Di
bulan Oktober tahun lalu, saya selesai dengan crush saya semasa
SMA dahulu. Perpisahan yang cukup dramatis, karena terpisah jarak dan waktu, ribuan
mil jauhnya. Saya di Sumatra, sedang Ia jauh di ujung Jawa sana. Saya ingat
betul, kisah kami berakhir saat saya sedang memimpin rapat kepanitiaan jurusan.
Pertama kalinya, saya menangis karena perempuan. Tak ada yang pernah bilang
kalau putus cinta ternyata cukup menyakitkan. Kenangan itu saya tulis pada buku
harian saya, diiringi dengan sebuah tulisan yang saya temukan di internet,
berjudul “Suatu Saat, Kau akan Mencariku Layaknya Orang Gila”.
Saya
bukanlah tipe orang yang mampu dan suka berlarut-larut dalam kesedihan. Mungkin
memang bukan bakat saya. Saya terbiasa melakukan sesuatu untuk menghilangkan kesedihan,
termasuk membaca dan menulis. Saya beli berbagai buku untuk menghilangkan gundah
gulana; baik secara daring melalui berbagai platform media, hingga secara luring
ke Gramedia. Di antara buku yang saya pinang yaitu Jika Kita Tak Pernah Jatuh
Cinta karya Alvi Syahrin, dan Akhirnya Sembuh Juga karya Tesar Dwi
Saputra.
Selain
membaca, saya juga senang menulis. Menulis apa saja, lah, intinya menuangkan
ide, menuangkan pikiran. Saya rajin membanjiri blogspot dan kanal-kanal tulisan
lainnya dengan isi pikiran saya. Mulai dari puisi, opini, hingga curahan hati. Salah
satu tulisan saya yang paling viral dan best seller yaitu JanganKetuk Pintuku, yang mengudara di Kompasiana pada 27 November 2024 lalu. FYI,
tulisan saya ini pernah menjadi perdebatan dan kesalahpahaman, karena
bertepatan dengan masa-masa peralihan ketua himpunan mahasiswa jurusan.
Lantas,
perlahan saya mencoba bangkit, menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif.
Beruntunglah, saat itu ada program seleksi shortcourse internasional ke
tiga negara, sehingga saya sangat sibuk dan tak terpikirkan lagi masalah
percintaan. Dari 30 mahasiswa terpilih, saya termasuk satu di antara sepuluh mahasiswa
yang akan diberangkatkan ke Uzbekistan. Qadarullah, karena berbagai
alasan, kami tak jadi diberangkatkan ke luar negeri. Kalau kata orang tua-tua dulu, “mungkin belum rezekinya”.
Hari
demi hari berlalu, setahun, dua tahun kemudian. Saat perasaan saya sudah tenang,
pintu hati saya kembali diketuk oleh salah seorang perempuan, kami pernah
bertemu di satu kepanitiaan pada semester awal perkuliahan dulu. Namanya manusia,
hati kita ini sangat mudah sekali terenyuh, lantas pada akhirnya saya pun
luluh. Kali ini, saya menata hati, menyiapkan ruang untuk cinta itu bersemi
lagi.
Urusan
cinta, tak ada satu pun makhluk yang bisa menyalahkannya. Perihal rasa, tak ada
satu pun insan yang mampu mengelak darinya. Perihal suka, tak ada satu pun hati
yang mampu menahannya. Sampai detik ini pun, jika ditanya mengapa bisa jatuh
suka, saya lebih memilih untuk diam dan tersenyum tipis, karena memang perasaan
itu sangat rumit untuk dijelaskan. Kalau kata Raim Laode, jatuh cinta itu
dikatakan jatuh, karena kita tak punya kuasa ‘tuk jatuh pada hati yang mana.
Long
story short, seakan sudah menjadi suratan takdir, di bulan Agustus inilah
kisah kami berakhir. Tak bisa saya kisahkan semuanya, tetapi pada intinya, kami
selesai secara baik-baik, dan mudah-mudahan kami berdua juga diberikan kekuatan.
Barangkali, kami sengaja dipisahkan karena Ia tahu ada kebaikan di baliknya. Bisa
jadi, kami tak disatukan karena Ia tahu ada yang lebih baik di ujung sana. Ah, patah
hati lagi, lagi-lagi patah hati. Patah hati kali ini saya tuliskan di Medium, dengan
judul Akhir Sang Bunga di Taman Pusparona.
Saya
selalu percaya, di balik patah hati luar biasa ini, Ia sudah menyiapkan sesuatu
yang jauh lebih baik untuk saya. Ibu saya mengajarkan bahwa kita harus
menyisakan sepertiga hati untuk diri kita sendiri, agar ketika orang yang kita
sayangi pergi dari hidup kita, kita masih bisa tegak berdiri dengan akal sehat.
Dulu, saya sangat skeptis dengan kata-kata cinta maupun patah hati. Kini, malah
saya yang melakoni, saya yang menciptakan kata-kata cinta itu, hahaha.
Saya
percaya dengan kalimat “seseorang harus patah dulu, agar bisa tumbuh”. Ya,
saya merasakannya sendiri. Memang betul, patahnya bukan hanya karena cinta
saja, patahnya bisa apa saja. Akan tetapi, jalan yang saya terima kebetulan
patah hati. Kalau saya boleh memberi saran; patahlah sepatah-patahnya, sedihlah
sesedih-sedihnya, terima semuanya. Suatu saat nanti, kita akan berterima kasih
kepada mereka yang telah menyakiti kita, karena telah menjadikan kita lebih
dewasa dan memberi pelajaran berharga.
Setelah
patah hati di Oktober lalu, saya berkesimpulan bahwa setelah patah hati,
seseorang bisa menjadi dua hal: berotot, atau berotak. Saya kira, orang-orang
yang mencoba sembuh dari patah hati akan berolahraga, mendaki gunung, berlari,
hingga membentuk badan (berotot); tetapi banyak di antara mereka yang justru
biasa-biasa saja, tetapi glow up secara akademik, berprestasi, berkarya,
menulis, dan bersinar dengan gagasan mereka (berotak). Maka, suatu saat merasakan
patah hati lagi, silakan dipilih; mau berotot atau berotak.
Sebagai penutup, semoga kita semua selalu berada dalam kebaikan, dipertemukan dengan orang-orang baik, dan dijauhkan dari segala macam bentuk cinta yang tidak tulus. Semoga, patah-patah hati yang telah kita lalui menjadikan kita lebih dewasa dan memberi pelajaran berharga. Aamiin. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar