FENOMENA IPK-SENTRIS DI KALANGAN MAHASISWA:
MASIH RELEVANKAH?
Salah satu fenomena sosial yang
terjadi di dunia pendidikan kita hari ini adalah ‘nilai lebih utama dibanding
pemahaman terhadap ilmu yang diberikan’. Fenomena ini terjadi mulai dari pendidikan
dasar dan menengah, terlebih lagi di jenjang pendidikan tinggi. Tak pandang
usia, jenis kelamin, maupun latar belakang; mulai dari mahasiswa baru (maba),
hingga mahasiswa abadi penghuni kampus, semuanya menganut doktrin di atas.
Seakan sudah menjadi tradisi, pemikiran
ini tak dapat dihilangkan dengan mudah. Terlebih di zaman serba canggih seperti
sekarang ini, akses menuju sumber informasi sangat kaya. Ditambah lagi dengan
generasi Z yang menjadi aktornya, para pegiat media sosial, turut menyuburkan
pemahaman keliru yang telah dianut layaknya tradisi ini.
Ribuan –bahkan jutaan- mahasiswa di
negeri ini rela melakukan apa saja demi mendapatkan nilai maksimal, demi
mendapat ‘4.00’ di transkrip nilai mereka. Jika kita ingin melihat lebih jauh,
selama ini banyak mahasiswa berkuliah demi mengejar sebuah angka dan huruf di
transkrip nilai, bukan untuk memahami ilmu yang diberikan. Di banyak kampus, di
tiap fakultas, jurusan, hingga ke ruang-ruang kelas yang ada, pertanyaan yang
paling laris ialah “Dapat IPK berapa?”, atau “Berapa huruf A-nya?”,
dibanding “Sudah sejauh mana memahami materinya?”. Hal ini seakan
menjadi makanan sehari-hari dan memperkuat ‘doktrin’ di atas, yaitu nilai lebih
utama dibandingkan pemahaman mahasiswa terhadap ilmu yang telah diberikan.
Hal ini seakan-akan menjadikan IPK
sebagai satu-satunya penentu keberhasilan mahasiswa di bangku perkuliahan dan
masa depan. Kalau IPK-nya rendah, berarti masa depannya tidak cerah. Akibatnya,
berbagai cara dilakukan oleh para mahasiswa demi mengejar nilai IPK yang
tinggi. Mulai dari cara-cara halal, hingga cara-cara curang yang tak dibenarkan
di dunia akademik. Contohnya mulai dari menyontek, memanipulasi hasil
penelitian, plagiasi tulisan; hingga yang paling laris manis di pasaran, cara
paling ampuh dan cepat menyelesaikan tugas dalam semalam yaitu joki
tugas. Walaupun argumen yang dibangun adalah keduanya sama-sama diuntungkan,
baik dosen yang memberi tugas tidak dirugikan sama sekali, maupun mahasiswa
yang diberikan tugas bersedia merogoh kocek yang tak sedikit tergantung dari
banyaknya tugas yang diberikan, tetapi tetap saja hal-hal semacam ini tidak dibenarkan di dalam dunia akademik.
Kemendikbudristek (sekarang dipecah menjadi Kemendikdasmen dan Kemenristekdikti)
sendiri menegaskan bahwa joki merupakan salah satu bentuk plagiarisme yang
dilarang dalam undang-undang No. 20 tahun 2003.
Ada banyak faktor yang memengaruhi
suburnya fenomena ini, baik secara internal maupun eksternal. Salah satu faktor
internalnya yaitu sikap mahasiswa yang anti sosial (ansos), menutup diri dari
lingkungan sekitar. Ia merasa bahwa tidak ada gunanya bersosialisasi, hanya
membuang-buang waktu dan menguras energi. Biasanya, mahasiswa seperti ini
tergolong ke dalam kelompok ‘kupu-kupu’ (kuliah-pulang, kuliah-pulang), sebuah
istilah bagi mereka yang enggan berorganisasi dan bersosialisasi, pergi ke
kampus hanya untuk kuliah, selebihnya pulang ke kos/rumah. Mereka yang termasuk
ke dalam golongan ini biasanya sangat terobsesi dengan nilai, dan jika mereka
gagal mendapatkan nilai maksimal, mereka akan menyalahkan diri sendiri, bahkan
sampai mengurung diri.
Akan tetapi, hal di atas bukanlah
satu-satunya faktor penyebab IPK-sentrisme di kalangan mahasiswa. Ada banyak
juga faktor eksternal yang menyebabkan pandangan ini semakin mengakar kuat dan
menjamur. Mulai dari kepribadian dosen yang beragam, tuntutan keluarga, hingga
pengaruh lingkungan.
Faktor eksternal yang pertama yaitu
kepribadian dosen yang beragam. Di banyak kampus di negeri ini, hal ini selalu
menjadi top ten hal yang menjadi keluhan mahasiswa, di samping dosen
pembimbing yang sangat sulit ditemui, tuntutan akademik yang tinggi, dll.
Percaya atau tidak, kepribadian dan cara mengajar dosen juga berpengaruh
terhadap kemajuan belajar mahasiswa. Salah satu tipe dosen yang turut andil
dalam pertumbuhan IPK-sentris di kalangan mahasiswa adalah dosen yang tak
peduli dengan kondisi mahasiswa yang diajarnya. Intinya, ketika ujian nanti nilai
mereka memuaskan. Tentu saja sikap seperti ini mendorong mahasiswa untuk
berpikir bahwa ‘materi nggak penting, intinya dapet A pas ujian”.
Kepribadian dan cara mengajar dosen
yang seperti ini berimplikasi pada perkembangan belajar mahasiswa selama satu
semester. Mulai dari menyepelekan presensi, ketidakseriusan belajar di dalam
kelas (selalu bercanda, mengobrol, bermain gim dalam kelas), tidak memerhatikan
penjelasan yang diberikan, hingga yang sering terjadi yaitu ‘bolos matkul’,
atau tidak menghadiri perkuliahan sama sekali dengan dalih “Buat apa masuk?
toh nggak ngaruh juga. Intinya pas ujian nilainya besar”. Tipe dosen
seperti ini lebih berbahaya dibandingkan dengan dosen ‘killer’. Mengapa
demikian? karena jika mahasiswa berhadapan dengan dosen ‘killer’, mereka
akan terpacu untuk benar-benar memahami materi, karena jika tidak, mereka akan
menjadi sasaran empuk sang dosen. Berbeda dengan tipe dosen yang ‘cuek’,
seperti yang telah dipaparkan di atas.
Faktor berikutnya yaitu ekonomi dan
tuntutan keluarga. Tidak semua mahasiswa beruntung terlahir dari keluarga
dengan latar belakang ekonomi yang baik. Bagi kalangan menengah ke bawah, masih
tertanam pandangan bahwa nilai IPK tinggi merupakan bukti keberhasilan
berkuliah. Terlebih lagi para mahasiswa yang merantau, jauh dari orang tua dan
saudara. Berkuliah merupakan suatu privilese yang tidak dimiliki banyak orang,
oleh karena itu, sebagai balasan dan bentuk keseriusan dari berkuliah adalah
memiliki IPK yang tinggi. Stigma yang melekat pada mahasiswa dengan IPK yang
rendah yaitu tidak serius belajar, terlalu sibuk berorganisasi, terlalu sering
nongkrong, dsb.
Sedikit berbeda dengan faktor
ekonomi, tuntutan keluarga juga menjadi salah satu faktor suburnya pandangan
IPK-sentris ini. Jika faktor ekonomi tadi biasanya dialami oleh mahasiswa
berlatar belakang menengah ke bawah, faktor tuntutan keluarga ini tidak
memandang latar belakang ekonomi. Baik mahasiswa menengah ke bawah, menengah ke
atas, hingga ‘orang berada’ sekalipun, tak luput dari tuntutan orang tua.
Biasanya, hal ini disebabkan oleh sifat orang tua yang perfeksionis, selalu
menuntut anaknya untuk mendapatkan nilai terbaik. Hal ini tidak dimulai sejak
bangku perkuliahan saja, biasanya dimulai sejak masa sekolah menengah, bahkan
dasar. Sikap kompetitif yang berlebihan, melahirkan seorang anak yang tak
pernah mengenal kata gagal dalam belajar, sehingga Ia akan berusaha mati-matian
untuk mendapatkan IPK yang tinggi. Budaya keluarga juga bisa menjadi salah satu
faktor yang berpengaruh. Contohnya, jika kedua orang tuanya merupakan dokter
atau dosen, keluarga besar dan kerabatnya juga bekerja di bidang yang sama, maka
mereka akan melahirkan anak-anak pureblood, sehingga memiliki beban
moral dan tuntutan untuk mendapatkan nilai yang tinggi.
Faktor berikutnya yaitu pekerjaan. IPK
masih menjadi salah satu persyaratan yang harus terpenuhi oleh para pelamar
pekerjaan. Di samping batasan usia, pengalaman kerja, dan softskills
tentunya. Hal ini menyebabkan pergeseran orientasi mahasiswa, yang semula idealis menjadi
realistis. Tujuannya? Tentu saja untuk memudahkan mencari pekerjaan.
Meskipun demikian, di zaman modern
yang diisi oleh para mahasiswa gen Z seperti sekarang ini, mulai banyak
mahasiswa yang berupaya untuk mematahkan doktrin IPK-sentris ini. Mereka
mencoba untuk merevolusi pemikiran mahasiswa dengan berbagai cara, mulai dari
membentuk kelompok belajar, menciptakan kelas-kelas daring, hingga upaya-upaya
konvensional seperti memberi pemahaman bahwa ‘IPK bukanlah segalanya’ ke ruang
obrolan santai hingga forum diskusi formal. Hal ini sudah seyogianya dilakukan
oleh para mahasiswa. Jika tidak ada yang peduli tentang fenomena ini, ia akan
menjadi tradisi yang akan menjelma sebagai ‘budaya akademik’ yang keliru. Langkah ini akan semakin terasa jika para
mahasiswa semakin sadar dan concern mengenai permasalahan ini.
Kesimpulannya, fenomena IPK-sentris
ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya yaitu sikap mahasiswa yang
ansos, cara mengajar dan kepribadian dosen yang acuh, faktor ekonomi, tuntutan
dan budaya keluarga, hingga proses rekrutmen pekerjaan. Jika tidak dibenahi,
pemikiran dan kualitas mahasiswa akan terus menerus berorientasi pada angka dan
huruf di atas transkrip nilai saja, bukan pada pemahaman terhadap keilmuan yang
mereka dalami selama empat tahun. Solusi yang dilakukan untuk merevolusi
pemikiran mahasiswa semacam ini di antaranya yaitu membentuk kelompok-kelompok
belajar mandiri, membuat platform kelas digital, hingga membawa isu ini
ke ranah informal maupun diskusi formal.
===
Tulisan ini merupakan draf artikel populer yang saya ajukan untuk seleksi program SIBac-sip 2025.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar