"Ananda sekalian, apa warna cinta?"
Ucap Pak Aris memecah keheningan kelas. Ia tahu bagaimana caranya
'menyetrum' kelas agar kembali hidup dari mati suri. Pak Aris merupakan seorang
guru honorer yang mengajar PAI. Karena keterbatasan tenaga pengajar, sesekali
Ia juga diminta mengajar bahasa Arab dan Tahsin.
Suasana kelas yang tadinya sunyi sepi bak Masjid
di waktu subuh, kini riuh bergemuruh. Para siswa tak menyangka akan mendapatkan
pertanyaan seperti itu. Lantas, mereka satu persatu berpendapat mengenai warna
cinta yang ditanyakan tadi.
"Cinta itu merah, Pak!" jawab salah seorang murid di bangku depan.
"Mengapa demikian, Bunga?" sahut Pak Aris.
"Karena merah artinya berani. Cinta bisa membuat seorang
pecundang melompat dari atas jembatan demi mendapatkan cintanya di dasar
sungai".
"Ah, tidak juga. Cinta itu biru, Pak." balas salah seorang murid.
"Mengapa begitu, Andi?" tanya Pak Aris kembali.
"Biru itu melambangkan ketenangan. Cinta bisa menenangkan
siapa saja yang memilikinya. Seseorang takkan pernah ragu sang pujaan hatinya
tak membalas cintanya, karena mereka memiliki warna cinta yang sama. Biru,
Pak." jawab Andi.
"Menurut saya, cinta itu tidak ada warnanya, Pak. Dia hitam,
pekat, tak dapat dilihat. Cinta membawa kesedihan bagi siapa saja yang
mengizinkannya untuk singgah. Cinta membebani perasaan. Hubungan pertemanan
bisa saja putus karena Cinta, Pak." balasan pemungkas dari seorang murid di sudut kelas.
Suasana kelas yang tadinya muram, kini seakan
berwarna dengan berbagai pendapat dari seluruh siswa. Kini, saatnya Pak Aris
menanggapi pandangan mereka.
"Ananda, mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Cinta itu merah, berani. Dengan penafsiran yang sama, ia bisa menjadi berbahaya; seseorang bisa berani melakukan apa saja atas nama cinta, termasuk menyerahkan hak dan kehormatannya. Cinta itu biru, menenangkan. Dengan penafsiran yang sama, ia bisa saja berubah menjadi sayu, layu, "sad and blue"; berapa banyak senyum dan gairah yang hilang karena putus cinta?"
Pak Aris berhenti sejenak, menatap wajah siswanya satu
persatu yang kini khusyuk mendengarkan.
"Dan cinta itu hitam.." lanjut Pak Aris.
"Kurang tepat rasanya jika kita berkata cinta tidak ada
warnanya. Toh, hitam juga warna, kan? Jika dikatakan pekat dan tak dapat
dilihat, dengan penafsiran yang sama, kita dapat mengatakan bahwa cinta itu
menggambarkan kewibawaan dan ketegasan. Pekatnya memperteguh makna cinta itu
sendiri, dan ia tak dapat dilihat, tetapi dirasakan." ucapnya.
Lagi-lagi, Pak Aris berhasil
membuat seisi kelas tertegun, serentak mendengarkan taujih yang
Ia sampaikan.
"Ananda, ternyata selama ini kita masih skeptis. Kita masih
memandang cinta dari perspektif kita sendiri, dan tak mau melihat perspektif
lain. Justru, keindahan cinta itu terletak dari warna-warna yang menghiasinya.
Semua pendapat Ananda tidak ada yang salah, semua bebas menafsirkan warna
cintanya masing-masing."
"Bagaimana dengan yang buta warna, Pak? bukankah mereka tak
dapat melihat warna-warna yang ada?" tanya seorang murid.
Mendengar pertanyaan itu, Pak Aris lantas
tersenyum dan menggeleng perlahan. Ia membalas,
"Mereka yang buta warna bukan berarti tak bisa melihat warna
sama sekali. Hanya saja, mereka keliru melihat warna yang sebenarnya. Mengira
hijau sebagai biru, merah muda sebagai ungu, hingga putih sebagai
abu-abu." balasnya.
"Lalu, bagaimana dengan mereka yang buta, tak bisa melihat
sama sekali, Pak?" tanya murid itu kembali.
"Mungkin mereka memang tak bisa melihatnya sama sekali,
tetapi mereka masih tetap bisa merasakannya. Seperti hangatnya jingga kala
mentari terbenam, atau syahdunya langit pagi yang membiru". jawab Pak Aris menutup pertanyaan ihwal
buta-membuta tadi.
"Pak, apakah warnanya bisa pudar? Lantas bagaimana jika
warnanya pudar? Bagaimana jika warnanya hilang?" tanya seorang siswi di barisan kanan
memecah keheningan.
"Betul, warnanya bisa saja pudar. Bisa jadi karena waktu, atau karena kondisinya yang tak terawat. Seandainya warnanya pudar,
ia bisa saja kembali seperti baru dengan cara dipoles kembali, diperbarui. Dan
sebenarnya, warnanya takkan pernah habis. Ia punya banyak sekali warna, bahkan
warna-warna yang tak kita ketahui nama dan wujudnya" balas Pak Aris.
"Ia? Ia siapa, Pak?" tanya siswi tadi keheranan.
"Ia, sang pemilik segala warna, Sang Maha Cinta." Jawab Pak Aris.
"Ia yang memberi warna, juga rasa kepada cinta itu sendiri.
Dzat yang memberi ilham kepada kita, sehingga mampu menafsirkan warnanya. Maka
dari itu, Ananda, berhenti meminta dan berharap pada manusia yang sama-sama
sedang mencari warna. Kita bisa saja salah dalam perjalanan panjang mencari
warna cinta ini. Mintalah kepada sang pemilik, dan berharaplah kepada sang
empunya, Allah 'azza wa jalla".
Seisi kelas tertegun, khusyuk dan mendengar takjub penjelasan Pak
Aris. Di akhir pembicaraan, Ia menambahkan,
"Kejarlah cinta itu dari pemiliknya, Sang Maha Cinta yang takkan pernah
kehabisan warna dan kehilangan rasa untuk hamba-hamba-Nya, Ananda."
***
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ
اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ
اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
٥٣
Artinya: "Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi)
dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang."
(Qs. Az-Zumar/39:53)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar