Mari Membaca, Mari Jatuh Cinta
“Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca,
cari buku itu, mari jatuh cinta.”
(Najwa Shihab)
Rihlah ke Bandung
Di akhir
bulan April 2023 lalu, saya mengadakan rihlah (jalan-jalan) bersama guru
ngaji dan kawan-kawan TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) saya ke Bandung, Jawa Barat.
Kami mengadakan rihlah singkat selama tiga hari, mengunjungi Masjid Raya Al-Jabbar
yang baru saja diresmikan pada Desember 2022 silam oleh Ridwan Kamil (yang akrab
disapa Kang Emil), Gubernur Jawa Barat saat itu. Tak heran, masjid yang
baru saja diresmikan di tengah lahan persawahan itu memang sangat iconic,
instagrammable, dan eye-catching bagi para wisatawan dari berbagai
kota.
Perjalanan
kami dimulai dari Stasiun Parung Panjang, Bogor, menuju Stasiun Tanah Abang,
Jakarta. Dari sana, kami berangkat menuju Purwakarta, dan melanjutkan
perjalanan menuju tujuan akhir ke Stasiun Cimekar, Bandung. Sepanjang ingatan
saya, kami beberapa kali berhenti dan turun di stasiun tertentu. Entah apalah namanya,
intinya saya ingat kami melewati terowongan dan perbukitan, sempat pula jajan
batagor di salah satu Stasiun.
Rincian perjalanan dan lokomotif persisnya saya tak ingat. Maklumlah, saya bukan seorang railfans, dan juga tak sempat mencatat perjalanan di catatan harian saya saat itu. Saya menulis ini pun bermodalkan ingatan dan ceceran dokumentasi yang tersisa di handphone. Intinya, yang saya ingat saat itu, begitu melangkah keluar dari kereta, saya sudah bisa merasakan hawa tiis (dingin) Bandung dan Masjid Raya Al-Jabbar yang berdiri megah di ujung sana.
Perjalanan Panjang
itu tentu saja akan terasa sangat membosankan, terlebih lagi jika tidak ada
makanan dan hiburan. Perihal makanan, kami membawa beberapa makanan ringan yang
kami beli di salah satu toko kelontong; dan ihwal hiburan, kami tidak bisa
bergantung sepenuhnya pada handphone, karena port charger terbatas,
dan tidak semua dari kami membawa powerbank. Akhirnya, kami mencari hiburan
masing-masing. Ada yang mengobrol, berbincang dengan orang lain, hingga tidur (ini
sih bukan hiburan, ya).
Lantas, bagaimana dengan saya? powerbank tak punya, dan tak cukup tenaga ‘tuk bersosialisasi dengan penumpang lain di kanan-kiri. Syukurlah saya membawa sebuah buku yang saya ambil dari rak buku ayah di rumah. Buku usang, halamannya sudah menguning, dan bisa dipastikan sudah tak ‘berbau surga’ lagi. Sejujurnya, saya sendiri tak tahu apa yang dibahas di dalam buku tersebut. Saya mengambilnya karena penasaran dan tertarik dengan judul serta covernya. Buku tersebut berjudul Kidung Angklung di Tanah Persia, karya Kang Miftah F. Rakhmat.
Mulanya, saya
kurang tertarik dengan pembahasan buku tersebut. Namun, lama kelamaan, saya
semakin tenggelam dalam untaian kata dan puluhan kisah yang ada di dalamnya. Bak
diajak ikut berkelana di Negeri Para Mullah, saya merasa ‘tersihir’
dengan kisah-kisah yang disampaikan Kang Miftah. Saya jadi teringat potongan
lirik lagu Justice Voice berjudul Rumus Canggih:
Dibolak balik, kok makin asyik
Makin dibaca semakin menarik
Coba diresapi, kok tambah asyik
Sampe-sampe mata gak mau melirik
Meskipun saya tahu yang dimaksud pada lagu di
atas adalah Al-Qur’an, tapi rasanya lirik tersebut cukup menggambarkan kondisi
saya membaca buku tersebut selama perjalanan Jakarta-Bandung.
Kalau motivator
bilang semua dimulai dari langkah pertama, maka dalam konteks ini izinkan saya
mengubahnya menjadi “semua dimulai dari halaman pertama”. Satu halaman
yang mampu membuat kita tertarik untuk membaca halaman-halaman berikutnya. Sebaris
demi sebaris, kemudian separagraf, lalu sehalaman, selembar, hingga satu bab,
lama-lama menamatkan satu buah buku. Saya tak ingat apakah saya menghabiskan
buku Kang Miftah selama rihlah ke Bandung atau tidak, tapi intinya, buku
itu benar-benar menemani perjalanan saya.
Sejak saat
itu, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda, semacam ada energi yang merasuki
tubuh saya, kemudian mengubah saya menjadi orang lain, menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Meskipun terdengar lebay, tapi kenyataannya demikian. Buku usang
tersebut benar-benar berkesan buat saya, sampai-sampai saya ingat suatu kutipan
yang hingga saat ini saya gunakan dalam kehidupan sehari-hari saya, yaitu “Do
your best, and let God do the rest”. Baiklah, kerjakan sebisanya, ikhtiar;
lalu? Tawakkal, biarlah Allah yang melakukan sisanya.
Mulanya saya
terheran-heran, perasaan apakah yang merasuki saya ini. Tak bisa digambarkan,
seperti rasa bahagia, senang, bersemangat, semua bercampuraduk menjadi satu. Atau
mungkin, saya sedang jatuh cinta (lagi)? Kali ini bukan dengan siapa… tapi dengan
apa. Kali ini bukan karena sosok gadis berparas cantik jelita, tapi dengan sebuah
buku usang yang sudah lama selesai dibaca pemiliknya. Ya, mungkin memang benar,
mungkin inilah yang disebut dengan The Butterfly Effect itu. Walaupun saya
tak yakin pernah benar-benar merasakannya, setidaknya perasaan ini cukup
membahagiakan dan menggembirakan.
Saya mulai
mencari judul-judul buku lainnya di rak ayah saya. Dengan total 4 buah rak buku
yang tersebar di teras, ruang tamu, dan halaman belakang rumah; dengan lebih
dari ratusan judul dan jenis buku, saya seperti orang kelaparan yang mencari sesuap
nasi untuk mengenyangkan perut. Hari ini kenyang, besok lapar lagi. Siklusnya terus
begitu, sampai saya benar-benar menemukan judul yang cocok untuk saya baca kembali.
Beragam genre saya cicipi, mulai dari buku fiksi, nonfiksi, buku agama, hingga
konspirasi. Mulai dari komik, seri majalah Sabili, hingga Garut Kota
Illuminati.
Gramedia: Surga Dunia
Betul apa
dikata Mbak Nana, “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca”,
dan rasanya, saya sudah menemukan buku itu. Saya sudah follin’ in lof pada
membaca (lagi). Sejak saat itu hingga hari ini, setiap bulan saya selalu menyisihkan
uang untuk membeli buku, setidaknya satu buku dalam satu semester. Biasanya,
saya pergi ke Gramedia untuk melihat-lihat buku menarik, sekaligus mencari
judul-judul terbaru dari penulis-penulis tersohor macam Tere Liye. J.S. Khairen,
Leila S. Chudori, dll.
Bagi saya,
Gramedia adalah surga dunia. Harumnya, suasananya, hingga tumpukan buku yang
berderet rapi di rak-rak yang tersusun secara sistematis. Lama kelamaan, saya
jadi semakin familiar dan hafal dengan tata letaknya. Mau cari novel, naik ke
lantai dua, pergi ke pojok kanan sebelah kasir. Mau cari buku agama, letaknya di rak
bagian tengah, di samping buku-buku self improvement. Meski demikian,
pergi ke Gramedia pun tak bisa sembarangan. Saya sangat tidak menyarankan pergi
tanpa niat dan budget yang cukup. Bagaimana tidak, melihat judul para
penulis tersohor ini, jadi tersihir kita dibuatnya.
Biasanya,
saya pergi ke Gramedia bersama kawan-kawan saya untuk ‘survei harga’ terlebih
dahulu. Mahasiswa harus pandai mengelola keuangan, apalagi macam kami-kami ini yang
hidup di perantauan. Sudahlah pajak buku tinggi, harga buku di Sumatra naik
pula 10% dari harga aslinya. Selain mbak-mbak Jawa, hal lain yang bikin
sakit hati yaitu membaca ‘Harga P. Jawa’ yang lebih murah dari harga di
Sumatra. Tapi tak mengapa, setelah membaca Selamat Tinggal-nya Bang Tere
Liye, saya tak lagi-lagi berhasrat meminang buku-buku bajakan seharga Rp30.000.
Banyak jalan
menuju Roma, maka banyak jalan pula ‘tuk membeli buku. Karena Gramedia adalah surga
dunia, maka seharusnya ada banyak jalan menuju surga. Buku-buku kini tersedia di
berbagai platform. Jika tak suka membaca buku fisik, bisa membeli buku
digital di Google Books dengan harga yang lebih murah. Saya pribadi
lebih suka membaca buku fisik, ada sensasi membolak-balik dan melipat halaman,
serta yang terpenting bisa menghirup aroma surgawi secara langsung. Salah satu
cara mengakalinya yaitu dengan berbelanja di e-commerce. Jadi intinya, survei
harganya ke Gramedia, lalu checkout-nya di keranjang kuning.
Bukan Perihal Beli Buku, Tapi Baca Buku!
Ngomongin
Gramedia, jangan disangka saya terus menerus beli, beli, dan beli buku saja. Di
kamar indekos, saya menulis kalimat untuk menyadarkan saya, bahwa
sebenarnya bukan perihal membeli, melainkan membaca. Kalimatnya seperti ini “Bukan
seberapa banyak kamu beli buku, tapi seberapa banyak kamu baca buku”. Entahlah,
apakah kutipan ini sudah ada pemiliknya atau belum, tapi yang jelas, kalimat
itu terlintas begitu saja di kepala saya. Toh, kalaupun sudah ada yang
punya, berarti kebetulan semata. Kembali ke topik, lagi-lagi saya ingatkan, intinya
bukan beli buku, tapi baca buku. Judul tulisan ini juga mari membaca,
bukan mari berbelanja, hahaha.
Tak semua
buku yang saya baca pun milik saya pribadi. Sebelum berkuliah, saya sering meminjam
buku kawan-kawan saya, tak sedikit buku perpustakaan sekolah yang bermalam
hingga seminggu di kamar saya. Kalau sudah tak tahu dan segan mau meminjam ke
siapa lagi, jalan terakhir ya melibas buku-buku di rak buku milik ayah. Setelah
kuliah inilah, saya baru merasakan kebebasan finansial dalam membeli
buku, hahaha. Walau sebenarnya juga masih bergantung pada kiriman orang tua,
dan juga uang yang ditabung untuk membeli buku. Prioritas mahasiswa adalah
makan, bukan jajan buku, kira-kira begitulah prinsip hidup mahasiswa di
perantauan.
Meski demikian,
tak dapat dipungkiri bahwa buku memang semenggiurkan itu. Rasanya, saya selalu
bergairah jika dihadapkan dengan buku-buku, apalagi diajak ke Gramedia. Berbeda
dengan perpustakaan, Gramedia tidak punya aura dan staff yang jutek, judes, dan
menjengkelkan. Mereka siap menyambut pengunjung dengan ramah, walaupun kebanyakan
rohalus (rombongan hanya elus-elus) dan rojali (rombongan jarang
beli). Berbeda dengan perpustakaan, terlebih perpustakaan kampus yang aura
dan staffnya…[sebagian teks hilang]—ah, sudahlah.
Kalau kata
Buṡainah al-‘Īsa dalam novelnya berjudul The Book Censor’s Library (yang
diterjemahkan dalam versi aslinya berbahasa Arab dengan judul حارس سطح العالم), buku-buku itu sangat berbahaya, karena di
dalamnya terdapat gadis-gadis cantik yang memanggil, meminta kita untuk
menyelamatkannya (membelinya; kemudian membacanya). Bagi saya, yang terpenting
bukan sekadar membaca isinya, tapi juga mengaplikasikan hal di dalamnya. Contohnya,
meskipun saya kurang menyukai buku bergenre filsafat, saya masih ingat prinsip stoic
yang dipaparkan Om Henry Manampiring dalam Filosofi Terasnya perihal
dikotomi kendali. Ya, siapa yang tidak tahu isinya, kan?
Special
thanks untuk Bu Hetti
yang sudah memberi tugas meresensi buku, hingga akhirnya mempertemukan saya
dengan novel Sesuk karya Tere Liye (terima kasih juga saya ucapkan pada Oca
yang sudah meminjamkan novel miliknya). Resensi tersebut saya kirim ke redaktur
LPM Suara Kampus (saat masih magang di sana), dan akhirnya, tulisan saya
tersebut diterima dan dimuat dalam majalah mereka edisi ke-10 (2023). Lebih
jauh, sebelum pengaruh orang lain, saya juga berterima kasih
sebanyak-banyak-banyaknya untuk Ayah dan Ibu, yang membiarkan rak bukunya
terbuka, bebas dibaca siapa saja. Mungkin, kalau ayah saya berkesempatan
membaca tulisan ini, satu hal yang ingin saya sampaikan padanya, “Terima
kasih, ayah!
Sebagai
penutup, saya mengajak para pembaca yang budiman sekalian untuk ikut membaca,
bukan hanya berenang di permukaan, tetapi juga menyelam hingga ke dasar, hingga
kecanduan, hingga keranjingan membaca. Tulisan ini bukanlah hall of fame bacaan
dan pencapaian pribadi saya, tapi merupakan sekelumit kisah perjalanan saya
jatuh cinta (kembali) dengan membaca. Mambangkik batang tarandam, hidup kembali dari mati suri setelah sekian lama
vakum dari buku dan tulisan. Fiksi dan nonfiksi sama-sama penting, fiksi untuk
hati, nonfiksi untuk kepala. Semoga, tulisan ini dapat bermanfaat, menghibur,
dan menginspirasi. #MariMembaca, #MariJatuhCinta.
Maka, mari
jatuh cinta.
Jatuh cinta
yang takkan pernah menghadirkan kecewa,
Jatuh cinta
yang takkan pernah meninggalkan luka,
Jatuh cinta
terindah, pada buku dan membaca.
Mari membaca,
mari jatuh cinta.
Padang, 6
Desember 2025
Hafidz
Arrizki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar