04 Mei 2025

Warna Cinta




"Ananda sekalian, apa warna cinta?"

        Ucap Pak Aris memecah keheningan kelas. Ia tahu bagaimana caranya 'menyetrum' kelas agar kembali hidup dari mati suri. Pak Aris merupakan seorang guru honorer yang mengajar PAI. Karena keterbatasan tenaga pengajar, sesekali Ia juga diminta mengajar bahasa Arab dan Tahsin.

Suasana kelas yang tadinya sunyi sepi bak Masjid di waktu subuh, kini riuh bergemuruh. Para siswa tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Lantas, mereka satu persatu berpendapat mengenai warna cinta yang ditanyakan tadi.

"Cinta itu merah, Pak!" jawab salah seorang murid di bangku depan.

"Mengapa demikian, Bunga?" sahut Pak Aris.

"Karena merah artinya berani. Cinta bisa membuat seorang pecundang melompat dari atas jembatan demi mendapatkan cintanya di dasar sungai".

"Ah, tidak juga. Cinta itu biru, Pak." balas salah seorang murid.

"Mengapa begitu, Andi?" tanya Pak Aris kembali.

"Biru itu melambangkan ketenangan. Cinta bisa menenangkan siapa saja yang memilikinya. Seseorang takkan pernah ragu sang pujaan hatinya tak membalas cintanya, karena mereka memiliki warna cinta yang sama. Biru, Pak." jawab Andi.

"Menurut saya, cinta itu tidak ada warnanya, Pak. Dia hitam, pekat, tak dapat dilihat. Cinta membawa kesedihan bagi siapa saja yang mengizinkannya untuk singgah. Cinta membebani perasaan. Hubungan pertemanan bisa saja putus karena Cinta, Pak." balasan pemungkas dari seorang murid di sudut kelas. 

Suasana kelas yang tadinya muram, kini seakan berwarna dengan berbagai pendapat dari seluruh siswa. Kini, saatnya Pak Aris menanggapi pandangan mereka.

"Ananda, mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Cinta itu merah, berani. Dengan penafsiran yang sama, ia bisa menjadi berbahaya; seseorang bisa berani melakukan apa saja atas nama cinta, termasuk menyerahkan hak dan kehormatannya. Cinta itu biru, menenangkan. Dengan penafsiran yang sama, ia bisa saja berubah menjadi sayu, layu, "sad and blue"; berapa banyak senyum dan gairah yang hilang karena putus cinta?" 

Pak Aris berhenti sejenak, menatap wajah siswanya satu persatu yang kini khusyuk mendengarkan.

"Dan cinta itu hitam.." lanjut Pak Aris.

"Kurang tepat rasanya jika kita berkata cinta tidak ada warnanya. Toh, hitam juga warna, kan? Jika dikatakan pekat dan tak dapat dilihat, dengan penafsiran yang sama, kita dapat mengatakan bahwa cinta itu menggambarkan kewibawaan dan ketegasan. Pekatnya memperteguh makna cinta itu sendiri, dan ia tak dapat dilihat, tetapi dirasakan." ucapnya. 

        Lagi-lagi, Pak Aris berhasil membuat seisi kelas tertegun, serentak mendengarkan taujih yang Ia sampaikan.

"Ananda, ternyata selama ini kita masih skeptis. Kita masih memandang cinta dari perspektif kita sendiri, dan tak mau melihat perspektif lain. Justru, keindahan cinta itu terletak dari warna-warna yang menghiasinya. Semua pendapat Ananda tidak ada yang salah, semua bebas menafsirkan warna cintanya masing-masing." 

"Bagaimana dengan yang buta warna, Pak? bukankah mereka tak dapat melihat warna-warna yang ada?" tanya seorang murid. 

Mendengar pertanyaan itu, Pak Aris lantas tersenyum dan menggeleng perlahan. Ia membalas,

"Mereka yang buta warna bukan berarti tak bisa melihat warna sama sekali. Hanya saja, mereka keliru melihat warna yang sebenarnya. Mengira hijau sebagai biru, merah muda sebagai ungu, hingga putih sebagai abu-abu." balasnya. 

"Lalu, bagaimana dengan mereka yang buta, tak bisa melihat sama sekali, Pak?" tanya murid itu kembali. 

"Mungkin mereka memang tak bisa melihatnya sama sekali, tetapi mereka masih tetap bisa merasakannya. Seperti hangatnya jingga kala mentari terbenam, atau syahdunya langit pagi yang membiru". jawab Pak Aris menutup pertanyaan ihwal buta-membuta tadi. 

"Pak, apakah warnanya bisa pudar? Lantas bagaimana jika warnanya pudar? Bagaimana jika warnanya hilang?" tanya seorang siswi di barisan kanan memecah keheningan.

"Betul, warnanya bisa saja pudar. Bisa jadi karena waktu, atau karena kondisinya yang tak terawat. Seandainya warnanya pudar, ia bisa saja kembali seperti baru dengan cara dipoles kembali, diperbarui. Dan sebenarnya, warnanya takkan pernah habis. Ia punya banyak sekali warna, bahkan warna-warna yang tak kita ketahui nama dan wujudnya" balas Pak Aris.

"Ia? Ia siapa, Pak?" tanya siswi tadi keheranan.

"Ia, sang pemilik segala warna, Sang Maha Cinta." Jawab Pak Aris.

"Ia yang memberi warna, juga rasa kepada cinta itu sendiri. Dzat yang memberi ilham kepada kita, sehingga mampu menafsirkan warnanya. Maka dari itu, Ananda, berhenti meminta dan berharap pada manusia yang sama-sama sedang mencari warna. Kita bisa saja salah dalam perjalanan panjang mencari warna cinta ini. Mintalah kepada sang pemilik, dan berharaplah kepada sang empunya, Allah 'azza wa jalla".

Seisi kelas tertegun, khusyuk dan mendengar takjub penjelasan Pak Aris. Di akhir pembicaraan, Ia menambahkan,

"Kejarlah cinta itu dari pemiliknya, Sang Maha Cinta yang takkan pernah kehabisan warna dan kehilangan rasa untuk hamba-hamba-Nya, Ananda."


***

 قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ۝٥٣

 

Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(Qs. Az-Zumar/39:53)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Curahan Hati Patah Hati (Lagi)

Di bulan Oktober tahun lalu, saya selesai dengan crush saya semasa SMA dahulu. Perpisahan yang cukup dramatis, karena terpisah jarak dan w...