17 Desember 2025

Antara Hujan dan Kemanusiaan


Yogyakarta, 23 November 2025

Siang itu, aku bersama dengan rombongan SIBac-Sip UIN Imam Bonjol Padang mendapat sebuah kabar duka. Dari ujung telepon sana, dari layar telepon pintar itu, tergambar dengan jelas: sebuah tanah longsor menutupi badan jalan. Kuamati dengan teliti, kulihat dengan betul, longsor itu terjadi di samping Gedung Kuliah Bersama (Gedung J) Kampus III UIN Imam Bonjol Padang. Sontak kami terkejut. Aku, bersama 29 kawan-kawan dan 3 dosen lainnya sedang menuntut ilmu, belajar di IA Scholar Yogyakarta selama seminggu, untuk pelatihan penulisan artikel jurnal ilmiah. Sesekali, berkelana ke luar nagari, mencari ilmu, pengalaman, dan sekardus bakpia. Akan tetapi, kabar bahagia itu berubah menjadi kabar duka, seiring kepulangan kami ke kampus tercinta.

 

Padang, 25 November 2025

Hari itu, hujan turun membasahi bumi. Mentari yang selama setia memeluk Padang, rasanya sedang bersembunyi, pun dengan awan-awan yang selama ini memayungi. Mereka seakan hilang, tergantikan dengan ribuan rintik hujan yang turun membasahi kota Padang tercinta ini. Bukan hanya jalanan, ribuan rintik itu turun ke gunung dan hutan-hutan, turut serta meluapkan sungai dan membanjiri daratan. Tetapi, hujan tak boleh dicerca, ia tak boleh dihina. Ia adalah rahmat, ia adalah rezeki dari Allah.

Kali ini, sepertinya hujan itu turun banyak, banyak sekali. Ia menjelma menjadi banjir bandang yang menyapu rumah-rumah, kandang dan peternakan, sekolah, hingga bangunan-bangunan. Ia bukan hanya merendam persawahan, tetapi juga memutus badan jalan dan menghambat perekonomian. Kali ini, sepertinya hujan turun sebagai ujian, atau barangkali teguran. Ia turun sebagai ujian bagi orang yang beriman, dan teguran bagi mereka yang tenggelam dalam kezaliman.

Riuh tak hanya terjadi di darat. Di langit, kami serombongan juga merasakan hal yang serupa. Tak terhitung berapa kali si burung besi itu diguncang turbulensi akibat cuaca yang sangat buruk di langit Sumatra. Ah, barangkali itulah penyebab keberangkatan kami delay selama tiga jam lamanya di terminal 2 Bandara Soetta, Jakarta. Allah sengaja menahan kami, agar kami terhindar dari buruknya cuaca dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Setelah mengudara hampir dua jam lamanya, kami mendarat di Padang, disambut rintikan hujan yang tak berhenti sejak berhari-hari lalu.

Riuh pun tak hanya terjadi di dunia nyata, ia berlaku juga di dunia maya. Grup-grup komunitas bersautan, mereka memanggil-manggil, membutuhkan relawan. Aku, sebagai relawan Korps Sukarela Palang Merah Indonesia pun tergerak. Hatiku terpanggil untuk mengabdi untuk kemanusiaan. Kali ini, aku turun sebagai relawan di Padang Sarai. Tiga hari lamanya, turut membantu mereka yang terendam banjir.

 Di Padang Sarai, aku menyaksikan wajah-wajah yang lelah namun tabah. Air masih menggenang di beberapa sudut, menyisakan lumpur pekat yang melekat di lantai rumah dan perabotan. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, sesekali tertawa, seolah banjir adalah permainan yang tak perlu ditakuti. Namun, di balik senyum itu, ada cerita kehilangan: buku pelajaran yang hanyut, kasur yang basah tak bisa lagi dipakai, serta dapur yang tak sempat diselamatkan. Bersama kawan-kawan relawan, kami membersihkan rumah, membagikan makanan, dan sekadar duduk mendengarkan keluh kesah warga. Di sanalah aku belajar, bahwa hadir sepenuh hati kadang lebih bermakna daripada sekadar membawa bantuan.

Malam hari di posko menjadi waktu paling sunyi. Setelah lelah seharian, kami berkumpul dalam diam, menyeruput teh hangat, dan menatap hujan yang belum juga reda. Doa-doa dilantunkan lirih, berharap air segera surut dan kehidupan kembali pulih. Aku merenung, betapa rapuhnya manusia di hadapan alam, betapa kecilnya kita di hadapan kehendak-Nya. Namun, di tengah keterbatasan itu pula, Allah menghadirkan persaudaraan. Tangan-tangan yang saling menggenggam, bahu-bahu yang saling menguatkan, seolah menjadi jawaban bahwa rahmat-Nya selalu datang bersamaan dengan ujian.

Tiga hari berlalu, aku kembali ke rutinitas sebagai mahasiswa, namun dengan jiwa yang tak lagi sama. Perjalanan ke Yogyakarta, kabar duka longsor, hujan yang tak henti, hingga pengabdian di Padang Sarai telah mengajarkanku satu hal: ilmu bukan hanya tentang apa yang dipelajari di ruang kelas, tetapi juga tentang apa yang dialami dan dirasakan di tengah masyarakat. Dari sana, aku belajar untuk lebih peka, lebih bersyukur, dan lebih siap mengabdikan diri kapan pun kemanusiaan memanggil. Kisah ini mungkin sederhana, tetapi bagiku, ia adalah pengingat bahwa menjadi manusia berarti siap hadir untuk sesama, dalam keadaan apa pun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...