Hari-Hari Terakhir Ramadan
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي
كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا، تَبَارَكَ ٱلَّذِي جَعَلَ فِي ٱلسَّمَاءِ
بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ٱلَّذِي
بَعَثَهُ بِٱلْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذْنِهِ
وَسِرَاجًا مُّنِيرًا، ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ
Pertama tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kita ke hadirat Allah Swt., Tuhan semesta alam, karena atas rahmat dan kasih sayang-Nya, kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul, beribadah pada malam hari ini. Salawat serta salam, tak lupa kita curahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Saw., kepada Keluarganya, para Sahabatnya, dan semoga kita termasuk kedalam umatnya yang mendapatkan syafaat di yaumil akhir nanti, āmīn yā rabbal ‘ālamīn.
Bapak, Ibu, Teman-teman jamaah yang dirahmati Allah sekalian,
Sebuah kehormatan bagi saya dapat berdiri di mimbar ini. Sudah berapa banyak kisah kita dengarkan dari mimbar ini, sudah berapa banyak hikmah kita dapatkan dari sini, malam ini, izinkan saya Bapak, Ibu, jamaah sekalian, membawakan kultum singkat di hari-hari terakhir Ramadan tahun ini.
Malam ini kita sudah masuk malam ke-28 artinya, sudah 27 malam di bulan Ramadan ini kita lalui. Kita bukan lagi masuk kedalam 10 malam terakhir, tapi kita sudah masuk ke dalam 5 malam terakhir bulan Ramadan. Kurang dari seminggu lagi, kita sudah memasuki bulan Syawal 1443 H.
Kalau di awal kita bergembira menyambut datangnya bulan suci Ramadan, maka seharusnya saat ini kita bersedih, melepas kepergian bulan suci Ramadan. Ramadan akan pergi selama 11 bulan lamanya, dan nanti kita akan berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadan di tahun depan, jika Allah mengizinkan.
Kenapa? Karena umur adalah rahasia Allah. Kita tidak tau kapan kita akan dipanggil menemui-Nya. Mungkin tahun lalu kita masih dapat melihat wajah teman-teman, sahabat, sanak saudara, dan orangtua-orangtua kita. Tapi mungkin, di tahun ini atau tahun depan nanti, kita tidak dapat lagi melihat wajah orang-orang terkasih kita.
Mungkin tahun lalu ketika berlebaran, kita masih bisa bermaaf-maafan,
masih bertemu dengan Bapak ini, Ibu ini. Tapi tahun ini, kita sudah tidak lagi
bertemu dengan mereka. Kita doakan, semoga orang-orang terkasih kita yang sudah
tiada, ditempatkan di tempat paling indah di sisi-Allah, āmīn yā rabbal ‘ālamīn.
Bapak, Ibu, Jamaah yang dirahmati Allah sekalian…
Guru-guru kita, para asātiż mengatakan bahwa bulan suci Ramadan adalah bulan tempat kita dilatih, tempat diri kita ditempa menjadi hamba yang lebih baik lagi. Tujuannya nanti, ada di akhir ayat Surah Al-Baqarah ayat 183, yaitu “لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ” (agar menjadi orang bertakwa).
Mungkin kita semua pernah mendengar atau bahkan akrab dengan istilah “Diklat” (Pendidikan dan pelatihan), atau mungkin workshop, dsb. Ya, teman-teman pelajar juga mungkin sering mengikuti pelatihan serupa, misalnya Latihan Kepemimpinan, atau LDK nah biasanya anak-anak OSIS nih, atau Pramuka, PMR, Paskibra, sudah akrab dengan istilah “Latgab” atau (Latihan gabungan).
Tujuannya adalah mendidik peserta agar lebih disiplin, agar lebih rapi, lebih patuh, dan lebih taat peraturan. Sebelum latihan kepemimpinan ini, biasanya ada pra-acara. Kita menyiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan, mulai dari persyaratan administrasi, kemudian kita menyiapkan diri, menyiapkan fisik, dsb.
Masuklah kita ke acara pelatihan ini. Katakanlah pelatihan ini sebulan. Di hari pertama, kita semangat banget mendengar materi, mencatat materi, mengulang kembali apa yang guru jelaskan di kelas, menjadi orang pertama yang sampai ke kelas; itu di hari pertama. Masuk ke minggu-minggu kedua, semangat mulai turun… sudah mulai kendur… Kita tidak lagi jadi orang pertama yang sampai ke kelas, tapi kita jadi orang pertama yang keluar dari kelas, hanya sekadar formalitas.
Biasanya, ketika pelatihan itu, bukan hanya materi yang didapatkan, tapi juga dilatih untuk disiplin, untuk taat, dan patuh pada peraturan. Kalau ada yang melanggar, maka akan dapat hukuman, entah itu pengurangan poin, ataupun hukuman lainnya.
Sama dengan bulan Ramadan. Sebelum Ramadan tiba, kita menyiapkan diri kita, kita membersihkan diri kita, bermaaf-maafan, lalu meluruskan niat kita. Kemudian, masuklah kita ke bulan Ramadan. Kita sudah melewati banyak hari, sudah tinggal 5 hari lagi di bulan ini. Masihkah kita menjadi orang pertama yang datang ke Masjid, atau justru orang pertama yang meninggalkan Masjid?
Tanya sama diri kita, sudah berapa banyak ilmu yang kita dapatkan dari pengajian-pengajian, ceramah-ceramah, dari nasihat guru-guru kita? Sudah berapa banyak pelanggaran yang kita lakukan? Baik yg disengaja maupun tidak.
Di hari-hari terakhir Ramadan ini, kita meminta ampunan Allah, kita
meminta maaf, kita cari malam yang mulia, malam yang lebih baik dari seribu
bulan, malam yang dicari-cari seluruh umat muslim di dunia, yaitu Lailatul
Qadar. Kita hidupkan malam-malam kita dengan beribadah, beristighfar, kita
berdoa sama Allah, “Allahumma innaka afuwwun, tuhibbul afwa fa’fuanni”.
Semoga kita bertemu dengan malam lailatul qadar, agar kita keluar
sebagai pemenang.
Pemenang bukan siapa yang paling banyak undangan bukber, pemenang
bukan siapa yang paling banyak uang THR, pemenang bukan siapa yang paling bagus
baju lebarannya, tapi pemenang itu, siapa yang mampu istiqamah, mempertahankan ibadah
dan kebaikannya sampai bulan Ramadan tahun depan. Bahkan terus istiqamah tanpa
henti. Itu yang disebut pemenang.
Semoga kita semua lulus, keluar dari pendidikan Ramadan ini sebagai seorang pemenang, bukan hanya menjadi better version, tapi menjadi the best version dari seorang hamba.
Kurang lebihnya mohon maaf,
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Tangerang, 28 April 2022
Hafidz Arrizki
***
Materi
di atas saya buat dan olah dari berbagai sumber serta literatur, dan
disampaikan saat saya berkesempatan mengisi kultum tarawih pada Ramadan 1443 H/April 2022 (kebetulan merupakan kultum pertama saya di mimbar Masjid). Semoga
materi ini dapat bermanfaat bagi pembaca, dan silakan dipakai bila perlu.
Semoga menjadi amal jariyah, amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar