04 September 2024

Mahasiswa Memimpin, Bukan Hanya Sekadar Bermimpi

 Esensi Kepemimpinan

Ada banyak sekali definisi kepemimpinan, mulai dari sumber-sumber tekstual, pendapat para ahli, hingga tafsiran hadis Nabi. Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kepemimpinan didefinisikan sebagai hal yang berikaitan dengan memimpin, atau cara memimpin. Sedangkan menurut Chester Irving Barnard, Kepemimpinan  adalah  kemampuan  pribadi  untuk menegaskan  keputusan  yang  memberikan  dimensi  mutu  dan  dimensi kesusilaan   terhadap   koordinasi   kegiatan   organisasi   dan   perumusan tujuannya. Pada kesempatan yang lain, Ordway Tead mendefinisikan kepemimpinan sebagai “…activity of influencing people to cooperate toward some  goals  which  come  to  find  desirable”, yang artinya:  Kepemimpinan  adalah kegiatan   mempengaruhi    orang-orang    agar   mau    bekerja    sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan. (Syahril, 2019); dan masih banyak lagi pengertian mengenai kepemimpinan. Dari sisi agama, terdapat sebuah hadis Nabi Saw. yang berbunyi: “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya” (HR. Muslim dan HR. Bukhari).[1] 

Setiap orang mungkin tahu definisi dari kepemimpinan, tetapi rasanya tidak semua orang tahu esensi/makna mendalam dari kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan bukan sekadar memimpin sekelompok tertentu saja, bukan juga sekadar berdiri di paling depan, berteriak paling lantang, dan tampil paling bersinar. Makna memimpin jauh lebih luas daripada itu. Memimpin adalah tentang mendengarkan paling serius, menyayangi paling tulus, berkorban paling besar, dan berkhidmat, mendahulukan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi. Maka tak salah jika H. Agus Salim mengatakan “Leiden is lijden”, yang artinya yaitu “memimpin adalah menderita”.(Redaksi, 2021)

Jika kita kaitkan dengan keadaan yang ada saat ini, kita dapat melihat bahwa kata kepemimpinan tak seagung dahulu. Jika kita bandingkan dengan kisah-kisah kepahlawanan para pejuang, para bapak bangsa, para sahabat, hingga sirah Nabi Saw., makna kepemimpinan sudah jauh luntur, tercemar, bahkan ternista. Bagaimana tidak, pemimpin yang seharusnya menjadi role model, kini malah menjadi pajangan, tampil rutin di televisi berrompi oranye bertuliskan “Tahanan KPK”. Alih-alih berlomba mengait kepercayaan masyarakat, mereka malah berlomba menimbun harta, bermain wanita, demi kesenangan nafsu semata. Kasus terbaru menimpa mantan Gubernur Maluku Utara, AGK yang dituntut 9 tahun penjara atas kasus suap dan gratifikasi di lingkungan pemprov Maluku Utara.(Fattah, 2024). Tak sampai di sana, tersangka juga didakwa sudah sering ‘jajan’ untuk memenuhi hasratnya semata. Nauzubillahimindzalik.

Melihat situasi seperti ini, kita sebagai mahasiswa seharusnya tidak hanya diam saja, menonton dan bertepuk tangan melihat para pemimpin kita melakukan hal-hal yang demikian. Mahasiswa, sebagai agent of change berkewajiban untuk menuntut para pemimpin yang bertindak semena-mena tanpa memperhatikan rambu-rambu yang ada.

 

Bukan Sekadar Mimpi

Jika berbicara mengenai kepemimpinan, kita tak dapat terlepas dari politik. Tetapi, masih banyak yang beranggapan bahwa politik itu kotor, keji, dan menjijikan. Hal seperti ini merupakan ungkapan yang terlalu hiperbola. Pasalnya, kita semua tak dapat terlepas dari politik, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Prof. Miriam Budiardjo, politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik.(Budiardjo, 2008). Jika dimaknai demikian, maka dapat dikatakan kita berpolitik setiap hari. Contoh kecilnya saja dengan menjadi pemimpin di lingkungan rumah.

Kembali kepada peran mahasiswa yang sempat disinggung di atas, jika mahasiswa hanya mematung, diam tak bergerak, maka dunia ini tidak akan berubah sedikit pun, takkan bergeser satu milimeter pun. Maka, sudah seharusnya mahasiswa bertindak, melakukan perubahan, merealisasikan slogan agent of change yang dibangga-banggakan itu.

Salah satu hal yang dapat dilakukan yaitu dengan cara aktif menyuarakan pendapat dan aspirasi masyarakat luas. Mahasiswa dipandang sebagai mediator antara masyarakat dan pemerintah. Hal lainnya yang dapat dilakukan yaitu dengan terlibat secara aktif dalam organisasi kemahasiswaan, organisasi kemasyarakatan, bahkan ke dalam pemerintahan itu sendiri. Dengan begitu, mahasiswa memimpin bukan hanya sekadar mimpi.  


Sumber Inspirasi

Budiardjo, M. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik (Issue 112). PT. Gramedia Pustaka Utama.

Fattah, A. (2024). Mantan Gubernur Maluku Utara AGK dituntut 9 tahun penjara. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/4278723/mantan-gubernur-maluku-utara-agk-dituntut-9-tahun-penjara

Redaksi. (2021). Leiden is Lijden Haji Agus Salim. https://rmol.id/read/2021/12/28/517102/leiden-is-lijden-haji-agus-salim

Syahril, S. (2019). Teori-Teori Kepemimpinan. RI’AYAH, 04(112).



[1] (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...