Bahasa
dan Sastra, suatu bidang ilmu yang justru ‘tidak dianggap’ demikian oleh
orang-orang eksakta ini sering disalahpahami. Para pengkaji bahasa dianggap kurang
menarik, karena hanya bergelut dengan kata-kata dan puisi semata, yaaa paling
banter mengkaji pidato presiden atau kesalahan berbahasa saja, lah. Lagipula,
apa yang hebat dari kajian bahasa? agaknya bagi mereka lebih menggoda kajian-kajian
sains dan teknologi yang penuh dengan angka. Sebagai mahasiswa bahasa dan
sastra, saya sering mendapat stigma-stigma semacam ini. Mulai dari esensi berkuliah
sastra, hingga sering disalahpahami (bahkan dihakimi) di ranah saya sendiri.
Sebagai
pengantar, saya ingin flashback ke bulan April 2025, saat itu UIN Imam Bonjol
mengadakan seleksi program Student of Imam Bonjol Academic Community - Smart
Internship Program (sIBac-sip) angkatan kedua, setelah di tahun sebelumnya berhasil
memboyong 20 mahasiswa terbaik UIN Imam Bonjol untuk shortcourse ke negerinya
Kebab dan negeri Kanguru selama sepuluh hari. Dari sekian banyak mahasiswa S-1
dan S-2 yang mendaftar, terpilihlah 40 orang calon peserta yang akan
diberangkatkan ke tiga negara, yakni Turki, Australia, hingga Uzbekistan. Salah
satu rangkaian seleksi program tadi yaitu kegiatan Student Literacy Camp
(SLC) selama satu minggu.
Namun,
malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, kegiatan unggulan yang
selalu dielu-elukan setiap kali sosialisasi dan promosi kampus ke daerah tersebut
batal dilaksanakan. Kami tidak jadi diberangkatkan ke negeri yang dijanjikan
itu. Konon katanya, pusat (Kemensesneg dan Kemenag) tidak memberikan izin
keberangkatan karena pendanaan kegiatan. Ada juga desas-desus kegiatan kami ini
batal dilaksanakan karena kebijakan efisiensi yang justru membuat kabinet semakin
gemuk. Wallahu a’lam, intinya kami semua percaya, bahwa inilah jalan
yang terbaik, dan cara Allah melindungi kami dari marabahaya. Tak lama setelah
itu, perang pecah antara AS dan Iran, yang juga menghantam negara-negara Timur
Tengah.
Kembali
ke laptop. Saya ingat betul, ketika dulu
mempresentasikan draf artikel pada SLC 2025 lalu dengan judul Tindak
Tutur Ilokusi pada Pemberitaan mengenai Gencatan Senjata Palestina-Israel pada
Situs Al-Jazeera.Net (yang ditolak Jurnal Diwan) di hadapan kawan-kawan,
mentor, dan para dosen, Pak AK berkomentar kalau kajian saya ini bukan kajian
Linguistik, tapi media. Beliau menyinggung soal bias media yang tidak saya bahas
sama sekali. Memang benar, kita harus mengosongkan setengah gelas ketika
presentasi di depan para dosen yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan
itu. Akan tetapi, bukan berarti kita dapat serta merta mengiyakan klaim beliau
tentang Linguistik tadi.
Saya
merupakan peserta dengan nomor urut pertama untuk memaparkan hasil tulisan
saya. Saat saya tampil, Pak WA yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Rektor
III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama juga ikut nimbrung, duduk manis menengok
paparan saya. Bak gayung bersambut, beliau juga mengamini pernyataan Pak AK
tadi. Beliau mengarahkan saya untuk putar haluan ke Sosiolinguistik. “Kamu kan
anak bahasa. Ngapain bahas media, bahas aja sosiolinguistik”, ujar guru
besar Sosiologi UIN Imam Bonjol itu.
Lantas
saya adukan hal tersebut ke Bu AR dan Pak RF selaku dosen pembimbing tulisan
saya ini. Meskipun Beliau-beliau kompak tertawa mendengar cerita saya, agaknya
Beliau berdua 'tersinggung' dengan pernyataan tersebut. Bagaimana tidak,
sejelas itu kajian Pragmatik, mana bisa pula disebut bukan kajian Linguistik. Wah,
rasanya kalau kabar ini sampai ke telinga Geoffrey Leech atau George
Yule, bisa naik pitam mereka berdua. Entahlah, mungkin Bapak-bapak
dosen Fakultas Dakwah tadi merasa saya menyerobot ranah kajian mereka tanpa permisi,
Hahaha.
Bukan Kali Pertama
Bak lirik lagu Noah,
"Dan terjadi lagi, kisah lama yang
terulang kembali".
Hal
serupa terjadi beberapa waktu lalu, ketika penelitian lapangan filologi ke
Sijunjung. Saya naksir dengan teks Ta’bir Gempa yang ada di Surau Simaung,
dan berencana mengkajinya dengan pisau Semiotika Charles Sanders Peirce. Saat sesi
presentasi draf tulisan ilmiah di hadapan para dosen dan peneliti BRIN, dua
orang dosen dan peneliti berpendapat bahwa Semiotika hanya bisa digunakan untuk
mengkaji simbol berupa gambar saja. Sedangkan teks yang saya kaji betul
siang-malam ini tiada bergambar satu halaman pun. Lantas saya diarahkan untuk mengkaji
makna, pada tataran Semantik.
Saya
adukan hal tersebut ke dosen pembimbing saya, bahwa saya kurang bersetuju
dengan pernyataan Bapak dan Ibu dosen tadi. Jangan karena Beliau-beliau itu
peneliti BRIN, lantas bisa berfatwa demikian. Dosen pembimbing saya mencoba
menenangkan dan membela, mengatakan bahwa Beliau-beliau itu bukan orang sastra,
jadi tak biasa menggunakan teori sastra (walaupun Beliau berdua lulusan sastra
dan saat ini bergelut di bidang kesusastraan dan tradisi lisan). Tak mau kalah,
saya telusuri sumber-sumber otoritatif Charles Sanders Peirce itu, agar tungkus
lumus [1]
saya selama ini tak terbuang percuma. Sudah lelah bersitungkin [2],
masa' kalah dengan simbol dan kata-kata.
Singkat
cerita, bak pucuk dicinta ulam pun tiba, bertemulah saya dengan suhuf-suhuf
Peirce yang telah dikitabkan menjadi Collected Papers of Sanders Peirce,
CP. 2.292 dan CP. 3.360.[3]
Dengan gamblang Peirce mengatakan bahwa kata-kata juga termasuk simbol (yang Ia
sebut dengan Token) Semiotikanya. Jadi, anggapan bahwa kata-kata bukan simbol,
dan Semiotika hanya bisa digunakan mengkaji tanda berupa gambar saja tidaklah tepat.
Selesailah sudah ihwal kata-kata dan simbol yang dimentahkan saat presentasi kemarin.
Mustahaklah[4]
sekarang saya menulis bahwa kata-kata juga termasuk simbol Semiotika. Di bawah
ini saya lampirkan cuplikan teks tersebut.
Pada volume 2, paragraf 292, Peirce
mengatakan bahwa:
“All
words, sentences, books, and other conventional signs are Symbols.”
(Semua
kata, kalimat, buku, dan tanda-tanda konvensional lainnya adalah simbol).
Sementara itu, pada volume 3, paragraf 360,
Peirce melanjutkan:
“They
are, for the most part, conventional arbitrary. They include all general words,
the main body of speech, and any mode of conveying a judgement. For the sake of
brevity, I will call them tokens.”
(Sebagian
besar, tanda-tanda itu bersifat konvensional atau arbitrer. Tanda-tanda itu
mencakup semua kata umum, bagian utama tutran, dan segala cara untuk
menyampaikan putusan. Singkatnya, saya akan menyebutnya token)
Sumber:
Charles
Sanders Peirce. Collected Papers of Charles Sanders Peirce. Electronic
Edition. Vol. 2–3. Harvard University Press, 1931.
***
Walau
bagaimana pun, saya tetap menaruh takzim kepada Bapak-bapak dan Ibu dosen
saya tadi. Tulisan ini sejatinya bukanlah sebagai bentuk kritik terhadap beliau
yang sudah lebih dulu bersitungkin di dunia akademik dan penelitian, tetapi ditulis
sebagai bentuk refleksi dari fenomena-fenomena kebahasa-sastraan yang pernah
saya alami. Justru saya teramat bersyukur bertemu dengan Beliau-beliau, berkat
kritikan dan masukan Beliau, saya jadi belajar, membuka buku, dan mencari
materi kembali.
Sebagai
penutup, bahasa dan sastra seringkali disalahpahami, bahkan oleh pengkajinya
sendiri. Maka, biarlah risalah singkat ini menjadi syi’ar, bahwa beginilah gawe
orang-orang bahasa dan sastera. Oiya, jangan lupa, kasih tahu Pak
AK, kalau kami juga membahas media di AWK. Hahaha. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar