Malu Bertanya, Sesat di Jalan;
Banyak Bertanya, Disikat Kawan!
Salah satu di antara sekian banyaknya doktrin
yang diajarkan kepada semua siswa di banyak sekolah yaitu “malu bertanya,
sesat di jalan”, yang bermakna jika kita malu/enggan untuk bertanya, maka
kita akan tersesat (kebingungan) setelahnya. Kalimat ini menjadi jurus andalan
para pengajar setelah selesai menerangkan bejibun materi, atau
menyampaikan berpuluh-puluh salindia presentasi yang dipaparkan secara daring
melalui aplikasi kesayangan kita semua: google meet/zoom yang tak bisa dipakai
lebih dari 40 menit itu.
Rupanya, bukan hanya para pengajar seperti
guru dan dosen saja yang menggunakan kalimat sakti ini, para pelajar macam
siswa dan mahasiswa pun tak mau ketinggalan dengan ikut-ikut menggunakan
kalimat tersebut. Bedanya, kalau para pengajar menggunakan kalimat ini dengan
sukarela karena ingin ditanya, kalau pelajar, boro-boro suka, rela saja
tidak. Bagi mereka, kalimat di atas sekadar formalitas untuk menutup presentasi
yang membosankan dan monoton belaka.
Sudah puluhan tahun lamanya, kalimat di
atas seakan menjadi pecutan bagi para siswa untuk terus bertanya,
bertanya, dan bertanya. Kalimat sakti tersebut menstimulus siswa untuk tidak beranjak
keluar kelas tanpa membawa pertanyaan. Meski demikian, masih banyak siswa yang
tak acuh dengan kalimat tersebut. Masih banyak yang enggan bertanya, skeptis,
bahkan menanggapinya dengan berpura-pura tidak melihat, tidak mendengar, bahkan
membuang muka.
Meskipun saya bukan pakar/pengamat pendidikan,
epanjang pengamatan dan pengalaman saya, setidaknya terdapat tiga level penggunaan
kalimat sakti ini, dimulai dengan pemberian janji, ancaman, dan yang terakhir: tembak
di tempat. Pertama, “Yang bertanya dapat nilai tambahan”. Di tingkat
pertama, para guru memberi iming-iming nilai tambahan kepada siswa yang bertanya
di kelas. Cara ini cukup karet, karena tidak semua guru memberi nilai
secara transparan, sehingga benar atau tidaknya diberi nilai tambah, hanya Allah
yang tahu.
Jika cara tersebut tidak berhasil, beralih
ke tingkat selanjutnya, yaitu pemberian ancaman. Misalnya, “Yang tidak bertanya,
tidak boleh istirahat/pulang!”. Dengan taktik seperti ini, biasanya tingkat
keberhasilannya meningkat dibanding yang pertama. Pasalnya, yang terpenting
bagi siswa adalah jam istirahat, makan dan pulang; bukan bertanya. Dengan cara
ini, mau tidak mau para siswa pun secara terpaksa mengangkat tangan, berebut
bertanya demi istirahat dan pulang.
Terakhir, jika para siswa masih saja bebal
dan tidak mau bertanya, keluarlah jurus pemungkas, langkah paling akhir
yang akan dikeluarkan para guru. Ruang kelas seakan mencekam, dan kawan seakan
hilang, seolah tak saling mengenal. Jurus andalan itu saya sebut dengan tembak
di tempat. Biasanya, kata-kata kematian tersebut berbunyi “Kalau tidak
ada yang bertanya, biar saya yang bertanya, akan saya tunjuk…”.Guru bebas
memilih siapa saja yang Ia inginkan untuk bertanya (malah terkadang guru yang
memberi pertanyaan), bisa dari daftar kehadiran, maupun sistem tunjuk-bebas. Intinya,
siapa saja bisa menjadi tumbal di sana.
Ada satu lagi penggunaan kalimat sakti yang
tidak masuk ke dalam tiga tingkatan di atas. Sengaja tidak saya masukkan karena
dampak yang dihasilkan tidak terlalu signifikan, yaitu dengan penggunaan
sindiran. Biasanya diawali dengan pertanyaan sindiran seperti “Wah, sudah
hebat, ya? Tidak ada yang bertanya sama sekali”, dan diakhiri dengan
kalimat penutup seperti “Baiklah, jika tidak ada yang bertanya, sampai jumpa
di ujian bulan depan”. Efek dari
sindiran ini ‘kurang terasa’ dibanding ketiga jurus di atas. Meski demikian, cara
ini terkadang masih efektif bagi para siswa yang patuh dan khawatir pada nilai
akhir mereka.
Sedari tadi,
kita sudah membahas Malu bertanya, sesat di jalan beserta tetek bengeknya. Lantas, apa dampak dari kalimat
tersebut? Sebagaimana yang saya paparkan di muka, bahwa ada tiga jurus
penggunaan kalimat ini, yang secara praktis membuat para siswa untuk bertanya;
baik secara sukarela maupun terpaksa. Saya tidak bisa memaparkan data dan hasil
penelitian, tapi secara subjektif saya katakan bahwa kalimat ini cukup bisa menstimulus
siswa untuk bertanya.
Jika coba dilihat
kembali, yang lebih sering bertanya di kelas biasanya (tidak selalu, tapi seringkali
terjadi) adalah perempuan, atau mereka yang duduk di barisan depan, mereka yang
memang suka dengan materi/mata pelajarannya, atau yang terakhir, mereka yang
benar-benar belum/tidak memahami sama sekali materi yang diberikan. Tak jarang
juga mereka yang bertanya hanya untuk mendapat perhatian semata, baik itu teman,
pujaan hati, bahkan guru itu sendiri.
Hasilnya, para
siswa bertanya apa saja, mulai dari A-Z yang terlintas di kepalanya, tak peduli
apakah nyambung dengan pembahasan atau tidak, intinya bertanya. Seakan-akan
yang bertanya mendapat ganjaran surga. Jadi, lahirlah satu fenomena di ruang
kelas, yang penting bertanya, bukan bertanya yang
penting. Mulai dari pengertian, sejarah, jenis, dan berbagai hal yang
sebenarnya dapat ditelaah kembali dari makalah yang disajikan, atau dicari di peramban
pada telepon pintar.
Quality over
Quantity
Semakin banyak
bertanya, semakin bagus. Logika ini yang coba ditanamkan turun temurun oleh
para guru sejak SD, SMP, SMA, hingga Universitas. Hasilnya, para siswa bertanya
apa saja, mulai dari A-Z yang terlintas di kepalanya, tak peduli apakah
nyambung dengan pembahasan atau tidak, intinya bertanya. Seakan-akan yang
bertanya mendapat ganjaran surga. Jadi, lahirlah satu fenomena di ruang kelas, yang penting bertanya, bukan bertanya yang penting.
Hal ini cukup
bagus untuk mencetak generasi kritis yang banyak bertanya dan memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi. Naasnya, jika siswa bertanya melebihi kadar kemampuan
sang guru, pertanyaan tersebut akan ‘digantung’ dan dilempar ke jenjang
selanjutnya, biasanya dengan template seperti: “Nanti akan dijelaskan di bangku kuliah”. Di kampus, saat
bertanya kepada dosen, balasannya adalah: “Ini hal
dasar, sudah pernah dijelaskan di SMA”. Ondeh, betapa mirisnya.
Efek lainnya dari
banyak bertanya yaitu dicintai guru, namun dibenci teman. Hal ini seakan sudah
menjadi hal lumrah, hukum alam di setiap mata pelajaran dan setiap kelas. Bagi mereka
yang banyak bertanya, akan dikenal, disayang dan dicintai oleh guru; di satu
sisi, secara tak sadar ia memupuk kebencian dari teman-teman sekelas, karena
dianggap caper (cari perhatian)
dan menyulitkan ketika penyampaian makalah di kelas.
Bukti nyatanya
terjadi saat saya masih duduk di bangku semester satu. Mahasiswa baru yang
masih tabu, masih meraba-raba caranya berkuliah; dengan tidak berseragam dan jam
pulang yang ketat. Kawan sekelas saya dulu (sebut saja X), pernah diancam
hendak disikat oleh kawan
sekelas saya yang lain (sebut saja Y). Bukan perihal utang maupun perempuan, melainkan
perihal ketidaksukaan Y terhadap X yang banyak sekali bertanya di kelas. Untungnya,
perkelahian itu dapat dihindari, namun efek jangka panjangnya, X di-blacklist dari daftar penanya ketika pembacaan makalah
berakhir.
Lantas, bagaimana
sebenarnya bertanya yang baik dan benar itu? Bagaimana agar tetap disukai oleh
teman? Jawabannya ada pada pertanyaan itu sendiri. Bertanyalah pertanyaan yang
baik; menggunakan bahasa yang lugas, padat, dan mampu dipahami oleh audiens;
kemudian pertanyaan yang tidak menyinggung. Selanjutnya, pertanyaan yang benar;
yang memiliki keterkaitan dengan materi yang disampaikan, yang sekiranya mampu
menambah wawasan seisi kelas. Kalau perihal cara agar tetap disukai oleh teman,
saya sarankan anda baca Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi
& Fumitake Koga.
Saya teringat
dengan pesan dari dosen PA (Pembimbing Akademik) saya saat beliau mengajar di
kelas kami, beliau menyampaikan pertanyaan yang dilontarkan haruslah yang
berbobot, bukan yang penting bertanya, tapi bertanya yang penting. Walhasil, selama ini pertanyaan yang dilontarkan
sekadar bunga-bunga perkuliahan saja, ada-tidaknya pertanyaan tak mempengaruhi
jalannya KBM di kelas. Maka dari itu, mari perlahan kita perbaiki budaya
akademis kita, karena kualitas lebih penting dari kuantitas, dan bertanya bukan
sekadar formalitas.
Tulisan ini merupakan refleksi subjektif selama
lima semester saya berkuliah. Tidak ada satupun niatan saya untuk memarjinalkan
satu pihak tertentu; dan saya harap tulisan ini menjadi pengingat untuk kita
semua. Mari hiasi ruang kelas dan kampus dengan berbagai pertanyaan yang tak
dapat dijawab Guru Besar sekalipun!
Padang, 8 Desember 2025
Hafidz Arrizki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar