Mengapa
terdapat sebagian manusia yang bertauhid secara teori, namun tidak secara
praktik? Bagaimana pandangan tentang orang yang mengaku bertauhid, tetapi abai
terhadap orang lain?
Penyebab
sebagian manusia bertauhid secara teori namun tidak bertauhid secara praktek,
salah satunya karena agama/kepercayaan yang mereka anut merupakan “turunan”
dari orang tua dan nenek moyang mereka. Mereka tidak memeluk suatu agama
seutuhnya berdasarkan keyakinan dan pemikiran mereka. Berbicara dalam konteks
agama Islam, berapa banyak orang yang dilabeli sebagai penganut “Islam KTP”?
mereka mengaku Islam, mereka bersyahadat, mereka mengimani al-Quran, tapi tidak
mengamalkannya. Ironisnya, mereka tidak mengetahui esensi dari “iman” itu
sendiri. Berbicara dalam konteks yang lebih luas, sebagian manusia menganggap
bahwa percaya kepada Tuhan tidaklah merupakan suatu hal yang penting. dalam
kata lain, ada/tiada Tuhan-pun, hidup mereka begitu-gitu saja. Tidak ada yang
namanya mujizat/keajaiban. Percaya kepada Tuhan hanya sekadar “formalitas
beragama” saja. Mereka mengakui adanya Tuhan, tahu sifat-sifat Tuhan, tetapi
tidak mengamalkan dan menghayati manifestasi sifat-sifat Tuhan itu sendiri.
Pendapat saya yang kedua, mengapa terjadi kasus di atas –bertauhid secara teori namun tidak secara praktik– disebabkan karena sebagian orang beranggapan bahwa segala sesuatu yang mereka dapatkan, berasal dari apa yang telah mereka lakukan dan usahakan. Manusialah yang memiliki kendali penuh atas kegagalan dan keberhasilan mereka. Seakan terlintas narasi, “untuk apa beribadah jika hidup begini-gini saja?” atau “apa hasil dari munajat dan doa-doa kepada Tuhan selama ini?” dsb. Kalangan seperti ini, seakan mereka dijanjikan kenikmatan surgawi, padahal yang mereka jalani ini ialah kehidupan duniawi. Walaupun dunia ini fana, tapi hidup hanya sekali.
Contoh
dari kasus di atas ialah, mereka meyakini keberadaan Tuhan, tapi tidak
mengimplementasikan keyakinan mereka pada kehidupan sehari-hari. Mereka tahu
Tuhan maha melihat, tapi mereka masih menjalani maksiat. Mereka tahu Tuhan maha
mendengar, tapi mereka tak mau berdoa dan mengadu pada-Nya. Mereka tahu tuhan
maha segalanya, tapi mereka malah menuhankan segalanya (harta, tahta, wanita,
dll). Dapat disimpulkan, bahwa orientasi hidup mereka adalah untuk mencari
kesenangan duniawi, hingga menganggap bahwa Tuhan hanya sekadar pencipta
manusia, tanpa bisa berbuat banyak terhadap perubahan kehidupan
hamba-hamba-Nya.
Kemudian,
saya
berpandangan bahwa orang yang bertauhid tapi abai terhadap orang lain adalah
orang yang “belum sepenuhnya bertauhid”. Jika ia benar-benar bertauhid, maka
seharusnya ia juga meyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk
sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain. Seharusnya ia paham, bahwa
dalam hubungan seorang hamba terhadap selainnya, tidak hanya dimensi vertikal (hablumminallah)
saja, tapi juga dimensi horizontal (hablumminannas). Lebih jauh lagi, ia
akan mengetahui bahwa ciptaan Tuhan bukan manusia saja, tapi juga hewan dan
tumbuhan. Jika ia merasa sudah bertauhid, maka seharusnya ia tidak akan abai
terhadap sesamanya, bahkan hewan dan tumbuhan yang ia temui di jalan. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar