Yogyakarta, 23 November 2025
Siang itu, aku bersama dengan rombongan
SIBac-Sip UIN Imam Bonjol Padang mendapat sebuah kabar duka. Dari ujung telepon
sana, dari layar telepon pintar itu, tergambar dengan jelas: sebuah tanah
longsor menutupi badan jalan. Kuamati dengan teliti, kulihat dengan betul,
longsor itu terjadi di samping Gedung Kuliah Bersama (Gedung J) Kampus III UIN
Imam Bonjol Padang. Sontak kami terkejut. Aku, bersama 29 kawan-kawan dan 3
dosen lainnya sedang menuntut ilmu, belajar di IA Scholar Yogyakarta selama
seminggu, untuk pelatihan penulisan artikel jurnal ilmiah. Sesekali, berkelana
ke luar nagari, mencari ilmu, pengalaman, dan sekardus bakpia. Akan
tetapi, kabar bahagia itu berubah menjadi kabar duka, seiring kepulangan kami
ke kampus tercinta.
Padang, 25 November 2025
Hari itu, hujan turun membasahi bumi.
Mentari yang selama setia memeluk Padang, rasanya sedang bersembunyi, pun
dengan awan-awan yang selama ini memayungi. Mereka seakan hilang, tergantikan
dengan ribuan rintik hujan yang turun membasahi kota Padang tercinta ini. Bukan
hanya jalanan, ribuan rintik itu turun ke gunung dan hutan-hutan, turut serta
meluapkan sungai dan membanjiri daratan. Tetapi, hujan tak boleh dicerca, ia
tak boleh dihina. Ia adalah rahmat, ia adalah rezeki dari Allah.
Kali ini, sepertinya hujan itu turun
banyak, banyak sekali. Ia menjelma menjadi banjir bandang yang menyapu
rumah-rumah, kandang dan peternakan, sekolah, hingga bangunan-bangunan. Ia
bukan hanya merendam persawahan, tetapi juga memutus badan jalan dan menghambat
perekonomian. Kali ini, sepertinya hujan turun sebagai ujian, atau barangkali
teguran. Ia turun sebagai ujian bagi orang yang beriman, dan teguran bagi
mereka yang tenggelam dalam kezaliman.
Riuh tak hanya terjadi di darat. Di langit,
kami serombongan juga merasakan hal yang serupa. Tak terhitung berapa kali si
burung besi itu diguncang turbulensi akibat cuaca yang sangat buruk di
langit Sumatra. Ah, barangkali itulah penyebab keberangkatan kami delay selama
tiga jam lamanya di terminal 2 Bandara Soetta, Jakarta. Allah sengaja menahan
kami, agar kami terhindar dari buruknya cuaca dan hal-hal yang tidak diinginkan
lainnya. Setelah mengudara hampir dua jam lamanya, kami mendarat di Padang,
disambut rintikan hujan yang tak berhenti sejak berhari-hari lalu.
Riuh pun tak hanya terjadi di dunia nyata,
ia berlaku juga di dunia maya. Grup-grup komunitas bersautan, mereka
memanggil-manggil, membutuhkan relawan. Aku, sebagai relawan Korps Sukarela
Palang Merah Indonesia pun tergerak. Hatiku terpanggil untuk mengabdi untuk
kemanusiaan. Kali ini, aku turun sebagai relawan di Padang Sarai. Tiga hari
lamanya, turut membantu mereka yang terendam banjir.
Di
Padang Sarai, aku menyaksikan wajah-wajah yang lelah namun tabah. Air masih
menggenang di beberapa sudut, menyisakan lumpur pekat yang melekat di lantai
rumah dan perabotan. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, sesekali tertawa,
seolah banjir adalah permainan yang tak perlu ditakuti. Namun, di balik senyum
itu, ada cerita kehilangan: buku pelajaran yang hanyut, kasur yang basah tak
bisa lagi dipakai, serta dapur yang tak sempat diselamatkan. Bersama
kawan-kawan relawan, kami membersihkan rumah, membagikan makanan, dan sekadar
duduk mendengarkan keluh kesah warga. Di sanalah aku belajar, bahwa hadir
sepenuh hati kadang lebih bermakna daripada sekadar membawa bantuan.
Malam hari di posko menjadi waktu paling
sunyi. Setelah lelah seharian, kami berkumpul dalam diam, menyeruput teh
hangat, dan menatap hujan yang belum juga reda. Doa-doa dilantunkan lirih,
berharap air segera surut dan kehidupan kembali pulih. Aku merenung, betapa
rapuhnya manusia di hadapan alam, betapa kecilnya kita di hadapan kehendak-Nya.
Namun, di tengah keterbatasan itu pula, Allah menghadirkan persaudaraan.
Tangan-tangan yang saling menggenggam, bahu-bahu yang saling menguatkan, seolah
menjadi jawaban bahwa rahmat-Nya selalu datang bersamaan dengan ujian.
Tiga hari berlalu, aku kembali ke rutinitas
sebagai mahasiswa, namun dengan jiwa yang tak lagi sama. Perjalanan ke
Yogyakarta, kabar duka longsor, hujan yang tak henti, hingga pengabdian di
Padang Sarai telah mengajarkanku satu hal: ilmu bukan hanya tentang apa yang
dipelajari di ruang kelas, tetapi juga tentang apa yang dialami dan dirasakan
di tengah masyarakat. Dari sana, aku belajar untuk lebih peka, lebih bersyukur,
dan lebih siap mengabdikan diri kapan pun kemanusiaan memanggil. Kisah ini
mungkin sederhana, tetapi bagiku, ia adalah pengingat bahwa menjadi manusia
berarti siap hadir untuk sesama, dalam keadaan apa pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar