Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua
puluh enam.
Pukul dua puluh dua lewat enam.
Aku sedang
menulis catatan harianku yang sudah lama sekali tak kujamah sejak Juni. Buku biru
muda itu seakan jauh sekali dariku, meski tak sampai sehasta dari dipanku. Betullah apa dikata, kalau malas sudah mendera, alamat takkan pernah buku
itu terbuka. Selamanya akan tinggal di sana, di ujung rak buku putih, satu
barisan dengan Catatan Harian Anne Frank putih itu.
Sampai akhirnya
aku melihat status WhatsApp salah seorang teman, meraikan kemenangannya
meraih juara kedua, pada cabang perlombaan sulih suara bahasa Arab. Tanpa ragu,
langsung kutelepon dia, karena sudah memuncak hasrat ‘tuk membaca nama tim kami di
urutan kedua (atau paling tidak, ketiga) pada lomba vlog bahasa Arab. Sayang
beribu sayang, hasil pemenang hanya bisa diakses sang empunya akun yang
mendaftar di situs tersebut. Yowes, aku pun langsung menghubungi salah
seorang senior, sang penulis naskah, sang pendaftar, sang sang sang apa
sajalah, intinya dia yang mendaftarkan tim kami dengan akunnya.
Seakan dibisikkan
semesta, di tengah kegundahanku menunggu pengumuman juara, Pak Ketua Prodi
menelepon, bertanya hal yang sama. “Bukan saya yang mendaftar di websitenya,
Pak.” jawabku. Toh memang benar, lagipula baru malam ini kutahu
kalau lomba ADIA kini ada situsnya. Harus login pulak. Padahal hanya
ingin mengintip daftar juara. Ah, perihal ADIA… itu akronim dari Asosiasi Dosen
Ilmu-Ilmu Adab. Setiap tahun, ADIA memang rutin mengadakan perlombaan internasional.
Pesertanya pun beragam, seluruh mahasiswa/i Fakultas Adab PTKI se-Indonesia Raya.
Tak berselang
lama, seniorku tadi mengirimkan sebuah file PDF, diiringi pesan singkat “ini
pengumumannya fiz” dan “tetap semangat”. Bak sambaran petir dan gampo
yang membuat bumi berkuru-kuru[1], pupus
sudah harapan. Jauh, jauh sekali dari ekspektasi. Sesak dada membacanya, tim
kami berada di urutan keempat belas dari dua puluh dua peserta. Hal yang lebih
menyesakkan hati, pemenang juara dua diisi oleh mahasiswi UIN Imam Bonjol
sendiri! Mak, oh mak, alamakjang.
Selamat tinggal,
juara tiga, apatah lagi juara dua. Memang, dari awal pun tidak bermimpi
juara. Lagian kan hanya mengisi kekosongan peserta lomba saja. Tapi, tak
ada salahnya berharap, kan? Tak ada salahnya berdoa tahun ini masuk tiga besar,
kan? Tuhan, kapan aku bisa menerima penghargaan lomba internasional itu? Setelah
tahun lalu gagal menembus tiga besar, kini malah terdegradasi, gagal masuk
sepuluh besar. Nasib badan.
Perihal kecewa,
dari awal aku memang sudah kecewa karena mahasiswa bahasa Arab tak diperkenankan
berlomba dengan bahasa Inggris. Padahal, sudah setahun kusimpan sumpah akan
menyabet juara pidato bahasa Inggris itu, namun hasilnya tak sesuai ekspektasi.
Ini sih namanya bukan kalah sebelum berperang, tapi nggak bisa
perang karena beda bahasa, beda jalur lomba. Fyuh, awak ‘dah
membayangkan setiap hari exercise depan cermin sambil merapal mantra-mantra
pembuka, namun yang didapat meleset jauh dari bayangan semula.
Rule is rule.
Para pemain harus tunduk pada aturan main. Apa mau dikata, memang sudah begitu peraturannya.
Tapi tetap, aku sangat menyayangkan aturan main yang nyeleneh itu. Memangnya
kenapa anak Bahasa Arab berlomba bahasa Inggris? wong sama-sama bahasa, kok,
sama-sama baca puisi dan pidato, kok. Kecuali yang satu ngaji, yang satu
nyanyi. Baru boleh dibatasi. Intinya, aku harus menenggak pil pahit dan menelan
sumpah palapa yang kuikrarkan saat bertekad ‘tuk juara pidato bahasa Inggris
dulu.
Tapi tak
mengapa, toh aku tak benar-benar kalah. Aku ingat betul momen-momen
dikomentari oleh orang-orang Inggris (baca: dosen-dosen TBI) karena
minat dan kemampuanku bercakap bahasa omputeh[2] itu. Mulai dari
DeeTee hingga Miss Chanti, semuanya terheran-heran,
seolah aneh bin ajaib ada anak BSA yang ‘lumayan’ berbahasa Inggris. Lebih-lebih,
DeeTee pernah nyeletuk, “why are you so smart?”. Memangnya kenapa?
‘Arablish? maa fii musykilah, I think.
Pada suatu
kesempatan, aku dan Hawa diminta untuk ‘mencatat hal-hal penting’ dari
wawancara Pak Qosim dan Miss Chanti dengan delegasi SeIBa Int’l Fest dari Filipina.
Bukan sembarang mencatat, rupanya kami diminta menjadi real time interpreter
dari percakapan mereka yang mencuat kesana kemari tak tentu arah. Mulai dari
sosial, politik, hingga madrasah. Jadi, aku tak benar-benar kalah, hanya saja
tak punya wadah (yak, berusaha menghibur diri).
Sebelum berakhir,
izinkan aku memberi setinggi-tinggi tahniah untuk kawan-kawan BSA yang mustahak
meraih juara pada perlombaan ADIA tahun ini. Semoga berkah, membawa kebaikan bagi
BSA. Ribuan terima kasih juga kuucapkan kepada abang-abang senior; Bang Asrul
yang telah bertungkus lumus menyusun naskah, Bang Feckry yang sudah basitungkin
mengedit video, serta Bu Awliya Rahmi dan Pak Reflinaldi, yang telah mendukung
penuh semua mahasiswa/i prodi BSA berkontestasi tahun ini. Bak kata influencer
dakwah Instagram, semoga lelah kita menjadi lillah. Wa mā taufīqī illā billāh.
Terakhir, teruntuk
diriku, ihwal kalah dan kecewa, dalam perlombaan itu hal biasa. Yang sudah
berlalu, biarlah berlalu. Biarlah perjuangan hari ini menjadi kisah perjalanan
panjang mendapat juara ADIA suatu hari nanti. Lain kali, kita coba lagi. Kalau kata Allahyarhamah
Bu Akhsid Hariyani, “Bila gagal… yaa
coba lagi! sampai kapan? sampai sukses!” Al-Fatihah…
Takarir Instagram mendiang, pada 29 Maret 2018 silam.
Dari Padang,
Yang berjarak 1.499 km dari Cirebon sana,
Hafidz Arrizki

Tidak ada komentar:
Posting Komentar