![]() |
| (Kampus III UIN Imam Bonjol Padang yang menghadap Samudera Hindia. Dok. Pribadi) |
Tak
pernah terlintas di benak saya untuk menjadi mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang,
lebih-lebih di prodi Bahasa dan Sastra Arab (BSA). Lulusan SMA negeri macam
saya ini, malah berani-beraninya banting setir ke ranahnya anak pondok, anak-anak
MAN yang sehari-hari berbicara dengan bahasa Arab. Muhaddatsah sudah jadi
sarapan mereka, begitupun bahtsul matsail. Sedangkan saya? Hanya tahu sekelumit
tentang dhomir, itupun berbekal halaqah rutin malam selasa mengkaji buku Durus
al-Lughah al-‘Arabiyyah karya Dr. V. Abdurrahim 9 tahun lalu. Tapi saya
bukan satu-satunya, saya hanya salah satunya. Ternyata, ada banyak lulusan
SMA/SMK yang juga nyasar di BSA.
Bisa
dibilang, saya mendaftar ke sini karena ketidaksengajaan. Saya termasuk siswa
eligible, yang dengan kata lain, memiliki ‘tiket VIP’ untuk bertarung bersama
ribuan siswa lainnya di SNBP tanpa mengikuti tes tulis. Sembari menunggu pengumuman,
guru BK menyarankan saya untuk mencoba jalur SPAN-PTKIN. Di antara ratusan
siswa di angkatan saya, kira-kira hanya 5 orang saja yang berminat mendaftar
jalur undangannya anak MAN dan pondok ini, dan saya salah satunya. Setelah berdiskusi
panjang, akhirnya saya memilih 4 prodi di 2 PTKIN, pilihan pertama dan kedua di
BSA & HTN (Hukum Tata Negara) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sementara
pilihan ketiga dan keempat di BSA &
PAI UIN Imam Bonjol Padang (UIN IB).
Katanya
lulusan SMA, kok malah milih BSA dua-duanya?
Jadi
sebenarnya, karena saya bercita-cita menjadi diplomat/duta besar, pilihan prodi
SNBP saya yaitu Hubungan Internasional (HI) di salah satu PTN di Padang. Saya
memilih salah satu jurusan sastra asing sebagai ‘langkah cadangan’ kalau-kalau
tertolak di prodi impian banyak siswa itu. Meski demikian, saya menyadari bahwa
saya tidak sepenuhnya berhak mengklaim salah jurusan, toh saya sendiri
yang memilih BSA sebagai pilihan pertama di masing-masing UIN; tapi tak juga
bisa dikatakan aman, karena pada dasarnya, yang dipelajari di BSA ya memang
makanan anak-anak pondok dan MAN. Long short story, saya ditolak kampus
impian saja, dan diterima di prodi BSA UIN IB pada April 2023.
Bicara
mengenai kampus impian, dulu saya pernah ‘bersumpah’, kalau saya tidak akan
pernah mau berkuliah di Padang kalau bukan di kampus impian saya. Bagaimana tidak?
Saya tak bisa membayangkan berada di kota yang sama dengan anak-anak beralmamater
pohon beringin itu. Proses move on ini saya jalani cukup lama, dan saya
mengalami fase denial juga saat pertama kali memasuki gerbangnya dan menginjakkan
kaki di sana. Qadarullah, Allah membawa saya ke sini, di jurusan dan
kampus yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Di kampus atas langit, UIN
Imam Bonjol Padang.
Sejujurnya,
saya pernah menangis begitu tahu diterima di sini. Selain jauh dari keluarga, hal
terparah yang terpikirkan saat itu yaitu saya tidak berkuliah di Jawa. Di saat
seluruh siswa dari penjuru negeri berkuliah ke tanah Jawadwipa ini, saya
malah merantau ke Swarnadwipa, merantau ke kampung sendiri. Tapi hal
yang selalu saya tanamkan dalam benak saya (hingga saat ini) yaitu:
Kalau saya ditakdirkan kuliah di UIN, berarti Allah ingin saya
memperdalam ilmu agama, dan saya yakin, pasti ada hikmah yang besar, walaupun
saya tak tahu mau ditempa seperti apa saya di sini.
Saya ingat satu ayat yang ditulis di buku catatan kecil saya, dari Qs. Al-Mu’minun/23:29:
Menariknya,
ayat ini saya dapatkan dari Quora, pada masa-masa galau akan merantau
meninggalkan rumah.
Merantau
ke Kampung Sendiri
Di sini,
di kampus ayah yang dulu bernama IAIN IB ini, saya mendapat banyak sekali (malah
berkali-kali) hal baru. Bukan saja bertemu dengan teman-teman dari berbagai
daerah, tapi juga berbagai latar belakang. Malah ada yang berasal dari Kamboja,
yang kini salah satunya menjadi teman sekelas saya. Jika di SMA dulu saya hanya
dapat mendengar sepatah dua patah kata berbahasa batak alakadarnya, kini, saya
mendengar bahasa itu hampir setiap hari, hampir di setiap sudut UIN.
Setelah
setahun lebih berkuliah di Padang, rasanya nggak buruk-buruk amat. Saya bisa
setiap saat berkunjung ke Masjid Raya Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (dulu
Masjid Raya Sumbar), melewati Lanud Tabing yang dulu hanya bisa saya lihat di
peta, hingga bebas makan nasi Padang yang disebut ampera di sini.
Tapi satu hal yang saya sesalkan: saya tak menemukan Jam Gadang di sudut
manapun di Kota Padang, just kidding, hahaha. Alhamdulillah saya sudah
sempat berfoto di Jam Gadang, menginjakkan kaki di Padang Mangateh di
Payakumbuh, dan bertandang ke tanah Istana Pagaruyung di Batusangkar.
Selain itu, saya juga bisa kapan saja pulang ke kampung Ayah di Tarusan, Pesisir Selatan, melewati 54 KM jalur meliuk membelah perbukitan di selatan Padang, dengan view Teluk Bayur yang selalu menggoda mata untuk memandang dan memotretnya. Tak cukup berfoto, saya bersama teman-teman telah berkemah di kebun teh, dan berendam di dinginnya air Danau Kembar di Alahan Panjang. Semuanya merupakan hikmah berkuliah jauh dari rumah.
Yang terpenting dari berkuliah jauh dari rumah adalah, saya jadi tau rasanya bersyukur, jadi tau rasanya berjuang, berjibaku melawan ombak kehidupan dan rintangan yang tinggi menjulang. Karena saya tahu, jalan masih panjang membentang, dan perjalanan itu dimulai dari sini, dari tempat yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, yang kini menjelma menjadi rumah kedua.
Jalan yang jauh jangan lupa pulang
Pesan-pesan yang selalu saja terngiang
Ku terbang jauh, kepak tak berbilang
Lewati awan dan angkasa tak berbayang
Yura Yunita - Jalan Pulang


Tidak ada komentar:
Posting Komentar