TAHAPAN PENELITIAN BAHASA
Muhamad Hafidz Ar Rizki
Bahasa dan Sastra Arab
Adab dan Humaniora
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol
Padang
Penelitian di bidang bahasa merupakan salah satu upaya kompleks dan
sistematis untuk menjawab berbagai permasalahan di bidang kebahasaan dengan
pendekatan dan cara-cara ilmiah. Di samping itu, penelitian juga berfungsi
sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam melakukan penelitian,
seorang peneliti mestilah mengikuti alur/prosedur yang ada, mulai dari
merencanakan konsep penelitian, melaksanakan penelitian, hingga melaporkan
hasil penelitian. Akan tetapi, hal ini masih luput dari perhatian banyak
peneliti termasuk mahasiswa, karena hanya terfokus pada proses pelaksanaan
penelitian saja, tanpa memerhatikan tahapan-tahapan yang harus dilalui.
Ibarat menaiki anak tangga, haruslah dimulai dari anak tangga yang pertama,
kedua, ketiga, dan seterusnya; jika memaksakan langsung memijak anak tangga
kesepuluh, tentulah kita akan terjatuh. Dalam esai ini, penulis akan coba
mengurai tahapan-tahapan yang harus ditempuh sebelum melakukan penelitian,
serta komponen-komponen utama dalam penelitian bahasa.
Tahapan dalam melakukan penelitian terdiri dari tiga tahapan, yaitu
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Meskipun sumber-sumber lain
menggunakan istilah yang berbeda seperti pra-penelitian dan semacamnya,
substansinya tetap sama, yaitu proses yang dilalui pada saat sebelum, selama,
hingga setelah penelitian berlangsung. Pertama, tahap perencanaan. Ini
merupakan tahap pertama dari sebuah penelitian. Apapun jenisnya, metode dan
model yang digunakan, langkah pertama tetaplah melakukan sebuah perencanaan. Jika
dianalogikan dengan sebuah bangunan, maka kita perlu untuk merancang blueprint-nya [1]
terlebih dahulu, agar kita tidak keliru dalam memasang pondasi selanjutnya.
Sebagai seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi sejak SMA, penulis teringat
dengan satu ungkapan dari seorang pelatih di PMI [2]
dulu, yaitu “Perencanaan yang gagal, sama saja merencanakan kegagalan.”
Ungkapan ini tentu bisa dimaknai secara luas, bukan hanya dalam konteks
berkegiatan dan berorganisasi saja, tetapi juga dalam konteks penelitian yang
dilakukan. jika seorang peneliti tidak berhasil memetakan rencana
penelitiannya, maka dapat dipastikan penelitian tersebut tidak akan terarah dan
sitematis.
Kedua, pelaksanaan.
Setelah kita merancang dan merencanakan penelitian dengan matang dan maksimal,
langkah selanjutnya yaitu ‘mengeksekusi’ rancangan yg telah kita buat. Proses
pelaksanaan penelitian ini harus sesuai dengan jalur/koridor yang telah
ditetapkan pada tahap perencanaan, kalaupun ada hal-hal yang terjadi di luar
kendali, peneliti harus tetap bisa memastikan substansi penelitiannya tidak
melenceng dari apa yang Ia rencanakan. Ketiga, setelah selesai
melaksanakan penelitian, langkah terakhir yaitu membuat pelaporan. Pelaporan
bertujuan untuk mempertanggungjawabkan seluruh proses yang dilakukan, hasil
yang didapatkan, serta kendala yang dihadapi. Ini merupakan tahap terakhir, dan
biasanya dituangkan dalam bentuk laporan yang sesuai dengan pedoman penulisan
karya tulis ilmiah di instansi masing-masing (sesuai dengan gaya selingkung).[3]
Komponen-komponen utama dalam penelitian bahasa Arab yaitu masalah
penelitian, kajian teori, dan metode penelitian. Dimulai dari masalah
penelitian, seorang peneliti harus mengetahui bahwa pada hakikatnya, bahasa
menjadi objek utama dari sebuah penelitian bahasa.[4]
Oleh karena itu, masalah-masalah yang akan diteliti, haruslah berupa
masalah/fenomena kebahasaan. Masalah penelitian bisa didapatkan dari berbagai
sumber, seperti isu-isu yang sedang ‘hangat’, fenomena-fenomena kontemporer,
dll. Beberapa contohnya yaitu penelitian tentang relasi bunyi dan makna
(fonologi), analisis kontrastif antara kaidah nahwu Bashrah dan Kufah
(sintaksis), leksikon hewan dalam al-Quran (semantik), dan masih banyak contoh
yang lainnya.[5]
Selanjutnya yaitu kajian teori, berfungsi sebagai landasan untuk memperkuat
penelitian. Biasanya, di bagian ini dijelaskan teori-teori yang menjadi
landasan penelitian, baik itu linguistik umum (fonologi, morfologi,
strukturalisme, sistemik fungsional, dll.) maupun linguistik Arab (nahwu,
sharaf, balaghah, dll.)
Selanjutnya yaitu metode penelitian bahasa. Dimulai dengan
menentukan paradigm/pendekatan yang akan digunakan, apakah kualitatif,
kuantitatif, maupun campuran. Kemudian menentukan data dan sumber data; data
adalah objek yang akan diteliti, bisa berupa naskah/manuskrip, dokumen, teks
tertulis, media digital, maupun percakapan/wawancara dengan penutur/informan.
Sementara itu, sumber data merupakan tempat data diperoleh.
REFERENSI
Aisah, Siti. “Hakikat Penelitian Bahasa Indonesia,” 2021.
[1] Cetak biru; lembaran berisi gambar mendetail mengenai rancangan
bangunan yang akan dibangun.
[2] Palang Merah Indonesia
[3] Nabilah Bilqis, “Peran Guru Dalam Pendidikan Seks
Untuk Anak Usia Dini Di Taman Kanak-Kanak (Usia 5-6 Tahun),” Universitas Pendidikan Indonesia
(Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), 2021).
[4] Siti Aisah, “Hakikat Penelitian Bahasa Indonesia,”
2021.
[5] Rika Astari et al., Metode Penelitian Bahasa Arab Teori & Praktik (Yogyakarta:
Laksbang Pustaka, 2022).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar