06 Desember 2025

Mari Membaca, Mari Jatuh Cinta

Mari Membaca, Mari Jatuh Cinta  

“Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca,

cari buku itu, mari jatuh cinta.”

(Najwa Shihab)

 

Rihlah ke Bandung

Di akhir bulan April 2023 lalu, saya mengadakan rihlah (jalan-jalan) bersama guru ngaji dan kawan-kawan TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) saya ke Bandung, Jawa Barat. Kami mengadakan rihlah singkat selama tiga hari, mengunjungi Masjid Raya Al-Jabbar yang baru saja diresmikan pada Desember 2022 silam oleh Ridwan Kamil (yang akrab disapa Kang Emil), Gubernur Jawa Barat saat itu. Tak heran, masjid yang baru saja diresmikan di tengah lahan persawahan itu memang sangat iconic, instagrammable, dan eye-catching bagi para wisatawan dari berbagai kota.

Perjalanan kami dimulai dari Stasiun Parung Panjang, Bogor, menuju Stasiun Tanah Abang, Jakarta. Dari sana, kami berangkat menuju Purwakarta, dan melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir ke Stasiun Cimekar, Bandung. Sepanjang ingatan saya, kami beberapa kali berhenti dan turun di stasiun tertentu. Entah apalah namanya, intinya saya ingat kami melewati terowongan dan perbukitan, sempat pula jajan batagor di salah satu Stasiun.

Rincian perjalanan dan lokomotif persisnya saya tak ingat. Maklumlah, saya bukan seorang railfans, dan juga tak sempat mencatat perjalanan di catatan harian saya saat itu. Saya menulis ini pun bermodalkan ingatan dan ceceran dokumentasi yang tersisa di handphone. Intinya, yang saya ingat saat itu, begitu melangkah keluar dari kereta, saya sudah bisa merasakan hawa tiis (dingin) Bandung dan Masjid Raya Al-Jabbar yang berdiri megah di ujung sana.

Perjalanan Panjang itu tentu saja akan terasa sangat membosankan, terlebih lagi jika tidak ada makanan dan hiburan. Perihal makanan, kami membawa beberapa makanan ringan yang kami beli di salah satu toko kelontong; dan ihwal hiburan, kami tidak bisa bergantung sepenuhnya pada handphone, karena port charger terbatas, dan tidak semua dari kami membawa powerbank. Akhirnya, kami mencari hiburan masing-masing. Ada yang mengobrol, berbincang dengan orang lain, hingga tidur (ini sih bukan hiburan, ya).

Lantas, bagaimana dengan saya? powerbank tak punya, dan tak cukup tenaga ‘tuk bersosialisasi dengan penumpang lain di kanan-kiri. Syukurlah saya membawa sebuah buku yang saya ambil dari rak buku ayah di rumah. Buku usang, halamannya sudah menguning, dan bisa dipastikan sudah tak ‘berbau surga’ lagi. Sejujurnya, saya sendiri tak tahu apa yang dibahas di dalam buku tersebut. Saya mengambilnya karena penasaran dan tertarik dengan judul serta covernya. Buku tersebut berjudul Kidung Angklung di Tanah Persia, karya Kang Miftah F. Rakhmat.

Mulanya, saya kurang tertarik dengan pembahasan buku tersebut. Namun, lama kelamaan, saya semakin tenggelam dalam untaian kata dan puluhan kisah yang ada di dalamnya. Bak diajak ikut berkelana di Negeri Para Mullah, saya merasa ‘tersihir’ dengan kisah-kisah yang disampaikan Kang Miftah. Saya jadi teringat potongan lirik lagu Justice Voice berjudul Rumus Canggih:

Dibolak balik, kok makin asyik

Makin dibaca semakin menarik

Coba diresapi, kok tambah asyik

Sampe-sampe mata gak mau melirik 

Meskipun saya tahu yang dimaksud pada lagu di atas adalah Al-Qur’an, tapi rasanya lirik tersebut cukup menggambarkan kondisi saya membaca buku tersebut selama perjalanan Jakarta-Bandung.

Kalau motivator bilang semua dimulai dari langkah pertama, maka dalam konteks ini izinkan saya mengubahnya menjadi “semua dimulai dari halaman pertama”. Satu halaman yang mampu membuat kita tertarik untuk membaca halaman-halaman berikutnya. Sebaris demi sebaris, kemudian separagraf, lalu sehalaman, selembar, hingga satu bab, lama-lama menamatkan satu buah buku. Saya tak ingat apakah saya menghabiskan buku Kang Miftah selama rihlah ke Bandung atau tidak, tapi intinya, buku itu benar-benar menemani perjalanan saya.

Sejak saat itu, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda, semacam ada energi yang merasuki tubuh saya, kemudian mengubah saya menjadi orang lain, menjadi lebih baik dari sebelumnya. Meskipun terdengar lebay, tapi kenyataannya demikian. Buku usang tersebut benar-benar berkesan buat saya, sampai-sampai saya ingat suatu kutipan yang hingga saat ini saya gunakan dalam kehidupan sehari-hari saya, yaitu “Do your best, and let God do the rest”. Baiklah, kerjakan sebisanya, ikhtiar; lalu? Tawakkal, biarlah Allah yang melakukan sisanya.

Mulanya saya terheran-heran, perasaan apakah yang merasuki saya ini. Tak bisa digambarkan, seperti rasa bahagia, senang, bersemangat, semua bercampuraduk menjadi satu. Atau mungkin, saya sedang jatuh cinta (lagi)? Kali ini bukan dengan siapa… tapi dengan apa. Kali ini bukan karena sosok gadis berparas cantik jelita, tapi dengan sebuah buku usang yang sudah lama selesai dibaca pemiliknya. Ya, mungkin memang benar, mungkin inilah yang disebut dengan The Butterfly Effect itu. Walaupun saya tak yakin pernah benar-benar merasakannya, setidaknya perasaan ini cukup membahagiakan dan menggembirakan.

Saya mulai mencari judul-judul buku lainnya di rak ayah saya. Dengan total 4 buah rak buku yang tersebar di teras, ruang tamu, dan halaman belakang rumah; dengan lebih dari ratusan judul dan jenis buku, saya seperti orang kelaparan yang mencari sesuap nasi untuk mengenyangkan perut. Hari ini kenyang, besok lapar lagi. Siklusnya terus begitu, sampai saya benar-benar menemukan judul yang cocok untuk saya baca kembali. Beragam genre saya cicipi, mulai dari buku fiksi, nonfiksi, buku agama, hingga konspirasi. Mulai dari komik, seri majalah Sabili, hingga Garut Kota Illuminati.

 

Gramedia: Surga Dunia

Betul apa dikata Mbak Nana, “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca”, dan rasanya, saya sudah menemukan buku itu. Saya sudah follin’ in lof pada membaca (lagi). Sejak saat itu hingga hari ini, setiap bulan saya selalu menyisihkan uang untuk membeli buku, setidaknya satu buku dalam satu semester. Biasanya, saya pergi ke Gramedia untuk melihat-lihat buku menarik, sekaligus mencari judul-judul terbaru dari penulis-penulis tersohor macam Tere Liye. J.S. Khairen, Leila S. Chudori, dll.

Bagi saya, Gramedia adalah surga dunia. Harumnya, suasananya, hingga tumpukan buku yang berderet rapi di rak-rak yang tersusun secara sistematis. Lama kelamaan, saya jadi semakin familiar dan hafal dengan tata letaknya. Mau cari novel, naik ke lantai dua, pergi ke pojok kanan sebelah kasir. Mau cari buku agama, letaknya di rak bagian tengah, di samping buku-buku self improvement. Meski demikian, pergi ke Gramedia pun tak bisa sembarangan. Saya sangat tidak menyarankan pergi tanpa niat dan budget yang cukup. Bagaimana tidak, melihat judul para penulis tersohor ini, jadi tersihir kita dibuatnya.

Biasanya, saya pergi ke Gramedia bersama kawan-kawan saya untuk ‘survei harga’ terlebih dahulu. Mahasiswa harus pandai mengelola keuangan, apalagi macam kami-kami ini yang hidup di perantauan. Sudahlah pajak buku tinggi, harga buku di Sumatra naik pula 10% dari harga aslinya. Selain mbak-mbak Jawa, hal lain yang bikin sakit hati yaitu membaca ‘Harga P. Jawa’ yang lebih murah dari harga di Sumatra. Tapi tak mengapa, setelah membaca Selamat Tinggal-nya Bang Tere Liye, saya tak lagi-lagi berhasrat meminang buku-buku bajakan seharga Rp30.000.

Banyak jalan menuju Roma, maka banyak jalan pula ‘tuk membeli buku. Karena Gramedia adalah surga dunia, maka seharusnya ada banyak jalan menuju surga. Buku-buku kini tersedia di berbagai platform. Jika tak suka membaca buku fisik, bisa membeli buku digital di Google Books dengan harga yang lebih murah. Saya pribadi lebih suka membaca buku fisik, ada sensasi membolak-balik dan melipat halaman, serta yang terpenting bisa menghirup aroma surgawi secara langsung. Salah satu cara mengakalinya yaitu dengan berbelanja di e-commerce. Jadi intinya, survei harganya ke Gramedia, lalu checkout-nya di keranjang kuning.

 

Bukan Perihal Beli Buku, Tapi Baca Buku!

Ngomongin Gramedia, jangan disangka saya terus menerus beli, beli, dan beli buku saja. Di kamar indekos, saya menulis kalimat untuk menyadarkan saya, bahwa sebenarnya bukan perihal membeli, melainkan membaca. Kalimatnya seperti ini “Bukan seberapa banyak kamu beli buku, tapi seberapa banyak kamu baca buku”. Entahlah, apakah kutipan ini sudah ada pemiliknya atau belum, tapi yang jelas, kalimat itu terlintas begitu saja di kepala saya. Toh, kalaupun sudah ada yang punya, berarti kebetulan semata. Kembali ke topik, lagi-lagi saya ingatkan, intinya bukan beli buku, tapi baca buku. Judul tulisan ini juga mari membaca, bukan mari berbelanja, hahaha.

Tak semua buku yang saya baca pun milik saya pribadi. Sebelum berkuliah, saya sering meminjam buku kawan-kawan saya, tak sedikit buku perpustakaan sekolah yang bermalam hingga seminggu di kamar saya. Kalau sudah tak tahu dan segan mau meminjam ke siapa lagi, jalan terakhir ya melibas buku-buku di rak buku milik ayah. Setelah kuliah inilah, saya baru merasakan kebebasan finansial dalam membeli buku, hahaha. Walau sebenarnya juga masih bergantung pada kiriman orang tua, dan juga uang yang ditabung untuk membeli buku. Prioritas mahasiswa adalah makan, bukan jajan buku, kira-kira begitulah prinsip hidup mahasiswa di perantauan.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa buku memang semenggiurkan itu. Rasanya, saya selalu bergairah jika dihadapkan dengan buku-buku, apalagi diajak ke Gramedia. Berbeda dengan perpustakaan, Gramedia tidak punya aura dan staff yang jutek, judes, dan menjengkelkan. Mereka siap menyambut pengunjung dengan ramah, walaupun kebanyakan rohalus (rombongan hanya elus-elus) dan rojali (rombongan jarang beli). Berbeda dengan perpustakaan, terlebih perpustakaan kampus yang aura dan staffnya…[sebagian teks hilang]—ah, sudahlah.

Kalau kata Buṡainah al-‘Īsa dalam novelnya berjudul The Book Censor’s Library (yang diterjemahkan dalam versi aslinya berbahasa Arab dengan judul حارس سطح العالم), buku-buku itu sangat berbahaya, karena di dalamnya terdapat gadis-gadis cantik yang memanggil, meminta kita untuk menyelamatkannya (membelinya; kemudian membacanya). Bagi saya, yang terpenting bukan sekadar membaca isinya, tapi juga mengaplikasikan hal di dalamnya. Contohnya, meskipun saya kurang menyukai buku bergenre filsafat, saya masih ingat prinsip stoic yang dipaparkan Om Henry Manampiring dalam Filosofi Terasnya perihal dikotomi kendali. Ya, siapa yang tidak tahu isinya, kan?

Special thanks untuk Bu Hetti yang sudah memberi tugas meresensi buku, hingga akhirnya mempertemukan saya dengan novel Sesuk karya Tere Liye (terima kasih juga saya ucapkan pada Oca yang sudah meminjamkan novel miliknya). Resensi tersebut saya kirim ke redaktur LPM Suara Kampus (saat masih magang di sana), dan akhirnya, tulisan saya tersebut diterima dan dimuat dalam majalah mereka edisi ke-10 (2023). Lebih jauh, sebelum pengaruh orang lain, saya juga berterima kasih sebanyak-banyak-banyaknya untuk Ayah dan Ibu, yang membiarkan rak bukunya terbuka, bebas dibaca siapa saja. Mungkin, kalau ayah saya berkesempatan membaca tulisan ini, satu hal yang ingin saya sampaikan padanya, “Terima kasih, ayah!

Sebagai penutup, saya mengajak para pembaca yang budiman sekalian untuk ikut membaca, bukan hanya berenang di permukaan, tetapi juga menyelam hingga ke dasar, hingga kecanduan, hingga keranjingan membaca. Tulisan ini bukanlah hall of fame bacaan dan pencapaian pribadi saya, tapi merupakan sekelumit kisah perjalanan saya jatuh cinta (kembali) dengan membaca. Mambangkik batang tarandam, hidup  kembali dari mati suri setelah sekian lama vakum dari buku dan tulisan. Fiksi dan nonfiksi sama-sama penting, fiksi untuk hati, nonfiksi untuk kepala. Semoga, tulisan ini dapat bermanfaat, menghibur, dan menginspirasi. #MariMembaca, #MariJatuhCinta.

 

Maka, mari jatuh cinta.

Jatuh cinta yang takkan pernah menghadirkan kecewa,

Jatuh cinta yang takkan pernah meninggalkan luka,

Jatuh cinta terindah, pada buku dan membaca.

Mari membaca, mari jatuh cinta.

 

 

 

Padang, 6 Desember 2025
Hafidz Arrizki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...