Akhlak merupakan suatu konsep yang penting di dalam kehidupan kita, baik sebagai umat muslim/umat beragama, maupun sebagai manusia. Sehingga, akhlak dipelajari dalam suatu ilmu sendiri, yaitu ilmu akhlak, yang beririsan dengan ilmu tasawuf, yang membentuk suatu konsep “Piramida Ilmu Islam”.
Ilmu Akhlak memiliki banyak keterkaitan dengan ilmu-ilmu lainnya, contohnya ilmu tasawuf, kalam, psikologi, bahkan filsafat. Dapat dibayangkan, seberapa pentingnya ilmu akhlak dalam kehidupan kita. Hal ini juga didukung dengan banyaknya kitab-kitab yang membahas ilmu ini secara tersendiri, contohnya Khuluq al-Muslim karya Imam al-Ghazali, Tahzib al-Akhlaq karya Ibn Miskawaih, Falsafah Akhlak karya Sayyid Murtadha Mutahhari, dan lain sebagainya. Dapat kita katakan, ilmu Akhlak sejajar dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti tafsir, fikih, dsb.
Akhlak didefinisikan sebagai tabiat, perilaku, perbuatan, perangai, dan semacamnya. Akhlak sering disamakan dengan etika. Padahal, terdapat perbedaan mendasar pada kedua konsep tersebut. Menurut M. Hasyim Syamhudi dalam bukunya, “Akhlak Tasawuf Dalam Konstruksi Piramida Ilmu Islam”, Keduanya memang sama-sama membahas tentang aktvitas horizontal manusia. Namun, perbedaannya yaitu Akhlak “bermula” dari niat seseorang yang didasarkan kepada Allah SWT, dan “berakhir” pada keridhaan Allah, sedangkan etika merupakan pelaksanaan dari moralitas yang dihasilkan realitas kehidupan sehari-hari.
Selama ini, kita gemar sekali memberi cap dan stempel seseorang berakhlak baik atau buruk, tanpa pernah bercermin, bertanya, dan merefleksikan diri, apakah kita sudah “berakhlak” atau belum. Kita gemar sekali menunjuk, bahkan mengkafir-kafirkan seseorang karena Akhlaknya yang buruk.
Berdasarkan narasi di atas, ada suatu hal yang menjadi ukuran baik buruk-buruknya Akhlak. Hal itu adalah al-Quran dan Sunnah. Mengapa sabar, pemaaf, ramah, gemar menolong sesama termasuk akhlak yang baik? Sedangkan mencela, berkata kasar, berbohong, bahkan gemar menyakiti orang lain termasuk akhlak yang buruk? Jawabannya karena al-Quran dan Sunnah menilai demikian. Jadi, dapat dikatakan bahwa nilai-nilai Akhlak bersumber dari Firman-Nya dan Sabda Nabi-Nya.
Mengingat pentingnya Ilmu Akhlak dalam kehidupan sehari-hari, penulis merasa bahwa Akhlak seharusnya tak hanya dijadikan sebagai tolok ukur seseorang ‘beradab’ atau tidak, akan tetapi, sudah seharusnya Akhlak menjadi bahan kajian –yang mendalam, bukan sekadar dasar– bagi kalangan terpelajar, yang mengaku sebagai pelajar/mahasiswa muslim –terlebih lagi mahasiswa kampus dengan nama “Islam”– di Indonesia, yang menyandang gelar Negara Muslim terbesar di dunia.
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang hanya pernah bersekolah di lembaga pendidikan Islam saat SD, materi “Akhlak” merupakan materi yang cukup penting, di samping mata pelajaran lainnya. Memang, materi ini tidak diujikan saat ujian mid atau akhir semester, tapi materi inilah yang keseluruhan isinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis mengingat bagaimana dahulu para guru mengajarkan adab sebelum, saat, dan sesudah belajar. Bahkan sampai hal-hal sepele, seperti berterima kasih kepada guru karena telah mengajarkan ilmu, berterima kasih kepada-Nya karena telah memberikan ilmu, bahkan berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu kita dalam menuntut ilmu.
Akhlak sudah seharusnya dikembangkan secara menyeluruh kepada semua kalangan di zaman sekarang. Mengingat di zaman modern ini, zamannya generasi milenial yang sangat melek teknologi, tantangannya semakin besar dan berat. Mengapa banyak hal yang berkaitan dengan ‘zaman sekarang’ terkesan buruk? salah satu jawabannya ialah karena degradasi akhlak. Terbukti dengan kalimat-kalimat seperti: “Anak zaman sekarang mah nggak tahu sopan santun, nggak ada akhlak..”, atau “Dulu, di zaman Bapak, nggak ada tuh anak-anak yang bla bla bla….” Dan lain sebagainya. Seakan-akan Akhlak sudah hilang ribuan tahun lamanya. Lantas, tugas siapakah yang meluruskan dan membentuk akhlak di zaman sekarang ini? Tentunya tugas kita bersama. Tugas para guru, dosen, ustaz, orang tua, bahkan kita, terhadap teman sebaya.
Bagaimana dengan masa depan? Masa yang digadang-gadang akan menjadi masanya para robot, masanya AI (Artificial intelligence), dan teknologi maju nan canggih lainnya? Akankah “Akhlak benar-benar lenyap? Akankah kita berhak menggunakan kalimat “Dulu, di zaman Bapak, bla bla bla…” dan sebagainya? Jawabannya, ada pada diri kita sendiri. Maukah kita mengambil bagian dalam pembentukan Akhlak? Jawabannya hanya satu, yaitu “Harus”, bukan hanya “Iya”.
Di masa depan, akhlak harus semakin gencar diajarkan dan ditanamkan kepada umat muslim. Bukan hanya dengan cara-cara lama –dengan ceramah panjang dan ancaman–, tapi juga dengan cara-cara persuasif dan asik. Targetnya bukan hanya anak-anak muslim, tapi seluruh umat muslim. Karena sejatinya, orang-orang di luar sana, melihat Islam bukan hanya dari kesucian dan kebaikan ajarannya, tetapi juga dari sifat dan perangai para penganutnya. Sungguh miris, akhlak justru dimiliki oleh mereka yang bukan pemeluk ajaran Islam, oleh mereka yang mengkaji, dan mendalami Islam itu sendiri. Akhlak dimiliki oleh mereka yang kagum akan sosok pribadi agung Rasulullah SAW. Sedangkan kita? Masih sibuk dan asyik sendiri, saling bersikutan dan mancaruik (berkata-kata kasar) satu sama lain ketika tak seiya-sekata dalam perdebatan.
Sebagai penutup,
Ambillah cermin, tanyakan pada dirimu sendiri: “sudahkah aku berakhlak?”
Artikel oleh:
Muhamad Hafidz Ar Rizki (2311010019)
1 BSA A - Prodi Bahasa dan Sastra Arab,
Fakultas Adab dan Humaniora,
UIN Imam Bonjol Padang
Bagus kali,,,bang minda keren bangetπ
BalasHapusTerima kasih, hehehe
HapusWii kerennya wii, btw pinjam dulu seratus ππ»
BalasHapus" Seorang Pemuda Yang Berkelana diatas Dunia Yang Fana' "
BalasHapusKeren,,,kakπππ
BalasHapus