KONTEKSTUALISASI:
SEBUAH IKHTISAR
Kontekstualisasi artinya memahami atau menafsirkan sesuatu dengan mempertimbangkan konteksnya. Konteks dapat mencakup informasi tentang waktu, tempat, budaya, sejarah, lingkungan sosial, atau faktor-faktor lain yang relevan. Kontekstualisasi membantu melengkapi pemahaman kita tentang suatu hal, karena seringkali makna sebenarnya suatu peristiwa atau teks hanya dapat dipahami jika kita memperhatikan konteksnya.
MAKNA TEOLOGI
ISLAM
Teologi merupakan ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungannya dengan alam dan manusia. Teologi sendiri sebenarnya bukan berasal dari khazanah Islam, melainkan istilah dan tradisi gereja Kristiani. Dalam Kristen, teologi berbicara tentang agama secara keseluruhan. Teologi Islam merupakan refleksi filosofis berkenaan dengan pokok pokok keimanan umat islam. Teologi Islam merupakan pembahasan tentang iman yang bercorak filsafat, dipengaruhi pikiran dan metode filsafat. Meski demikian, ada dua catatan mengenai teologi Islam; pertama, teolog Islam berangkat dari dasar-dasar iman dan dibuktikan secara rasional, sementara para filsuf berangkat dari keraguan dan pencarian akan kebenaran iman itu sendiri; kedua, obyek teologi Islam merupakan persolanan keimanan yang terbatas, sedangkan obyek filsafat lebih luas.
TEOLOGI
SOSIAL
Teologi
sosial merupakan ilmu ketuhanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,
atau nilai-nilai ketuhanan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat seperti
kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, penindasan, dll. Teologi sosial mempelajari kaitan antara
kehidupan beriman, intelektualitas, dan kenyataan hidup sosial. Teologi sosial
berusaha menjawab tantangan bagaimana hidup dan keimanan seseorang mesti
terwujud di tengah situasi ketidakadilan yang nyata. Nilai-nilai iman yang
manakah yang mendasari seseorang mengambil pilihan dan sikap dalam situasi yang
mendatangkan banyak penderitaan bagi masyarakat. Terkait istilah teologi Islam,
ianya merupakan teologi sosial yang diberi prediket “Islam”, untuk
membedakannya dengan teologi agama lain. Dalam ajaran Kristiani, teologi
mencakup keseluruhan agama, sedangkan dalam Islam, pembahasan mengenai tatacara
beribadah dan sebagainya terpisah menjadi suatu ilmu tersendiri, yaitu fiqih,
tasawuf, aqidah, dan lain-lain.
Lantas,
mengapa kajian teologi dikaitkan langsung dengan masalah sosial? Jawabannya
adalah bahwa teologi seharusnya tidak hanya berkaitan dengan persoalan
teosentris belaka, melainkan antroposentris juga. Beberapa gagasan teologi sosial Islam di
antaranya sebagai berikut.
Teologi Pluralisme
Indonesia
merupakan negara yang sangat plural. Hal ini disebabkan karena hampir semua
agama diakui dan pemeluknya dilindungi UU. Masyarakat yang sangat plural ini
merupakan masyarakat yg sangat rentan dengan potensi konflik. Walau
bagaimanapun, pluralisme merupakan sunnatullah, yaitu kenyataan yang
menjadi kehendak Tuhan. Ada beberapa opsi untuk menjawab pluralisme keagamaan.
Yaitu:
- Menerima kehadiran orang lain atas dasar sikap saling menghormati dan tidak saling menganggu.
- Mengembangkan kerja sama sosial keagamaan melalui berbagai kegiatan yg memperlihatkan progress kehidupan beragama yang rukun.
- Mencari, mengembangkan, dan merumuskan titik temu agama-agama untuk menjawab problem dan tantangan masyarakat yg plural.
Teologi Lingkungan
Dunia
saat ini mengalami global warming/pemanasan global yang mengakibatkan banyaknya
bencana dan ketidakteraturan cuaca, serta banyak kekacauan di bumi. Bencana
alam yang silih berganti merupakan peringatan bagi manusia untuk mereorientasi
hidup mereka yang merusak alam. Penebangan pohon, pembalakan liar, itu semua
dilakukan dengan dalih bahwa dunia diciptakan untuk manusia sbg khalifah di
muka bumi, yg memiliki hak untuk mengeksploitasi alam scr besar besaran.
Dengan
demikian, teologi lingkungan merupakan kesadaran agama yg menyatakan bahwa
krisis lingkungan yang terjadi bukanlah masalah umum, tp juga merupakan masalah
agama yang harus segera ditangani. Teologi lingkungan merupakan respons agama
di mana ia dituntut harus mampu memberikan sumbangan dan mengambil peran serta
tanggungjawab etis di bidang penyelamatan lingkungan.
Dengan
pembumian teologi lingkungan, diharapkan kita sadar bahwa semua ciptaan tuhan
memiliki hak bereksistensi. Dengan kata lain, kita bisa menjustifikasi bahwa
segala bentuk tindkan eksploitatif merupakan tindakan amoral yg harus dihindari
karena unsur ketauhidan kita sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga, teologi
tidak hanya berdimensi akhirat saja, tp juga berdimensi duniawi. []