08 Desember 2025

Malu Bertanya, Sesat di Jalan; Banyak Bertanya, Disikat Kawan!

 

Malu Bertanya, Sesat di Jalan;
Banyak Bertanya, Disikat Kawan!

 

Salah satu di antara sekian banyaknya doktrin yang diajarkan kepada semua siswa di banyak sekolah yaitu “malu bertanya, sesat di jalan”, yang bermakna jika kita malu/enggan untuk bertanya, maka kita akan tersesat (kebingungan) setelahnya. Kalimat ini menjadi jurus andalan para pengajar setelah selesai menerangkan bejibun materi, atau menyampaikan berpuluh-puluh salindia presentasi yang dipaparkan secara daring melalui aplikasi kesayangan kita semua: google meet/zoom yang tak bisa dipakai lebih dari 40 menit itu.

Rupanya, bukan hanya para pengajar seperti guru dan dosen saja yang menggunakan kalimat sakti ini, para pelajar macam siswa dan mahasiswa pun tak mau ketinggalan dengan ikut-ikut menggunakan kalimat tersebut. Bedanya, kalau para pengajar menggunakan kalimat ini dengan sukarela karena ingin ditanya, kalau pelajar, boro-boro suka, rela saja tidak. Bagi mereka, kalimat di atas sekadar formalitas untuk menutup presentasi yang membosankan dan monoton belaka.

Sudah puluhan tahun lamanya, kalimat di atas seakan menjadi pecutan bagi para siswa untuk terus bertanya, bertanya, dan bertanya. Kalimat sakti tersebut menstimulus siswa untuk tidak beranjak keluar kelas tanpa membawa pertanyaan. Meski demikian, masih banyak siswa yang tak acuh dengan kalimat tersebut. Masih banyak yang enggan bertanya, skeptis, bahkan menanggapinya dengan berpura-pura tidak melihat, tidak mendengar, bahkan membuang muka.

Meskipun saya bukan pakar/pengamat pendidikan, epanjang pengamatan dan pengalaman saya, setidaknya terdapat tiga level penggunaan kalimat sakti ini, dimulai dengan pemberian janji, ancaman, dan yang terakhir: tembak di tempat. Pertama, “Yang bertanya dapat nilai tambahan”. Di tingkat pertama, para guru memberi iming-iming nilai tambahan kepada siswa yang bertanya di kelas. Cara ini cukup karet, karena tidak semua guru memberi nilai secara transparan, sehingga benar atau tidaknya diberi nilai tambah, hanya Allah yang tahu.

Jika cara tersebut tidak berhasil, beralih ke tingkat selanjutnya, yaitu pemberian ancaman. Misalnya, “Yang tidak bertanya, tidak boleh istirahat/pulang!”. Dengan taktik seperti ini, biasanya tingkat keberhasilannya meningkat dibanding yang pertama. Pasalnya, yang terpenting bagi siswa adalah jam istirahat, makan dan pulang; bukan bertanya. Dengan cara ini, mau tidak mau para siswa pun secara terpaksa mengangkat tangan, berebut bertanya demi istirahat dan pulang.

Terakhir, jika para siswa masih saja bebal dan tidak mau bertanya, keluarlah jurus pemungkas, langkah paling akhir yang akan dikeluarkan para guru. Ruang kelas seakan mencekam, dan kawan seakan hilang, seolah tak saling mengenal. Jurus andalan itu saya sebut dengan tembak di tempat. Biasanya, kata-kata kematian tersebut berbunyi “Kalau tidak ada yang bertanya, biar saya yang bertanya, akan saya tunjuk…”.Guru bebas memilih siapa saja yang Ia inginkan untuk bertanya (malah terkadang guru yang memberi pertanyaan), bisa dari daftar kehadiran, maupun sistem tunjuk-bebas. Intinya, siapa saja bisa menjadi tumbal di sana.

Ada satu lagi penggunaan kalimat sakti yang tidak masuk ke dalam tiga tingkatan di atas. Sengaja tidak saya masukkan karena dampak yang dihasilkan tidak terlalu signifikan, yaitu dengan penggunaan sindiran. Biasanya diawali dengan pertanyaan sindiran seperti “Wah, sudah hebat, ya? Tidak ada yang bertanya sama sekali”, dan diakhiri dengan kalimat penutup seperti “Baiklah, jika tidak ada yang bertanya, sampai jumpa di ujian bulan depan”. Efek dari sindiran ini ‘kurang terasa’ dibanding ketiga jurus di atas. Meski demikian, cara ini terkadang masih efektif bagi para siswa yang patuh dan khawatir pada nilai akhir mereka.

Sedari tadi, kita sudah membahas Malu bertanya, sesat di jalan beserta tetek bengeknya. Lantas, apa dampak dari kalimat tersebut? Sebagaimana yang saya paparkan di muka, bahwa ada tiga jurus penggunaan kalimat ini, yang secara praktis membuat para siswa untuk bertanya; baik secara sukarela maupun terpaksa. Saya tidak bisa memaparkan data dan hasil penelitian, tapi secara subjektif saya katakan bahwa kalimat ini cukup bisa menstimulus siswa untuk bertanya.

Jika coba dilihat kembali, yang lebih sering bertanya di kelas biasanya (tidak selalu, tapi seringkali terjadi) adalah perempuan, atau mereka yang duduk di barisan depan, mereka yang memang suka dengan materi/mata pelajarannya, atau yang terakhir, mereka yang benar-benar belum/tidak memahami sama sekali materi yang diberikan. Tak jarang juga mereka yang bertanya hanya untuk mendapat perhatian semata, baik itu teman, pujaan hati, bahkan guru itu sendiri.

Hasilnya, para siswa bertanya apa saja, mulai dari A-Z yang terlintas di kepalanya, tak peduli apakah nyambung dengan pembahasan atau tidak, intinya bertanya. Seakan-akan yang bertanya mendapat ganjaran surga. Jadi, lahirlah satu fenomena di ruang kelas, yang penting bertanya, bukan bertanya yang penting. Mulai dari pengertian, sejarah, jenis, dan berbagai hal yang sebenarnya dapat ditelaah kembali dari makalah yang disajikan, atau dicari di peramban pada telepon pintar.

Quality over Quantity

Semakin banyak bertanya, semakin bagus. Logika ini yang coba ditanamkan turun temurun oleh para guru sejak SD, SMP, SMA, hingga Universitas. Hasilnya, para siswa bertanya apa saja, mulai dari A-Z yang terlintas di kepalanya, tak peduli apakah nyambung dengan pembahasan atau tidak, intinya bertanya. Seakan-akan yang bertanya mendapat ganjaran surga. Jadi, lahirlah satu fenomena di ruang kelas, yang penting bertanya, bukan bertanya yang penting.

Hal ini cukup bagus untuk mencetak generasi kritis yang banyak bertanya dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Naasnya, jika siswa bertanya melebihi kadar kemampuan sang guru, pertanyaan tersebut akan ‘digantung’ dan dilempar ke jenjang selanjutnya, biasanya dengan template seperti: “Nanti akan dijelaskan di bangku kuliah”. Di kampus, saat bertanya kepada dosen, balasannya adalah: “Ini hal dasar, sudah pernah dijelaskan di SMA”. Ondeh, betapa mirisnya.

Efek lainnya dari banyak bertanya yaitu dicintai guru, namun dibenci teman. Hal ini seakan sudah menjadi hal lumrah, hukum alam di setiap mata pelajaran dan setiap kelas. Bagi mereka yang banyak bertanya, akan dikenal, disayang dan dicintai oleh guru; di satu sisi, secara tak sadar ia memupuk kebencian dari teman-teman sekelas, karena dianggap caper (cari perhatian) dan menyulitkan ketika penyampaian makalah di kelas.

Bukti nyatanya terjadi saat saya masih duduk di bangku semester satu. Mahasiswa baru yang masih tabu, masih meraba-raba caranya berkuliah; dengan tidak berseragam dan jam pulang yang ketat. Kawan sekelas saya dulu (sebut saja X), pernah diancam hendak disikat oleh kawan sekelas saya yang lain (sebut saja Y). Bukan perihal utang maupun perempuan, melainkan perihal ketidaksukaan Y terhadap X yang banyak sekali bertanya di kelas. Untungnya, perkelahian itu dapat dihindari, namun efek jangka panjangnya, X di-blacklist dari daftar penanya ketika pembacaan makalah berakhir.

Lantas, bagaimana sebenarnya bertanya yang baik dan benar itu? Bagaimana agar tetap disukai oleh teman? Jawabannya ada pada pertanyaan itu sendiri. Bertanyalah pertanyaan yang baik; menggunakan bahasa yang lugas, padat, dan mampu dipahami oleh audiens; kemudian pertanyaan yang tidak menyinggung. Selanjutnya, pertanyaan yang benar; yang memiliki keterkaitan dengan materi yang disampaikan, yang sekiranya mampu menambah wawasan seisi kelas. Kalau perihal cara agar tetap disukai oleh teman, saya sarankan anda baca Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga.

Saya teringat dengan pesan dari dosen PA (Pembimbing Akademik) saya saat beliau mengajar di kelas kami, beliau menyampaikan pertanyaan yang dilontarkan haruslah yang berbobot, bukan yang penting bertanya, tapi bertanya yang penting. Walhasil, selama ini pertanyaan yang dilontarkan sekadar bunga-bunga perkuliahan saja, ada-tidaknya pertanyaan tak mempengaruhi jalannya KBM di kelas. Maka dari itu, mari perlahan kita perbaiki budaya akademis kita, karena kualitas lebih penting dari kuantitas, dan bertanya bukan sekadar formalitas.

 

Tulisan ini merupakan refleksi subjektif selama lima semester saya berkuliah. Tidak ada satupun niatan saya untuk memarjinalkan satu pihak tertentu; dan saya harap tulisan ini menjadi pengingat untuk kita semua. Mari hiasi ruang kelas dan kampus dengan berbagai pertanyaan yang tak dapat dijawab Guru Besar sekalipun!

 

Padang, 8 Desember 2025
Hafidz Arrizki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...