21 Juli 2026

Bukan Orang Bahasa dan Sastera: Ketika Keduanya Sering Disalahpahami oleh Pengkajinya Sendiri


Bahasa dan Sastra, suatu bidang ilmu yang justru ‘tidak dianggap’ demikian oleh orang-orang eksakta ini sering disalahpahami. Para pengkaji bahasa dianggap kurang menarik, karena hanya bergelut dengan kata-kata dan puisi semata, yaaa paling banter mengkaji pidato presiden atau kesalahan berbahasa saja, lah. Lagipula, apa yang hebat dari kajian bahasa? agaknya bagi mereka lebih menggoda kajian-kajian sains dan teknologi yang penuh dengan angka. Sebagai mahasiswa bahasa dan sastra, saya sering mendapat stigma-stigma semacam ini. Mulai dari esensi berkuliah sastra, hingga sering disalahpahami (bahkan dihakimi) di ranah saya sendiri.

Sebagai pengantar, saya ingin flashback ke bulan April 2025, saat itu UIN Imam Bonjol mengadakan seleksi program Student of Imam Bonjol Academic Community - Smart Internship Program (sIBac-sip) angkatan kedua, setelah di tahun sebelumnya berhasil memboyong 20 mahasiswa terbaik UIN Imam Bonjol untuk shortcourse ke negerinya Kebab dan negeri Kanguru selama sepuluh hari. Dari sekian banyak mahasiswa S-1 dan S-2 yang mendaftar, terpilihlah 40 orang calon peserta yang akan diberangkatkan ke tiga negara, yakni Turki, Australia, hingga Uzbekistan. Salah satu rangkaian seleksi program tadi yaitu kegiatan Student Literacy Camp (SLC) selama satu minggu.

Namun, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, kegiatan unggulan yang selalu dielu-elukan setiap kali sosialisasi dan promosi kampus ke daerah tersebut batal dilaksanakan. Kami tidak jadi diberangkatkan ke negeri yang dijanjikan itu. Konon katanya, pusat (Kemensesneg dan Kemenag) tidak memberikan izin keberangkatan karena pendanaan kegiatan. Ada juga desas-desus kegiatan kami ini batal dilaksanakan karena kebijakan efisiensi yang justru membuat kabinet semakin gemuk. Wallahu a’lam, intinya kami semua percaya, bahwa inilah jalan yang terbaik, dan cara Allah melindungi kami dari marabahaya. Tak lama setelah itu, perang pecah antara AS dan Iran, yang juga menghantam negara-negara Timur Tengah.

Kembali ke laptop. Saya ingat betul, ketika dulu mempresentasikan draf artikel pada SLC 2025 lalu dengan judul Tindak Tutur Ilokusi pada Pemberitaan mengenai Gencatan Senjata Palestina-Israel pada Situs Al-Jazeera.Net (yang ditolak Jurnal Diwan) di hadapan kawan-kawan, mentor, dan para dosen, Pak AK berkomentar kalau kajian saya ini bukan kajian Linguistik, tapi media. Beliau menyinggung soal bias media yang tidak saya bahas sama sekali. Memang benar, kita harus mengosongkan setengah gelas ketika presentasi di depan para dosen yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan itu. Akan tetapi, bukan berarti kita dapat serta merta mengiyakan klaim beliau tentang Linguistik tadi.

Saya merupakan peserta dengan nomor urut pertama untuk memaparkan hasil tulisan saya. Saat saya tampil, Pak WA yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama juga ikut nimbrung, duduk manis menengok paparan saya. Bak gayung bersambut, beliau juga mengamini pernyataan Pak AK tadi. Beliau mengarahkan saya untuk putar haluan ke Sosiolinguistik. “Kamu kan anak bahasa. Ngapain bahas media, bahas aja sosiolinguistik”, ujar guru besar Sosiologi UIN Imam Bonjol itu.

Lantas saya adukan hal tersebut ke Bu AR dan Pak RF selaku dosen pembimbing tulisan saya ini. Meskipun Beliau-beliau kompak tertawa mendengar cerita saya, agaknya Beliau berdua 'tersinggung' dengan pernyataan tersebut. Bagaimana tidak, sejelas itu kajian Pragmatik, mana bisa pula disebut bukan kajian Linguistik. Wah, rasanya kalau kabar ini sampai ke telinga Geoffrey Leech atau George Yule, bisa naik pitam mereka berdua. Entahlah, mungkin Bapak-bapak dosen Fakultas Dakwah tadi merasa saya menyerobot ranah kajian mereka tanpa permisi, Hahaha.

 

Bukan Kali Pertama

Bak lirik lagu Noah,
    "Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali".


Hal serupa terjadi beberapa waktu lalu, ketika penelitian lapangan filologi ke Sijunjung. Saya naksir dengan teks Ta’bir Gempa yang ada di Surau Simaung, dan berencana mengkajinya dengan pisau Semiotika Charles Sanders Peirce. Saat sesi presentasi draf tulisan ilmiah di hadapan para dosen dan peneliti BRIN, dua orang dosen dan peneliti berpendapat bahwa Semiotika hanya bisa digunakan untuk mengkaji simbol berupa gambar saja. Sedangkan teks yang saya kaji betul siang-malam ini tiada bergambar satu halaman pun. Lantas saya diarahkan untuk mengkaji makna, pada tataran Semantik.

Saya adukan hal tersebut ke dosen pembimbing saya, bahwa saya kurang bersetuju dengan pernyataan Bapak dan Ibu dosen tadi. Jangan karena Beliau-beliau itu peneliti BRIN, lantas bisa berfatwa demikian. Dosen pembimbing saya mencoba menenangkan dan membela, mengatakan bahwa Beliau-beliau itu bukan orang sastra, jadi tak biasa menggunakan teori sastra (walaupun Beliau berdua lulusan sastra dan saat ini bergelut di bidang kesusastraan dan tradisi lisan). Tak mau kalah, saya telusuri sumber-sumber otoritatif Charles Sanders Peirce itu, agar tungkus lumus [1] saya selama ini tak terbuang percuma. Sudah lelah bersitungkin [2], masa' kalah dengan simbol dan kata-kata.

Singkat cerita, bak pucuk dicinta ulam pun tiba, bertemulah saya dengan suhuf-suhuf Peirce yang telah dikitabkan menjadi Collected Papers of Sanders Peirce, CP. 2.292 dan CP. 3.360.[3] Dengan gamblang Peirce mengatakan bahwa kata-kata juga termasuk simbol (yang Ia sebut dengan Token) Semiotikanya. Jadi, anggapan bahwa kata-kata bukan simbol, dan Semiotika hanya bisa digunakan mengkaji tanda berupa gambar saja tidaklah tepat. Selesailah sudah ihwal kata-kata dan simbol yang dimentahkan saat presentasi kemarin. Mustahaklah[4] sekarang saya menulis bahwa kata-kata juga termasuk simbol Semiotika. Di bawah ini saya lampirkan cuplikan teks tersebut.

Pada volume 2, paragraf 292, Peirce mengatakan bahwa:

“All words, sentences, books, and other conventional signs are Symbols.”

(Semua kata, kalimat, buku, dan tanda-tanda konvensional lainnya adalah simbol).

 

Sementara itu, pada volume 3, paragraf 360, Peirce melanjutkan:

“They are, for the most part, conventional arbitrary. They include all general words, the main body of speech, and any mode of conveying a judgement. For the sake of brevity, I will call them tokens.”

(Sebagian besar, tanda-tanda itu bersifat konvensional atau arbitrer. Tanda-tanda itu mencakup semua kata umum, bagian utama tutran, dan segala cara untuk menyampaikan putusan. Singkatnya, saya akan menyebutnya token)

 

Sumber:

Charles Sanders Peirce. Collected Papers of Charles Sanders Peirce. Electronic Edition. Vol. 2–3. Harvard University Press, 1931.

 

***

Walau bagaimana pun, saya tetap menaruh takzim kepada Bapak-bapak dan Ibu dosen saya tadi. Tulisan ini sejatinya bukanlah sebagai bentuk kritik terhadap beliau yang sudah lebih dulu bersitungkin di dunia akademik dan penelitian, tetapi ditulis sebagai bentuk refleksi dari fenomena-fenomena kebahasa-sastraan yang pernah saya alami. Justru saya teramat bersyukur bertemu dengan Beliau-beliau, berkat kritikan dan masukan Beliau, saya jadi belajar, membuka buku, dan mencari materi kembali.

Sebagai penutup, bahasa dan sastra seringkali disalahpahami, bahkan oleh pengkajinya sendiri. Maka, biarlah risalah singkat ini menjadi syi’ar, bahwa beginilah gawe orang-orang bahasa dan sastera. Oiya, jangan lupa, kasih tahu Pak AK, kalau kami juga membahas media di AWK. Hahaha. []

 

 



[1] Maksudnya bersusah payah.

[2] Maksudnya bekerja mati-matian.

[3] Charles Sanders Peirce, Collected Papers of Charles Sanders Peirce, Electronic Edition, vol. 2–3 (Harvard University Press, 1931).

[4] Maksudnya berhak/pantas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...