28 Juli 2025

Sepucuk Surat untuk Juwita

Makassar, Maret 2015

Tak biasanya aku linglung dan gelisah begini. Entah apa gerangan, tiada angin, tiada hujan; jiwaku rasanya gelisah tanpa alasan. Tubuh ini seakan hendak pergi tanpa tujuan, menuntut jawaban dari setiap pertanyaan yang terlintas di pikiran.

Aku pergi ke Taman, mencari angin segar ‘tuk menjernihkan angan. Bukannya tenang yang kudapat, malah sengsara yang semakin mengacaukan pikiran. Langkahku terhenti, tepat di depan bangku taman berwarna hijau tua. Ya, bangku taman itu, yang kini telah pudar warnanya. Aku ingat betul, di sini tempat kita pertama kali bertemu, saling berjabat tangan, berkenalan.

Pertemuan yang tak disengaja itu, Ah… tujuh tahun lalu, masih membekas sampai hari ini. Kau membaca buku, sambil menggenggam sepotong roti stroberi di tangan kananmu. Sedangkan aku, duduk termenung sambil meratapi nilai ujian Matematika di tangan kiriku.

 

“Ambil ini”, katamu, seraya memberikan sepotong roti stroberi itu.

 

Eh? Siapa pula gadis ini? Kawan bukan, saudara bukan, atau jangan-jangan, ini modus penipuan? –pikirku dalam hati.

 

“Ambillah, ini kubagi dua. Sudah sejam kuperhatikan, Kau tak bergerak seperti patung. Diam, membisu. Atau… jangan-jangan memang tak bisa bicara?”

 

Belum sempat kubalas sepatah kata pun, langsung Kau sambung, “Hidup jangan selalu dibawa serius, Kawan. Buka matamu, lihat sekitar. Hirup udara segar di taman ini. Masa depan tak ditentukan hanya dari secarik kertas hasil ujian. Lagipula, siapa yang bilang angka itu bukti kegagalan?”

 

Aku terpaku. Bukan hanya dari kalimatmu yang tajam, menusuk jantungku; tapi juga oleh senyummu yang tulus, menghujam hatiku.

 

“Aku Juwita, Juwita Jelita. Ayahku dimutasi ke sini, jadi kami sekeluarga pindah, deh. Kalo Kamu?”, ucapmu sambil menjulurkan tangan padaku.

 

“Andi, aku Andi. Andi Rassa”, balasku singkat.

 

“Andi siapa? Raisa? Rahasia? Rasa?” balasmu.

 

“Rassa, Andi Rassa”, tegasku.

 

“Memang sesuai dengan namamu. Kamu memang sangat perassa, hahaha. Tapi, ayolah, jangan dirassa-rassakan lagi. Simpan saja kertas usangmu itu”

 

Saat itu, untuk pertama kalinya, aku merasakan hal yang tak biasa. Aku tak pernah setenang ini mendengar orang lain –apalagi ini orang asing yang baru kukenal–mengolok-olok nilaiku, namaku dan ayahku. Entahlah, intinya yang kurasakan saat itu hanya satu: jantungku berdegup kencang tak karuan. 

Sejak saat itu, aku dan dirimu semakin sering bertemu. Walau tak satu sekolah, kita sering berpapasan di taman, dan duduk tepat di bangku hijau itu. Bahkan, saking seringnya kita bertemu, kursi hijau itu seakan-akan milik kita berdua, aku bayangkan ada papan tertulis di sana “reserved”, atau “milik Andi dan Juju”, hahaha.

Kita mulai bertukar nomor dan Facebook, saling berkirim pesan dan berbalas status. Setidaknya itu yang marak dilakukan muda-mudi zaman itu. Ingatkah dirimu, Ju? Saat kita tertidur ketinggalan kereta, dan berlari mengejar bis kota? Atau, dompetku dan kacamatamu yang hilang di Pantai Losari dulu? Duh, bak induk kehilangan anaknya, kalang-kabut kita mencari kesana kemari, sampai-sampai pasang puluhan berita kehilangan di status. Masih terukir jelas di benakku, jawabanmu saat kutanya mengapa tak kita laporkan ke polisi, “Gimana mau kita laporin ke polisi, wong dompetnya aja hilang dicuri! Nanti pakai apa bayarnya? Hahaha”

Sejak mengenal dirimu, aku belajar banyak hal. Begitupun dirimu, yang selalu memuji pengetahuanku tentang hal-hal yang belum Kau ketahui. Karenamu, aku suka baca buku. Walau tak segila dirimu, setidaknya sampai hari ini, aku berhasil menamatkan ratusan buku yang tak lagi kuingat satupun isinya. Dirimu juga telah mengubah caraku memandang dunia, termasuk kucing. Hewan yang selama ini kuanggap remeh karena sering mengais makanan di tempat sampah, meminta-minta makanan, ribut dan buang kotoran sembarangan, kini menjadi hewan kesayanganku.

Aku akan selalu ingat semua pemberianmu padaku. Sepotong roti stroberi, buku di hari ulang tahunku, dompet hitam baru, dan setoples makanan kucing yang Kau beli dari toko kecil di ujung jalan sana. Seminggu sebelum Kau pergi kembali ke Jawa.

“Setiap ada kucing, kasih makan ini”, katamu. Bagiku, itu merupakan wasiat yang harus kujalani.

Ajaibnya, sejak stoples makanan kucing itu Kau beri cuma-cuma padaku, sekawanan kucing selalu datang menghampiriku setiap hari. Sepasang kucing jantan dan betina, lengkap dengan dua ekor anak kucing. Setiap hari, di tempat yang sama. Di depan bangku hijau tempat kita biasa bertemu. Anehnya, kucing-kucing itu menghilang, tepat saat makanan kucing yang Kau berikan padaku habis. Seakan-akan mereka tahu, “pemilik” sebenarnya telah pergi, dan tugasku telah selesai.


Makassar, Maret 2025

Hai, Ju, aku kembali.
Mengunjungi bangku hijau yang kini telah tiada, hilang dimakan usia.
Tak bosan-bosan aku bercerita tentangmu, di buku catatan harianku, buku yang sama saat ku mengagumimu dan mengenangmu sepuluh tahun yang lalu. 

Apa kabarmu?
Masihkah Kau berkacamata? Masihkah gemar bersepeda?
Kalau soal membaca tak perlu kutanya. Kau ratunya. 

Sepertinya, kini kutahu hal yang menyebabkanku gelisah hari itu, tepat di bulan ini, sepuluh tahun yang lalu. Setelah kutelusuri, kubaca ulang buku-buku pemberianmu, kulihat kembali album foto kita saat masih bersama di organisasi dulu, rupanya ini gejala “rindu”.

Bagaimana tidak, sejak kepergianmu ke Sumatra saat itu, aku tak pernah lagi mendengar kabar darimu. Nomormu tak lagi aktif, begitupun juga Facebook-mu yang kini usang, tak lagi ada update status darimu.  

Aku bertanya-tanya, masihkah Kau ingat denganku? Dengan semua kisah dan janji kita di taman dulu? Berkisah tentang namamu yang “sangat Jawa”, walau keluargamu Melayu tulen, hingga asal-usul kerajaan Sriwijaya dan sosok “Sang Sri Nila Utama”.  

Terakhir, aku mendengar kabar burung tentangmu dari kawan organisasi kita dulu. Katanya, Kau telah dipersunting saudagar kaya dari pulau Jawa sana. Aku tak tahu benar atau tidak, tapi jika iya, kuharap Kau selalu bahagia, Ju. Selamat berlabuh di pulau impianmu, menyusuri malam di Jalan “Maliyabara”, bersama Mas-mu itu.

Teruntuk dirimu, nun jauh di sana,
Kutuliskan curahan hatiku untukmu, yang takkan pernah sampai padamu.
Ju, Izinkan aku menuliskan lirik lagu kesukaanmu,  

"Mande-mande, ana kona e mande
Kamu rasa bagaimana beta pulang kawin dengan se
Sauh reka-reka, gaba-gaba ampat buah
Kalo nyong sayang beta, mari dekat, dekat-dekat jua
Malayo, malayo, malayo
Malah ditinggal, dari tanjung tanjung yo"

 

Mangkasara’, Maret 2025
Dari “sahabatmu”, Andi Rassa.

27 Juli 2025

Materi Kultum: Hari-Hari Terakhir Ramadan

 

Hari-Hari Terakhir Ramadan

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا، تَبَارَكَ ٱلَّذِي جَعَلَ فِي ٱلسَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ٱلَّذِي بَعَثَهُ بِٱلْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا، ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ

    Pertama tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kita ke hadirat Allah Swt., Tuhan semesta alam, karena atas rahmat dan kasih sayang-Nya, kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul, beribadah pada malam hari ini. Salawat serta salam, tak lupa kita curahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Saw., kepada Keluarganya, para Sahabatnya, dan semoga kita termasuk kedalam umatnya yang mendapatkan syafaat di yaumil akhir nanti, āmīn yā rabbal ‘ālamīn.

    Bapak, Ibu, Teman-teman jamaah yang dirahmati Allah sekalian,

    Sebuah kehormatan bagi saya dapat berdiri di mimbar ini. Sudah berapa banyak kisah kita dengarkan dari mimbar ini, sudah berapa banyak hikmah kita dapatkan dari sini, malam ini, izinkan saya Bapak, Ibu, jamaah sekalian, membawakan kultum singkat di hari-hari terakhir  Ramadan tahun ini. 

    Malam ini kita sudah masuk malam ke-28 artinya, sudah 27 malam di bulan Ramadan ini kita lalui. Kita bukan lagi masuk kedalam 10 malam terakhir, tapi kita sudah masuk ke dalam 5 malam terakhir bulan Ramadan. Kurang dari seminggu lagi, kita sudah memasuki bulan Syawal 1443 H.

    Kalau di awal kita bergembira menyambut datangnya bulan suci Ramadan, maka seharusnya saat ini kita bersedih, melepas kepergian bulan suci Ramadan. Ramadan akan pergi selama 11 bulan lamanya, dan nanti kita akan berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadan di tahun depan, jika Allah mengizinkan. 

    Kenapa? Karena umur adalah rahasia Allah. Kita tidak tau kapan kita akan dipanggil menemui-Nya. Mungkin tahun lalu kita masih dapat melihat wajah teman-teman, sahabat, sanak saudara, dan orangtua-orangtua kita. Tapi mungkin, di tahun ini atau tahun depan nanti, kita tidak dapat lagi melihat wajah orang-orang terkasih kita.

    Mungkin tahun lalu ketika berlebaran, kita masih bisa bermaaf-maafan, masih bertemu dengan Bapak ini, Ibu ini. Tapi tahun ini, kita sudah tidak lagi bertemu dengan mereka. Kita doakan, semoga orang-orang terkasih kita yang sudah tiada, ditempatkan di tempat paling indah di sisi-Allah, āmīn yā rabbal ‘ālamīn.

 

    Bapak, Ibu, Jamaah yang dirahmati Allah sekalian…

    Guru-guru kita, para asātiż mengatakan bahwa bulan suci Ramadan adalah bulan tempat kita dilatih, tempat diri kita ditempa menjadi hamba yang lebih baik lagi. Tujuannya nanti, ada di akhir ayat Surah Al-Baqarah ayat 183, yaitu “لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ” (agar menjadi orang bertakwa).

    Mungkin kita semua pernah mendengar atau bahkan akrab dengan istilah “Diklat” (Pendidikan dan pelatihan), atau mungkin workshop, dsb. Ya, teman-teman pelajar juga mungkin sering mengikuti pelatihan serupa, misalnya Latihan Kepemimpinan, atau LDK nah biasanya anak-anak OSIS nih, atau Pramuka, PMR, Paskibra, sudah akrab dengan istilah “Latgab” atau (Latihan gabungan).

    Tujuannya adalah mendidik peserta agar lebih disiplin, agar lebih rapi, lebih patuh, dan lebih taat peraturan. Sebelum latihan kepemimpinan ini, biasanya ada pra-acara. Kita menyiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan, mulai dari persyaratan administrasi, kemudian kita menyiapkan diri, menyiapkan fisik, dsb.

    Masuklah kita ke acara pelatihan ini. Katakanlah pelatihan ini sebulan. Di hari pertama, kita semangat banget mendengar materi, mencatat materi, mengulang kembali apa yang guru jelaskan di kelas, menjadi orang pertama yang sampai ke kelas; itu di hari pertama. Masuk ke minggu-minggu kedua, semangat mulai turun… sudah mulai kendur… Kita tidak lagi jadi orang pertama yang sampai ke kelas, tapi kita jadi orang pertama yang keluar dari kelas, hanya sekadar formalitas.

    Biasanya, ketika pelatihan itu, bukan hanya materi yang didapatkan, tapi juga dilatih untuk disiplin, untuk taat, dan patuh pada peraturan. Kalau ada yang melanggar, maka akan dapat hukuman, entah itu pengurangan poin, ataupun hukuman lainnya.

    Sama dengan bulan Ramadan. Sebelum Ramadan tiba, kita menyiapkan diri kita, kita membersihkan diri kita, bermaaf-maafan, lalu meluruskan niat kita. Kemudian, masuklah kita ke bulan Ramadan. Kita sudah melewati banyak hari, sudah tinggal 5 hari lagi di bulan ini. Masihkah kita menjadi orang pertama yang datang ke Masjid, atau justru orang pertama yang meninggalkan Masjid?

    Tanya sama diri kita, sudah berapa banyak ilmu yang kita dapatkan dari pengajian-pengajian, ceramah-ceramah, dari nasihat guru-guru kita? Sudah berapa banyak pelanggaran yang kita lakukan? Baik yg disengaja maupun tidak.

    Di hari-hari terakhir Ramadan ini, kita meminta ampunan Allah, kita meminta maaf, kita cari malam yang mulia, malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam yang dicari-cari seluruh umat muslim di dunia, yaitu Lailatul Qadar. Kita hidupkan malam-malam kita dengan beribadah, beristighfar, kita berdoa sama Allah, “Allahumma innaka afuwwun, tuhibbul afwa fa’fuanni”.

 

      Semoga kita bertemu dengan malam lailatul qadar, agar kita keluar sebagai pemenang.

    Pemenang bukan siapa yang paling banyak undangan bukber, pemenang bukan siapa yang paling banyak uang THR, pemenang bukan siapa yang paling bagus baju lebarannya, tapi pemenang itu, siapa yang mampu istiqamah, mempertahankan ibadah dan kebaikannya sampai bulan Ramadan tahun depan. Bahkan terus istiqamah tanpa henti. Itu yang disebut pemenang.

 

    Semoga kita semua lulus, keluar dari pendidikan Ramadan ini sebagai seorang pemenang, bukan hanya menjadi better version, tapi menjadi the best version dari seorang hamba.

Kurang lebihnya mohon maaf,
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tangerang, 28 April 2022
Hafidz Arrizki

 

***

Materi di atas saya buat dan olah dari berbagai sumber serta literatur, dan disampaikan saat saya berkesempatan mengisi kultum tarawih pada Ramadan 1443 H/April 2022 (kebetulan merupakan kultum pertama saya di mimbar Masjid). Semoga materi ini dapat bermanfaat bagi pembaca, dan silakan dipakai bila perlu. Semoga menjadi amal jariyah, amin.

17 Juli 2025

Demi Allah, Jangan Menyebut Nama-Nya dengan Sia-Sia!

Demi Allah, Jangan Menyebut Nama-Nya dengan Sia-Sia!

Oleh: Muhamad Hafidz Ar Rizki


Di kehidupan sehari-hari, kita seringkali berinteraksi menggunakan beragam istilah dan bahasa untuk berekspresi, baik itu bahasa ibu, bahasa asing, maupun bahasa dan istilah-istilah gaul yang berkembang di masyarakat. Penggunaan bahasa dan ragam ekspresi ini tidak hanya terjadi saat ngobrol biasa saja, tapi seringkali juga kita gunakan untuk mengekspresikan rasa marah, kagum, terkejut, hingga sedih. Salah satu yang sering kita ucapkan tanpa sadar yaitu: “Demi Allah”. 

Frasa “Demi Allah”, umumnya kita dengar di berbagai kesaksian maupun pengambilan sumpah para pejabat. Biasanya, sumpah ini diikuti dengan kalimat-kalimat janji seperti “…akan menjalankan tugas dan kewajiban saya..” atau “…akan memberikan kesaksian yang sebenarnya…”. Sumpah yang diucapkan dalam konteks ini memang berfungsi sebagai kalimat sumpah, yaitu bersaksi dengan kesungguhan di hadapan dan atas nama Allah. Jadi, siapa saja yang bersumpah dengan nama Allah, memikul beban dan tanggung jawab yang luar biasa, karena ia harus mempertanggungjawabkan sumpahnya kelak. Bukan hanya di hadapan Hakim, tapi juga di hadapan Hakim yang sebenarnya, Allah Swt. 

Frasa sumpah ini, semakin hari kian digunakan oleh banyak kalangan, dari beragam usia hingga profesi. Seakan-akan sudah menjadi bagian dari hidup, frasa ini tak pernah sekalipun luput dalam tuturan kita. Sayangnya, penggunaan frasa sumpah ini tak lagi sesuai dengan maknanya, bahkan telah menyimpang sangat jauh. Jika diamati, sebenarnya hal ini semata-mata diucapkan untuk sebagian besar masyarakat awam untuk menguatkan pernyataannya. 

Beberapa contohnya yaitu: ketika sedang kesal atau marah, mereka akan mengatakan “Demi Allah ya, gua kesel banget”; saat kagum, mereka berkata “Demi Allah, cantik banget bunganya!”; atau bahkan, ketika sedang mencicipi makanan lezat, spontan saja mereka bersumpah—bahkan diiringi penguat—dan berkata “Sumpah, Demi Allah makanan ini enak banget, asli” (seakan-akan baru saja mencicip makanan terenak sejagat raya). 


Di Mana Masalahnya?

Lalu, di mana letak masalahnya? Di mana letak yang tidak sesuai dengan maknanya, bahkan telah menyimpang sangat jauh? Bukannya sah-sah saja? Lagipula, ini kan sumpah dengan nama Tuhan, bukan dengan yang aneh-aneh? —Bagi orang awam yang hobi sumpah-menyumpah dengan nama Allah, mungkin akan terdengar biasa saja, dan kaget ketika tahu bahwa yang selama ini mereka lakukan itu benar, benar-benar salah maksudnya. 

Selama ini, frasa sumpah bukan hanya diucapkan secara sia-sia, tapi juga sembrono (serampangan) tanpa memerhatikan aturan. Parahnya lagi, yang membuat tabiat sebagian besar masyarakat (mostly Gen-Z) bertambah buruk yaitu adanya penambahan kata-kata yang tak pantas, ‘sebaris’ dengan sumpah tadi. Sumpah mereka saja sudah salah, kini mereka tambah juga dengan partikel-partikel sampah. Maaf, saya menyebutnya demikian, karena memang sangat tidak pantas berada ‘satu napas’ dengan nama-Nya. Beberapa contohnya yaitu sebagai berikut: 

“Demi Allah, be*o banget an*i*”, 

“Ba*gsa*, gedeg banget gua sumpah, Demi Allah” 

“Demi Allah, bukan gua yang ngambil, t*i”

dan masih banyak kalimat-kalimat lainnya yang bahkan jauh lebih hina dan sampah dari contoh-contoh di atas. Fenomena ini bukan hanya terjadi di dunia nyata saja, tapi juga di dunia maya. Nampaknya, memang hal ini benar-benar sudah menjadi bagian intergral dari tuturan sebagian masyarakat kita. Mereka juga semakin ‘kreatif’ dalam membuat istilah-istilah, seperti “DAMN: Demi Allah Mau Nangis” dan berbagai istilah lainnya. Frasa “Demi Allah” bukan hanya digunakan sebagai pelengkap tuturan saja, mirisnya, ia juga digunakan untuk menutupi kebohongan. Na’ūżubillāh.  


'Aturan' Bersumpah

Dalam ilmu Nahwu, ini disebut dengan ḥurūf al-qasam, yang terdiri dari huruf wau, ba’, dan ta’. Ketiga huruf tadi, jika disandingkan dengan lafaz Jalalah, akan membentuk susunan wallāhi, billāhi, dan tallāhi, yang sama-sama memiliki arti “Demi Allah”. Tapi, qasam (sumpah) tidak hanya dapat dilakukan dengan ketiga huruf itu saja. Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak bentuk sumpah yang Allah katakan, contohnya seperti lā uqsimu, dsb. 

Jadi, kapan “Demi Allah” itu digunakan? Sumpah yang dibolehkan dalam Islam yaitu ketika diucapkan untuk menegaskan suatu kebenaran, atau memberikan kesaksian. Contohnya ketika kita tertuduh, bertindak sebagai saksi di persidangan, atau dilantik menjadi pegawai/pejabat tertentu di bawah Al-Qur’an. 

Terdapat beberapa hal yang harus diketahui dan digarisbawahi perihal sumpah ini. Jika tidak, akan semakin banyak orang yang menggunakan frasa agung ini secara sembrono. Hal-hal tersebut yaitu:  


1) Tidak boleh menyebut nama Allah dengan sia-sia

Yang disebut dengan menyebut nama Allah dengan sia-sia yaitu dengan bersumpah palsu dan sumpah ‘kosong’. Bersumpah palsu yaitu menyatakan kebohongan atas nama Allah, dan ini sungguh merupakan dosa besar. Sementara itu, sumpah ‘kosong’ artinya bersumpah tanpa tujuan, just swearing, without any purpose.

2) Manusia hanya boleh bersumpah atas nama Allah

Kita, sebagai seorang makhluk, hanya boleh bersumpah atas nama Sang Khaliq, atas nama Allah dan sifat-sifatnya. Bahkan, bersumpah atas nama Rasulullah Saw. saja dilarang, karena merupakan bentuk kesyirikan. Maka bagaimana yang memperolok sumpah dengan selain-Nya? Seperti Demi Dewa, Demi Zeus, Demi Kerang Ajaib, dan berbagai benda lainnya? Tentu saja hal ini jelas dilarang. 

3) Hanya Allah yang berhak bersumpah atas apa saja

Allah, sebagai sang pencipta, berhak bersumpah atas segala hal yang Ia ciptakan. Ia boleh bersumpah demi Matahari, Malam, Siang, Bintang, atau dengan Zat-Nya sendiri.


Tulisan ini telah tayang di Eramuslim.id pada 17 Juli 2025.

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...