Esensi Kepemimpinan
Ada banyak sekali definisi kepemimpinan, mulai dari sumber-sumber tekstual, pendapat para ahli, hingga tafsiran hadis Nabi. Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kepemimpinan didefinisikan sebagai hal yang berikaitan dengan memimpin, atau cara memimpin. Sedangkan menurut Chester Irving Barnard, Kepemimpinan adalah kemampuan pribadi untuk menegaskan keputusan yang memberikan dimensi mutu dan dimensi kesusilaan terhadap koordinasi kegiatan organisasi dan perumusan tujuannya. Pada kesempatan yang lain, Ordway Tead mendefinisikan kepemimpinan sebagai “…activity of influencing people to cooperate toward some goals which come to find desirable”, yang artinya: Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan. (Syahril, 2019); dan masih banyak lagi pengertian mengenai kepemimpinan. Dari sisi agama, terdapat sebuah hadis Nabi Saw. yang berbunyi: “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya” (HR. Muslim dan HR. Bukhari).[1]
Setiap orang mungkin tahu definisi dari kepemimpinan, tetapi rasanya tidak semua orang tahu esensi/makna mendalam dari kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan bukan sekadar memimpin sekelompok tertentu saja, bukan juga sekadar berdiri di paling depan, berteriak paling lantang, dan tampil paling bersinar. Makna memimpin jauh lebih luas daripada itu. Memimpin adalah tentang mendengarkan paling serius, menyayangi paling tulus, berkorban paling besar, dan berkhidmat, mendahulukan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi. Maka tak salah jika H. Agus Salim mengatakan “Leiden is lijden”, yang artinya yaitu “memimpin adalah menderita”.(Redaksi, 2021)
Jika kita kaitkan dengan keadaan yang ada saat ini, kita dapat melihat bahwa kata kepemimpinan tak seagung dahulu. Jika kita bandingkan dengan kisah-kisah kepahlawanan para pejuang, para bapak bangsa, para sahabat, hingga sirah Nabi Saw., makna kepemimpinan sudah jauh luntur, tercemar, bahkan ternista. Bagaimana tidak, pemimpin yang seharusnya menjadi role model, kini malah menjadi pajangan, tampil rutin di televisi berrompi oranye bertuliskan “Tahanan KPK”. Alih-alih berlomba mengait kepercayaan masyarakat, mereka malah berlomba menimbun harta, bermain wanita, demi kesenangan nafsu semata. Kasus terbaru menimpa mantan Gubernur Maluku Utara, AGK yang dituntut 9 tahun penjara atas kasus suap dan gratifikasi di lingkungan pemprov Maluku Utara.(Fattah, 2024). Tak sampai di sana, tersangka juga didakwa sudah sering ‘jajan’ untuk memenuhi hasratnya semata. Nauzubillahimindzalik.
Melihat situasi seperti ini, kita sebagai mahasiswa
seharusnya tidak hanya diam saja, menonton dan bertepuk tangan melihat para
pemimpin kita melakukan hal-hal yang demikian. Mahasiswa, sebagai agent of
change berkewajiban untuk menuntut para pemimpin yang bertindak semena-mena
tanpa memperhatikan rambu-rambu yang ada.
Bukan Sekadar Mimpi
Jika berbicara mengenai kepemimpinan, kita tak dapat terlepas dari politik. Tetapi, masih banyak yang beranggapan bahwa politik itu kotor, keji, dan menjijikan. Hal seperti ini merupakan ungkapan yang terlalu hiperbola. Pasalnya, kita semua tak dapat terlepas dari politik, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Prof. Miriam Budiardjo, politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik.(Budiardjo, 2008). Jika dimaknai demikian, maka dapat dikatakan kita berpolitik setiap hari. Contoh kecilnya saja dengan menjadi pemimpin di lingkungan rumah.
Kembali kepada peran mahasiswa yang sempat disinggung di atas, jika mahasiswa hanya mematung, diam tak bergerak, maka dunia ini tidak akan berubah sedikit pun, takkan bergeser satu milimeter pun. Maka, sudah seharusnya mahasiswa bertindak, melakukan perubahan, merealisasikan slogan agent of change yang dibangga-banggakan itu.
Salah satu hal yang dapat dilakukan yaitu dengan cara aktif menyuarakan pendapat dan aspirasi masyarakat luas. Mahasiswa dipandang sebagai mediator antara masyarakat dan pemerintah. Hal lainnya yang dapat dilakukan yaitu dengan terlibat secara aktif dalam organisasi kemahasiswaan, organisasi kemasyarakatan, bahkan ke dalam pemerintahan itu sendiri. Dengan begitu, mahasiswa memimpin bukan hanya sekadar mimpi.
Sumber Inspirasi
Budiardjo, M. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik (Issue
112). PT. Gramedia Pustaka Utama.
Syahril, S. (2019). Teori-Teori Kepemimpinan. RI’AYAH,
04(112).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar