“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama Ia tak menulis,
Ia akan hilang dalam masyarakat”
-Pramoedya Ananta Toer-
Kita pernah mendengar sebuah pepatah yang berbunyi “Buku merupakan
jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya”. Pepatah ini terpampang di
banyak tempat, di sudut ruang-ruang kelas, perpustakaan, gerbang sekolah,
hingga bertebaran di ruang-ruang publik.
Tetapi, benarkah demikian? apakah benar setumpukan lembaran-lembaran
berjilid, tersampul, dan terpampang rapi di rak-rak toko nan bermerek itu
merupakan jendela dunia? Benarkah benda yang disebut “buku” itu mampu
mengguncang dunia? Apa benar membaca merupakan kuncinya?
Dahulu, sebelum benda bernama “buku” itu ada, manusia menulis pada
benda-benda yang disediakan Tuhan di alam. Mereka memahat batu dan dinding gua,
menggores kayu-kayu dan pelepah tanaman, hingga menyamak kulit hewan. Hingga
akhirnya manusia mengenal kertas –yang di kemudian hari berkembang menjadi buku-
dan budaya tulis-menulis; dari Cuneiform (huruf paku) di Persia, Hiroglif
di Mesir, hingga Hanacaraka dan Kaganga di Nusantara; tradisi
menulis tetap hidup, tak hanya menorehkan goresan, tetapi juga membawa gagasan
bagi masa depan manusia.
Nampaknya memang sahih jika dikatakan buku merupakan jendela
dunia. Benda berjilid berisi ratusan –bahkan ada yang mencapai ribuan- kertas
itu bukan hanya digunakan manusia untuk sekadar menjadi teman duduk saja. Bagi para
pujangga, ia menjadi ladang inspirasi. Bagi para akademisi, ia menjadi tambang referensi.
Memang betul, orang-orang besar menulis, dan mereka menghasilkan banyak buku. Lihatlah Pramoedya Ananta Toer dengan Tetralogi Pulau Buru-nya, Anne Frank dengan buku catatan hariannya, Buya Hamka dengan Di Bawah Lindungan Ka’bah-nya, hingga Soe Hok Gie dengan Catatan Harian Seorang Demonstran-nya.
“Verba Volant, Scripta Manent” (Kata-kata lisan terbang, sementara
tulisan menetap). Senada dengan
potongan lirik lagu “Ace Base – Happy Nation” yang berseliweran di
Instagram dan Tiktok, “A man will die, but not his ideas.” (Seseorang
akan mati, tetapi tidak dengan idenya).
Cukup sudah hanya duduk manis, diam termangu dan mengangguk-angguk
saja. Sekarang waktunya bergerak, berpikir, menulis, dan meninggalkan jejak. Tugas
kita bukan hanya sekadar menjadi pembaca pasif saja, tetapi juga penulis aktif.
Jangan menjadi mesin fotokopi yang hanya membaca dan menyalin saja, tetapi
jadilah mesin tik yang menghasilkan sebuah tulisan dan karya. Dunia tak hanya
butuh pembaca, dunia butuh penulis.
Tak heran, wahyu pertama yang turun yaitu iqra’ (bacalah), yang
merupakan fi’il amr (kata kerja perintah) dari kata qara’a (membaca).
Kalau dalam salah satu hadis Nabi disebutkan “Ummuka, Ummuka, Ummuka,
tsumma Abuka”, maka dalam konteks ini, mari kita ubah menjadi Iqra’,
Iqra’, Iqra’, tsumma Uktub (bacalah, bacalah, bacalah, kemudian tulislah). Bukankah
sia-sia ilmu yang hanya disimpan di dalam kepala dan tak dituliskan? Bukankah
Ia sendiri yang mengancam kita melalui sabda Nabi-Nya?
J.S. Khairen mengatakan, “Seorang penulis yang baik adalah
seorang pembaca yang rakus”, sedangkan Najwa Shihab mengatakan, “Hanya
perlu satu buku untuk jatuh cinta”; karena sejatinya, semua buku bernilai
sama. Semua buku memberikan sedikitnya satu hal baru bagi pembaca. Entah itu
buku fiksi maupun non-fiksi. Buku non-fiksi membentuk gagasan dan nalar, sementara
buku fiksi untuk membentuk imajinasi dan menyentuh hati.
Terbukti, buku bukan hanya merupakan jendela dunia, tetapi juga
merupakan jendela menuju dimensi lain, dimensi yang tak hanya terikat batas dan
waktu; bukan hanya masa lalu, tetapi juga imajinasi dan masa depan. Melalui
buku, kita bisa melihat masa lalu, membaca masa depan, dan menjelajah dunia
imajinasi dan ide orang lain.
Maka dari itu, jangan hanya membaca, tapi juga mulailah menulis. Sang
Nabi memulai risalahnya dengan Iqra’, tapi tak berhenti di sana, risalah
itu dituliskan, dijaga, dan diwariskan. Read Everything, Write Anything.
Mari membaca, mari menulis. Mari tinggalkan jejak untuk masa depan. Untuk
kemajuan ilmu pengetahuan, untuk kebaikan, dan untuk peradaban.
Tulisan ini merupakan buah pikiran dari sesi menulis bebas selama satu jam pada SLC 2025. Beberapa bagiannya sudah direvisi, sementara bagian lain tetap mempertahankan ide dan narasi yang sama.
Oiya, "Read Everything, Write Anything" merupakan bio Instagram saya. Kalau tidak percaya, cek saja sendiri di @hafidzarrizki.
Sekian. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar