11 November 2025

FENOMENA IPK-SENTRIS DI KALANGAN MAHASISWA: MASIH RELEVANKAH?

 

FENOMENA IPK-SENTRIS DI KALANGAN MAHASISWA:
MASIH RELEVANKAH?

Salah satu fenomena sosial yang terjadi di dunia pendidikan kita hari ini adalah ‘nilai lebih utama dibanding pemahaman terhadap ilmu yang diberikan’. Fenomena ini terjadi mulai dari pendidikan dasar dan menengah, terlebih lagi di jenjang pendidikan tinggi. Tak pandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang; mulai dari mahasiswa baru (maba), hingga mahasiswa abadi penghuni kampus, semuanya menganut doktrin di atas.

Seakan sudah menjadi tradisi, pemikiran ini tak dapat dihilangkan dengan mudah. Terlebih di zaman serba canggih seperti sekarang ini, akses menuju sumber informasi sangat kaya. Ditambah lagi dengan generasi Z yang menjadi aktornya, para pegiat media sosial, turut menyuburkan pemahaman keliru yang telah dianut layaknya tradisi ini.

Ribuan –bahkan jutaan- mahasiswa di negeri ini rela melakukan apa saja demi mendapatkan nilai maksimal, demi mendapat ‘4.00’ di transkrip nilai mereka. Jika kita ingin melihat lebih jauh, selama ini banyak mahasiswa berkuliah demi mengejar sebuah angka dan huruf di transkrip nilai, bukan untuk memahami ilmu yang diberikan. Di banyak kampus, di tiap fakultas, jurusan, hingga ke ruang-ruang kelas yang ada, pertanyaan yang paling laris ialah “Dapat IPK berapa?”, atau “Berapa huruf A-nya?”, dibanding “Sudah sejauh mana memahami materinya?”. Hal ini seakan menjadi makanan sehari-hari dan memperkuat ‘doktrin’ di atas, yaitu nilai lebih utama dibandingkan pemahaman mahasiswa terhadap ilmu yang telah diberikan.

Hal ini seakan-akan menjadikan IPK sebagai satu-satunya penentu keberhasilan mahasiswa di bangku perkuliahan dan masa depan. Kalau IPK-nya rendah, berarti masa depannya tidak cerah. Akibatnya, berbagai cara dilakukan oleh para mahasiswa demi mengejar nilai IPK yang tinggi. Mulai dari cara-cara halal, hingga cara-cara curang yang tak dibenarkan di dunia akademik. Contohnya mulai dari menyontek, memanipulasi hasil penelitian, plagiasi tulisan; hingga yang paling laris manis di pasaran, cara paling ampuh dan cepat menyelesaikan tugas dalam semalam yaitu joki tugas. Walaupun argumen yang dibangun adalah keduanya sama-sama diuntungkan, baik dosen yang memberi tugas tidak dirugikan sama sekali, maupun mahasiswa yang diberikan tugas bersedia merogoh kocek yang tak sedikit tergantung dari banyaknya tugas yang diberikan, tetapi tetap saja hal-hal semacam ini  tidak dibenarkan di dalam dunia akademik. Kemendikbudristek (sekarang dipecah menjadi Kemendikdasmen dan Kemenristekdikti) sendiri menegaskan bahwa joki merupakan salah satu bentuk plagiarisme yang dilarang dalam undang-undang No. 20 tahun 2003.

Ada banyak faktor yang memengaruhi suburnya fenomena ini, baik secara internal maupun eksternal. Salah satu faktor internalnya yaitu sikap mahasiswa yang anti sosial (ansos), menutup diri dari lingkungan sekitar. Ia merasa bahwa tidak ada gunanya bersosialisasi, hanya membuang-buang waktu dan menguras energi. Biasanya, mahasiswa seperti ini tergolong ke dalam kelompok ‘kupu-kupu’ (kuliah-pulang, kuliah-pulang), sebuah istilah bagi mereka yang enggan berorganisasi dan bersosialisasi, pergi ke kampus hanya untuk kuliah, selebihnya pulang ke kos/rumah. Mereka yang termasuk ke dalam golongan ini biasanya sangat terobsesi dengan nilai, dan jika mereka gagal mendapatkan nilai maksimal, mereka akan menyalahkan diri sendiri, bahkan sampai mengurung diri.

Akan tetapi, hal di atas bukanlah satu-satunya faktor penyebab IPK-sentrisme di kalangan mahasiswa. Ada banyak juga faktor eksternal yang menyebabkan pandangan ini semakin mengakar kuat dan menjamur. Mulai dari kepribadian dosen yang beragam, tuntutan keluarga, hingga pengaruh lingkungan.

Faktor eksternal yang pertama yaitu kepribadian dosen yang beragam. Di banyak kampus di negeri ini, hal ini selalu menjadi top ten hal yang menjadi keluhan mahasiswa, di samping dosen pembimbing yang sangat sulit ditemui, tuntutan akademik yang tinggi, dll. Percaya atau tidak, kepribadian dan cara mengajar dosen juga berpengaruh terhadap kemajuan belajar mahasiswa. Salah satu tipe dosen yang turut andil dalam pertumbuhan IPK-sentris di kalangan mahasiswa adalah dosen yang tak peduli dengan kondisi mahasiswa yang diajarnya. Intinya, ketika ujian nanti nilai mereka memuaskan. Tentu saja sikap seperti ini mendorong mahasiswa untuk berpikir bahwa ‘materi nggak penting, intinya dapet A pas ujian”.

Kepribadian dan cara mengajar dosen yang seperti ini berimplikasi pada perkembangan belajar mahasiswa selama satu semester. Mulai dari menyepelekan presensi, ketidakseriusan belajar di dalam kelas (selalu bercanda, mengobrol, bermain gim dalam kelas), tidak memerhatikan penjelasan yang diberikan, hingga yang sering terjadi yaitu ‘bolos matkul’, atau tidak menghadiri perkuliahan sama sekali dengan dalih “Buat apa masuk? toh nggak ngaruh juga. Intinya pas ujian nilainya besar”. Tipe dosen seperti ini lebih berbahaya dibandingkan dengan dosen ‘killer’. Mengapa demikian? karena jika mahasiswa berhadapan dengan dosen ‘killer’, mereka akan terpacu untuk benar-benar memahami materi, karena jika tidak, mereka akan menjadi sasaran empuk sang dosen. Berbeda dengan tipe dosen yang ‘cuek’, seperti yang telah dipaparkan di atas.

Faktor berikutnya yaitu ekonomi dan tuntutan keluarga. Tidak semua mahasiswa beruntung terlahir dari keluarga dengan latar belakang ekonomi yang baik. Bagi kalangan menengah ke bawah, masih tertanam pandangan bahwa nilai IPK tinggi merupakan bukti keberhasilan berkuliah. Terlebih lagi para mahasiswa yang merantau, jauh dari orang tua dan saudara. Berkuliah merupakan suatu privilese yang tidak dimiliki banyak orang, oleh karena itu, sebagai balasan dan bentuk keseriusan dari berkuliah adalah memiliki IPK yang tinggi. Stigma yang melekat pada mahasiswa dengan IPK yang rendah yaitu tidak serius belajar, terlalu sibuk berorganisasi, terlalu sering nongkrong, dsb.

Sedikit berbeda dengan faktor ekonomi, tuntutan keluarga juga menjadi salah satu faktor suburnya pandangan IPK-sentris ini. Jika faktor ekonomi tadi biasanya dialami oleh mahasiswa berlatar belakang menengah ke bawah, faktor tuntutan keluarga ini tidak memandang latar belakang ekonomi. Baik mahasiswa menengah ke bawah, menengah ke atas, hingga ‘orang berada’ sekalipun, tak luput dari tuntutan orang tua. Biasanya, hal ini disebabkan oleh sifat orang tua yang perfeksionis, selalu menuntut anaknya untuk mendapatkan nilai terbaik. Hal ini tidak dimulai sejak bangku perkuliahan saja, biasanya dimulai sejak masa sekolah menengah, bahkan dasar. Sikap kompetitif yang berlebihan, melahirkan seorang anak yang tak pernah mengenal kata gagal dalam belajar, sehingga Ia akan berusaha mati-matian untuk mendapatkan IPK yang tinggi. Budaya keluarga juga bisa menjadi salah satu faktor yang berpengaruh. Contohnya, jika kedua orang tuanya merupakan dokter atau dosen, keluarga besar dan kerabatnya juga bekerja di bidang yang sama, maka mereka akan melahirkan anak-anak pureblood, sehingga memiliki beban moral dan tuntutan untuk mendapatkan nilai yang tinggi.

Faktor berikutnya yaitu pekerjaan. IPK masih menjadi salah satu persyaratan yang harus terpenuhi oleh para pelamar pekerjaan. Di samping batasan usia, pengalaman kerja, dan softskills tentunya. Hal ini menyebabkan pergeseran orientasi  mahasiswa, yang semula idealis menjadi realistis. Tujuannya? Tentu saja untuk memudahkan mencari pekerjaan.

Meskipun demikian, di zaman modern yang diisi oleh para mahasiswa gen Z seperti sekarang ini, mulai banyak mahasiswa yang berupaya untuk mematahkan doktrin IPK-sentris ini. Mereka mencoba untuk merevolusi pemikiran mahasiswa dengan berbagai cara, mulai dari membentuk kelompok belajar, menciptakan kelas-kelas daring, hingga upaya-upaya konvensional seperti memberi pemahaman bahwa ‘IPK bukanlah segalanya’ ke ruang obrolan santai hingga forum diskusi formal. Hal ini sudah seyogianya dilakukan oleh para mahasiswa. Jika tidak ada yang peduli tentang fenomena ini, ia akan menjadi tradisi yang akan menjelma sebagai ‘budaya akademik’ yang keliru.  Langkah ini akan semakin terasa jika para mahasiswa semakin sadar dan concern mengenai permasalahan ini.

Kesimpulannya, fenomena IPK-sentris ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya yaitu sikap mahasiswa yang ansos, cara mengajar dan kepribadian dosen yang acuh, faktor ekonomi, tuntutan dan budaya keluarga, hingga proses rekrutmen pekerjaan. Jika tidak dibenahi, pemikiran dan kualitas mahasiswa akan terus menerus berorientasi pada angka dan huruf di atas transkrip nilai saja, bukan pada pemahaman terhadap keilmuan yang mereka dalami selama empat tahun. Solusi yang dilakukan untuk merevolusi pemikiran mahasiswa semacam ini di antaranya yaitu membentuk kelompok-kelompok belajar mandiri, membuat platform kelas digital, hingga membawa isu ini ke ranah informal maupun diskusi formal.

===

Tulisan ini merupakan draf artikel populer yang saya ajukan untuk seleksi program SIBac-sip 2025. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...