14 Desember 2023

Bertauhid tapi Ateis

 

Mengapa terdapat sebagian manusia yang bertauhid secara teori, namun tidak secara praktik? Bagaimana pandangan tentang orang yang mengaku bertauhid, tetapi abai terhadap orang lain?

Penyebab sebagian manusia bertauhid secara teori namun tidak bertauhid secara praktek, salah satunya karena agama/kepercayaan yang mereka anut merupakan “turunan” dari orang tua dan nenek moyang mereka. Mereka tidak memeluk suatu agama seutuhnya berdasarkan keyakinan dan pemikiran mereka. Berbicara dalam konteks agama Islam, berapa banyak orang yang dilabeli sebagai penganut “Islam KTP”? mereka mengaku Islam, mereka bersyahadat, mereka mengimani al-Quran, tapi tidak mengamalkannya. Ironisnya, mereka tidak mengetahui esensi dari “iman” itu sendiri. Berbicara dalam konteks yang lebih luas, sebagian manusia menganggap bahwa percaya kepada Tuhan tidaklah merupakan suatu hal yang penting. dalam kata lain, ada/tiada Tuhan-pun, hidup mereka begitu-gitu saja. Tidak ada yang namanya mujizat/keajaiban. Percaya kepada Tuhan hanya sekadar “formalitas beragama” saja. Mereka mengakui adanya Tuhan, tahu sifat-sifat Tuhan, tetapi tidak mengamalkan dan menghayati manifestasi sifat-sifat Tuhan itu sendiri.

Pendapat saya yang kedua, mengapa terjadi kasus di atas –bertauhid secara teori namun tidak secara praktik disebabkan karena sebagian orang beranggapan bahwa segala sesuatu yang mereka dapatkan, berasal dari apa yang telah mereka lakukan dan usahakan. Manusialah yang memiliki kendali penuh atas kegagalan dan keberhasilan mereka. Seakan terlintas narasi, “untuk apa beribadah jika hidup begini-gini saja?” atau “apa hasil dari munajat dan doa-doa kepada Tuhan selama ini?” dsb. Kalangan seperti ini, seakan mereka dijanjikan kenikmatan surgawi, padahal yang mereka jalani ini ialah kehidupan duniawi. Walaupun dunia ini fana, tapi hidup hanya sekali.  

Contoh dari kasus di atas ialah, mereka meyakini keberadaan Tuhan, tapi tidak mengimplementasikan keyakinan mereka pada kehidupan sehari-hari. Mereka tahu Tuhan maha melihat, tapi mereka masih menjalani maksiat. Mereka tahu Tuhan maha mendengar, tapi mereka tak mau berdoa dan mengadu pada-Nya. Mereka tahu tuhan maha segalanya, tapi mereka malah menuhankan segalanya (harta, tahta, wanita, dll). Dapat disimpulkan, bahwa orientasi hidup mereka adalah untuk mencari kesenangan duniawi, hingga menganggap bahwa Tuhan hanya sekadar pencipta manusia, tanpa bisa berbuat banyak terhadap perubahan kehidupan hamba-hamba-Nya.

Kemudian, saya berpandangan bahwa orang yang bertauhid tapi abai terhadap orang lain adalah orang yang “belum sepenuhnya bertauhid”. Jika ia benar-benar bertauhid, maka seharusnya ia juga meyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain. Seharusnya ia paham, bahwa dalam hubungan seorang hamba terhadap selainnya, tidak hanya dimensi vertikal (hablumminallah) saja, tapi juga dimensi horizontal (hablumminannas). Lebih jauh lagi, ia akan mengetahui bahwa ciptaan Tuhan bukan manusia saja, tapi juga hewan dan tumbuhan. Jika ia merasa sudah bertauhid, maka seharusnya ia tidak akan abai terhadap sesamanya, bahkan hewan dan tumbuhan yang ia temui di jalan. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...