buruk? salah satu jawabannya ialah karena degradasi akhlak. Terbukti dengan kalimat-kalimat seperti: “Anak zaman sekarang mah nggak tahu sopan santun, nggak ada akhlak..”, atau “Dulu, di zaman Bapak, nggak ada tuh anak-anak yang bla bla bla….” Dan lain sebagainya. Seakan-akan Akhlak sudah hilang ribuan tahun lamanya. Lantas, tugas siapakah yang meluruskan dan membentuk akhlak di zaman sekarang ini? Tentunya tugas kita bersama. Tugas para guru, dosen, ustaz, orang tua, bahkan kita, terhadap teman sebaya. 

Bagaimana dengan masa depan? Masa yang digadang-gadang akan menjadi masanya para robot, masanya AI (Artificial intelligence), dan teknologi maju nan canggih lainnya? Akankah “Akhlak benar-benar lenyap? Akankah kita berhak menggunakan kalimat “Dulu, di zaman Bapak, bla bla bla…” dan sebagainya? Jawabannya, ada pada diri kita sendiri. Maukah kita mengambil bagian dalam pembentukan Akhlak? Jawabannya hanya satu, yaitu “Harus”, bukan hanya “Iya”. 

Di masa depan, akhlak harus semakin gencar diajarkan dan ditanamkan kepada umat muslim. Bukan hanya dengan cara-cara lama –dengan ceramah panjang dan ancaman–, tapi juga dengan cara-cara persuasif dan asik. Targetnya bukan hanya anak-anak muslim, tapi seluruh umat muslim. Karena sejatinya, orang-orang di luar sana, melihat Islam bukan hanya dari kesucian dan kebaikan ajarannya, tetapi juga dari sifat dan perangai para penganutnya. Sungguh miris, akhlak justru dimiliki oleh mereka yang bukan pemeluk ajaran Islam, oleh mereka yang mengkaji, dan mendalami Islam itu sendiri. Akhlak dimiliki oleh mereka yang kagum akan sosok pribadi agung Rasulullah SAW. Sedangkan kita? Masih sibuk dan asyik sendiri, saling bersikutan dan mancaruik (berkata-kata kasar) satu sama lain ketika tak seiya-sekata dalam perdebatan.

Sebagai penutup, 
Ambillah cermin, tanyakan pada dirimu sendiri: “sudahkah aku berakhlak?”


Artikel oleh:
Muhamad Hafidz Ar Rizki (2311010019)
1 BSA A - Prodi Bahasa dan Sastra Arab,
Fakultas Adab dan Humaniora, 
UIN Imam Bonjol Padang

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...