08 Desember 2025

RELEVANSI BIDANG KEILMUAN TERHADAP PENELITIAN ILMIAH

 

RELEVANSI BIDANG KEILMUAN TERHADAP PENELITIAN ILMIAH

Muhamad Hafidz Ar Rizki
Bahasa dan Sastra Arab
Adab dan Humaniora
UIN Imam Bonjol Padang 


Penelitian ilmiah dapat dilihat dari berbagai aspek dan perspektif, mulai dari bidang keilmuan, tempat pelaksanaan penelitian, hingga paradigma penelitian. Penelitian menjadi satu hal krusial bagi semua bidang ilmu (termasuk bahasa), karena merupakan sarana pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini terbukti dengan banyaknya kajian mengenai penelitian itu sendiri. Mulai dari dasar bidang keilmuan yang dikaji, penerapan hasil penelitian bidang ilmu yang dikaji,  hingga pembahasan mengenai paradigma penelitian; kualitatif dan kuantitatif.

Seyogianya, seorang peneliti melakukan penelitian sesuai bidang keilmuannya. Mengapa demikian? hal ini bertujuan agar hasil dan temuan penelitian sesuai dan tepat sasaran. Meskipun tidak dapat kita pungkiri bahwa dewasa ini semakin banyak penelitian multidisiplin[1] dan interdisipliner[2], termasuk di bidang linguistik dan tatarannya; contohnya seperti cyberpragmatics[3] dan ekolinguistik. Akan tetapi, terdapat banyak fenomena yang semakin hari kian marak terjadi, seakan-akan sudah menjadi rahasia umum dan tabiat yang dilakukan oleh banyak peneliti, baik peneliti muda maupun tua, pemula maupun senior; di antaranya yaitu fenomena circular citation, ‘numpang nama’, hingga penelitian yang tidak sesuai bidangnya.

Pertama, fenomena circular/group citation. Sebenarnya, tidak ada istilah baku tentang hal ini, istilah di atas tercetus dari hasil pengamatan selama penulis melakukan kajian dan penelitian. Skema yang terjadi seperti ini: Peneliti A melakukan penelitian terhadap suatu permasalahan, di saat yang bersamaan, koleganya (sebut saja B, C, dkk.) juga melakukan penelitian terhadap permasalahan yang berbeda. Sesudah selesai, mereka saling menyitasi (mengutip) hasil penelitian satu sama lain, yang tak jarang berbeda focus and scope-nya. Hal ini dilakukan terus menerus, hingga sitasi itu berputar di lingkaran (circle) yang sama. Pada hakikatnya, cara seperti ini sah-sah saja dilakukan, tetapi menurut hemat penulis, akan menjadi masalah jika terus dibiarkan tanpa disaring terlebih dahulu (asal mengutip, tidak mempertimbangkan relevansi kajian).

Kedua, fenomena ‘numpang nama’. Ini sudah menjadi rahasia umum, jika terdapat banyak oknum peneliti yang hanya sekadar menumpang nama tanpa ada kontribusi yang jelas di dalam penelitian. Baik itu sebagai formalitas untuk kenaikan pangkat dosen, mencari validasi, atau sekadar ingin tenar saja. Parahnya lagi, posisi yang diminta juga tidak bercanda, yaitu sebagai penulis pertama. Ketiga, penelitian yang tidak sesuai dengan bidang keilmuannya. Hal ini marak dijumpai pada jurnal-jurnal yang belum bereputasi (biasanya < Sinta 4), yang masih mencari artikel untuk diterbitkan dalam jurnal tersebut; atau pada jurnal-jurnal yang berorientasi pada uang, dengan sistem pay to publish. Dengan cara ini, baik peneliti maupun pengelola jurnal sama-sama melanggar batasan yang telah ditetapkan, salah satunya mengabaikan focus dan scope yang ada. Apa dampaknya? Banyak hasil penelitian yang tidak sesuai, bahkan terkesan abal-abal. Padahal, berulang kali mahasiswa diajarkan untuk selalu memeriksa latar belakang peneliti; mulai dari identitas, bidang keilmuan, hingga keahlian/spesialisasi. Kalau sembarangan mencatut, jangan-jangan tulisannya dibuat oleh orang yang bukan di bidangnya. Berdasarkan hal di atas, sangat penting untuk memerhatikan relevansi bidang keilmuan kita dengan permasalahan yang akan kita teliti.

Selain bidang keilmuan, seorang peneliti juga harus mempertimbangkan dan menentukan tempat pelaksanaan penelitian yang sesuai. Tidak semua penelitian dilakukan di dalam laboratorium dengan mengenakan jas lab dan kacamata pelindung, begitu juga sebaliknya, tidak semua penelitian harus dilakukan dengan cara turun langsung observasi ke lapangan, ada penelitian yang hanya mengandalkan sumber-sumber fisik berupa buku maupun referensi digital yang kini dapat dengan mudah diakses dengan satu kali klik. Terdapat tiga jenis tempat jika ditinjau dari aspek tempat pelaksanaan penelitian.

Pertama, penelitian laboratorium. Laboratorium (lab) merupakan salah satu tempat penelitian yang digunakan untuk menguji berbagai percobaan dan hipotesis sains, contohnya seperti penelitian di bidang kimia, biologi, dan bidang sains lainnya [4]. Kedua, penelitian lapangan (field research). Penelitian ini bekerja dengan cara mempelajari berbagai fenomena yang terjadi secara alamiah dalam lingkungan, sehingga data primer yang didapatkan tentulah berasal dari lapangan (tempat penelitian berlangsung)[5]. Ketiga, penelitian kepustakaan (library research). Penelitian jenis ini mengandalkan berbagai referensi dan sumber yang tersedia, baik berupa buku, jurnal, dokumen, kamus, ensiklopedi, dsb[6]. Pemilihan tempat penelitian yang sesuai juga menentukan keberhasilan suatu penelitian, oleh karena itu, selain bidang keilmuan yang harus sesuai, metode dan tempat pelaksanaan penelitian juga haruslah tepat, agar hasil penelitian sesuai dengan harapan.

 

SUMBER INSPIRASI

Ellen Mahendra Agatha, Dyva Claretta. “Program Pendayagunaan Masyarakat Pada Kegiatan Lmi Innovation Weeks 2023.” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 3, no. 1 (2023): 234–37. https://jurnalfkip.samawa-university.ac.id/karya_jpm/index.

Emda, Amna. “Laboratorium Sebagai Sarana Pembelajaran Kimia Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Ketrampilan Kerja Ilmiah.” Lantanida Journal 5, no. 1 (2017): 83. https://doi.org/10.22373/lj.v5i1.2061.

Harahap, Nursapia. “PENELITIAN KEPUSTAKAAN.” Jurnal Iqra’ 08, no. 01 (1385): 302.

Rahardi, Kunjana. “Konteks Dalam Perspektif Cyberpragmatics.” Linguistik Indonesia 38, no. 2 (2020): 151–63.

 



[1] Pendekatan kajian yang menggunakan beberapa disiplin ilmu secara bersamaan, tetapi dalam kerangka

   masing-masing.

[2] Pendekatan kajian yang menggabungkan beberapa disiplin ilmu yang melahirkan analisis

[3] Kunjana Rahardi, “Konteks Dalam Perspektif Cyberpragmatics,” Linguistik Indonesia 38, no. 2 (2020): 151–63.

[4] Amna Emda, “Laboratorium Sebagai Sarana Pembelajaran Kimia Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Ketrampilan Kerja Ilmiah,” Lantanida Journal 5, no. 1 (2017): 83, https://doi.org/10.22373/lj.v5i1.2061.

[5] Dyva Claretta Ellen Mahendra Agatha, “Program Pendayagunaan Masyarakat Pada Kegiatan Lmi Innovation Weeks 2023,” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 3, no. 1 (2023): 234–37, https://jurnalfkip.samawa-university.ac.id/karya_jpm/index.

[6] Nursapia Harahap, “PENELITIAN KEPUSTAKAAN,” Jurnal Iqra’ 08, no. 01 (1385): 302.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'Arablish: Mafi Musykilah!

  Khamis, dua puluh tiga hari bulan Juli, dua ribu dua puluh enam. Pukul dua puluh dua lewat enam. Aku sedang menulis catatan harianku yan...